Saturday, November 24, 2007

HIDUP / MATI [PART TWO]

Ini adalah bagian kedua dari cerita "HIDUP / MATI". Bagian pertama ada disini.
This is the second part of the story "HIDUP / MATI". The first part is right here.

All Characters and Events are mere fiction. All rights belong to Bambang Superwan.
---------------------------------------------------------------------------------------------

Hari itu adalah hari yang biasa saja. Langit ungu dan merah ber-aurora ria tanpa ada yang mengusik, tanpa ada yang mengagumi, bahkan, tanpa ada yang melihat ke atas. Aku hanya berdiri diam di bawahnya, begitu juga bermilyar-milyar orang lain. Aku tidak melihat wajah mereka satu per satu, karena terus terang saja, aku tidak peduli. Tapi menurut imajinasiku—yang tersisa akibat keteguhan memori Shella, aku bisa membayangkan kalau mereka adalah orang-orang yang sudah mati entah sekarang, atau di masa yang lampau. Ada orang-orang yang tua, ada yang sebaya denganku, dan bahkan ada anak-anak kecil. Mereka semua diam tak bergeming, hampir sama dengan apa yang aku lakukan sekarang. Hanya saja, sesuatu terjadi pada tubuhku, sedetik kemudian—bukan, sepersepuluh detik kemudian, ada sesuatu yang bersinar di sekelilingku. Semakin lama semakin terang... Aku menundukkan kepalaku, mencoba melihat tangan dan kakiku. Betapa senangnya aku, aku dapat melihatnya, dan bukan itu saja... Aku bersinar! Tubuhku bersinar. Akhirnya ini terjadi juga... sinar kuning ... persis seperti yang berada di atas tempat tidurku dulu...

***

“Shella...”

Wajahnya yang benar-benar sempurna melayang-layang di depan bola mataku. Tapi entah kenapa aku tidak bisa melihat tubuhnya... Mungkin sama alasannya aku tidak bisa melihat tubuhku sendiri. Aku memperhatikannya dengan lekat. Ia memandangku balik dengan senyuman yang begitu hangat. Perasaanku tidak pernah senyaman ini. Lalu aku merasakan jemarinya memelukku. Selama beberapa saat, aku berpikir kalau aku sudah berada di Surga, sebelum tiba-tiba semuanya berpudar. Wajah Shella menjadi mundur. Genggaman tangannya merenggang. Pemandangan ruang OR yang berada di bawah ku mulai mendistorsikan diri mereka. Tubuhku yang tergeletak di tempat tidur itu seakan kehilangan warna.

Tubuhku, dokter-dokter, dan ruangan itu berbaur menjadi warna-warna yang tak bisa kupahami. Aku bisa mendengar suara sayup-sayup di belakang ku, di depan ku, dari atas... dari segala arah. Aku mengenali beberapa suara. Aku yakin aku mendengar suara E.L ... “Dia dioperasi sekarang, aku tidak tahu.... aku harap...”, lalu ada beberapa suara lain yang tidak aku kenal, masing-masing berseru sesuatu tentang pernikahan, dan ada suara seorang anak yang memanggil ibunya. Dan suara itu datang mendadak.

Suara Shella memanggil-manggil namaku, “Alex, Alex, Alex...

Lalu sesuatu yang lebih aneh terjadi, ketika aku mendengar suaraku sendiri berkata membalas Shella, “Aku disini...

Aku terkuak diantara perasaan bingung, takut, dan bahagia. Aku melihat seorang wanita tua berbaring tak jauh dari pandanganku, sedangkan wajah Shella yang tadi semakin mundur menjauh. Aku tidak mengenal wanita tua itu, tapi entah mengapa aku merasa sesuatu bergolak ketika aku melihatnya. Tanpa sadar, aku bergumam,

Shella...

Tapi tidak ada yang terjadi, seakan tidak ada yang mendengar suaraku, tidak wajah Shella, tidak pula wanita tua yang lemah itu.

Bau tubuh Shella mendadak mengitari jiwaku. Aku mencoba menyentuh Shella yang masih mundur perlahan-lahan, tapi mendadak Shella tersenyum padaku dan aku bergerak mundur cepat sekali dengan Shella mengikutiku...

Tubuhku tertarik mundur dengan kecepatan tinggi, kedua bola mataku terkabur oleh kepekatan yang kental dan berpasir, namun tak ada butir-butir yang mengelus kulitku. Aku tidak merasa panas, tidak merasa dingin. Buta akan posisi tubuhku, kubayangkan diriku seperti tersedot dalam sebuah pipa raksasa, tak berakhir, tak berujung... Berjuang akan keberadaanku, aku memaksa mataku untuk dibuka.

Ruang di rumah sakit itu sudah menghilang, begitu juga bayangan wanita tua tadi. Wajah Shella yang mengikutiku perlahan-lahan juga memudar, sampai akhirnya terkikis oleh butiran pasir yang menyelubungi tubuh bergerakku.

“TIDAK!!! SHELLA!!!” Aku berteriak, namun entah mengapa, aku merasa seperti hanya diriku sendiri yang mendengarnya. Kemudian aku sadar, kalau teriakan itu bukanlah berasal dari mulutku, melainkan dari pikiranku. Aku sudah mati. Aku pasti sudah mati. Itu menjelaskan mengapa aku tidak mempunyai tubuh lagi tapi pikiranku masih melekat.

Aku tidak bisa berpikir lebih jauh lagi. Pipa tak berakhir itu tampaknya menjadi semakin rapat dan menekanku dari segala arah. Aku pasrah, membiarkan ia menarikku entah kemana. Pada saat itulah, aku mendengar sebuah deringan yang menyebalkan. Hampir sama seperti suara dering telepon, kecuali suaranya tidak terputus-putus dan volume suara ini begitu keras. Aku tidak bisa melihat lagi. Aku membayangkan tubuhku—kalaupun masih ada, sedang dibentur-benturkan kemana-mana dengan kecepatan tinggi. Rasa sakit yang rasanya tak mungkin berakhir itu membuatku hampir gila, jadi kaget sekali aku ketika semuanya berakhir secepat ia terjadi. Tahu-tahu, aku sedang melayang santai disebuah ketidakadaan. Aku membuka mataku dan kali ini, aku bisa.

***

Dengan perasaan gugup, aku melihat tubuhku menjadi utuh lagi. Kaki dan tanganku semuanya ada pada tempatnya. Masalahnya hanya satu, aku lah yang tidak berada pada tempatnya. Aku sedang melayang dengan posisi tubuh terlentang rileks, wajah menghadap atas—atau setidaknya kukira aku menghadap sesuatu yang pantas dikatakan atas. Sekelilingku semuanya adalah langit tak berlantai dan tak beratap. Semuanya berwarna ungu keputih-putihan. Ada sebuah fluida ungu yang memberinya warna, bukan gas, bukan cairan. Suasananya sunyi dan hening. Tidak ada orang disana.

“Halo, Alex.”

Aku memutar tubuhku sambil tersentak kaget. Ada seseorang lelaki di belakang kepalaku. Aku memperhatikan wajahnya. Ia memakai baju putih yang cemerlang, hampir bersinar sendirinya. Wajahnya sangat bersih, namun ia memiliki janggut coklat dan mata yang bersahabat, kelam, tapi ramah. Rambutnya lumayan panjang, bergelombang namun rapi. Ia juga melayang-layang, seperti aku.

“Apakah kamu Tuhan?” aku bertanya bego.

“Siapa? Aku? Bukan, aku bukan tuhan.” lelaki itu menuturkan kata-kata itu dengan tenang, tanpa ekspresi, datar namun terkesan ramah. Ada sesuatu yang aneh dengan lelaki ini. Aku bisa merasakan kedamaian ketika aku menatap matanya.

“Apa aku sudah mati?” Aku bertanya lagi, hampir putus asa menginginkan jawaban.

“Ya.” Dia mengangguk dan tersenyum. Nada bicaranya masih datar. Dan pada saat itu, aku akhirnya yakin kalau aku sudah mati.

“Dapatkah aku kembali?”

“Menjadi hidup lagi?” dia bertanya balik, lalu menjawab dirinya sendiri, masih sama datarnya. “Alex, kamu sudah meninggalkan tubuhmu dan kamu tidak bisa kembali ke dalam tubuh itu lagi.”

“Tapi aku bisa kembali, bukan? Sebagai hantu?” aku memaksanya.

“Hantu. Itulah yang kalian manusia di sana menyebutnya. Tidak ada yang namanya hantu, Alex. Kamu bisa kembali, ya, tapi kemungkinannya sangatlah kecil, dan tidak ada yang bisa kamu lakukan walaupun kamu berhasil kembali.”

“Mengapa?” tuntutku.

“Karena kamu tidak benar-benar kembali. Begini, apa yang kamu sebut dengan kembali sebagai hantu itu, hanya bisa terjadi ketika pikiran seseorang yang sudah mati masih terpaut pada suatu hal yang duniawi. Dan kamu tidak benar-benar bisa kembali kesana, hanya pikiranmulah yang bisa berkelana kembali ke dunia itu.”

“Aku tidak mengerti.” sahutku pelan.

“Tentu saja kamu tidak mengerti. Kamu tidak seharusnya mengerti anomali seperti ini. Rahasia penghubung dunia ini dengan dunia lamamu tidak terletak pada jiwamu, melainkan pikiranmu. Jiwamu akan berada bersama dirimu selalu, Alex. Pikiranmu lah yang bisa berkelana.”

“Jadi, kalau begitu, pikiranku bisa kembali?”

“Sayangnya, iya. Tidak banyak manusia yang bisa meninggalkan pikiran mereka, hanya beberapa yang bisa, ialah mereka yang mempunyai sebuah kualitas khusus ketika mereka mati.”

“Kualitas apa?” tukasku.

“Cinta.”

Aku memandangnya dengan tekun. Ia masih setenang tadi. Melihatku tak bersuara, ia lanjut berbicara.

“Mereka yang memiliki kualitas itu dapat meninggalkan pikiran mereka terikat di dunia manusia. Dan dengan melakukannya, mereka bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi dengan diri mereka di masa lalu kehidupan mereka, dan kadang bahkan masa depannya.”

“Jadi itulah yang ku lihat dan ku dengar...” sahutku pelan, lebih kepada diriku sendiri. “Masa lalu ku... masa depan ku...”

“Ya, itulah yang kamu lihat. Tapi itu hanyalah imprint dari pikiranmu, kejadian itu dapat senyata realitas, tapi mereka sudah terjadi, atau belum terjadi. Kamu sudah mati. Apa yang kamu lihat berbaring di masa depanmu?” untuk pertama kalinya, lelaki itu terdengar penasaran.

“Aku mendengar suara teman baikku, E.L, suara seorang anak, dan aku melihat seorang wanita tua berbaring.” aku menuturkan dengan lantang.

“Oh... begitu. Siapa sangka semesta ini begitu menarik?” Dan ia mendadak tersenyum.

“Apa maksudnya?” aku bertanya balik.

“Oh tidak, lupakanlah. Alex, ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Pikiran yang terpaut di dua dunia itu tidaklah baik. Kamu tidak bisa menjadi ‘penuh’ jika pikiranmu bergantung di tempat lain. Jadi dengan begitu, kamu harus mengambil keputusan.”

“Apa maksudmu?” tanya ku pelan.

“Di sebelah sana, ada sebuah garis. Kamu harus memutuskan apakah kamu mau menyebranginya atau tidak. Jika kamu menyebranginya, maka kamu akan memasuki dunia yang baru, dunia yang penuh dengan kedamaian, dunia dimana tempatku berada.” Ia tersenyum sejenak. “Tapi ketika kamu melangkahi garis itu, maka semua pikiranmu, baik yang tertaut di tubuhmu dan yang tertaut di dunia itu, akan hilang.”

“Aku harus memilih?” aku bertanya pelan.

“Ya. Dan pahamilah, Alex. Semua ingatan akan Shella akan hilang, sehingga kamu tidak mungkin bisa kembali lagi.” Dia memandangku dengan lekat untuk pertamakalinya seakan mengatakan kalau dia tahu semuanya tentang diriku, tentang Shella dan semuanya.

“Apa yang terjadi kalau aku memilih untuk tidak melewati garis itu?” tanyaku balik setelah beberapa saat.

“Maka kamu akan terkirim ke sebuah tempat dimana manusia-manusia yang lain berada, dimana manusia-manusia yang juga memilih untuk tidak menghapus ingatan mereka berada. Mereka juga memilih untuk mempertahankan memori mereka, tapi kalau itu terjadi, kalau kamu memilih jalan itu, maka tidak ada yang tahu kamu akan terkurung disana untuk berapa lama. Dan pahami juga ini, Alex. Begitu kamu disana, kamu tidak bisa mendapat pilihan ini lagi, dan ini yang terpenting, kamu akan dikirim ke sebuah tempat yang akan memakan ingatanmu secara perlahan-lahan, sehingga pada akhirnya, kamu akan melupakan Shella juga. Dan pada saat itu, kamu akan menjadi sebuah jiwa yang ‘kosong’ untuk selamanya.”

Aku menelan ludah.

“Pikirkan lah baik-baik, Alexander.”

Lalu lelaki itu mundur dan mulai menghilang, dan pada saat bersamaan, sebuah garis perak muncul di hadapanku. Garis yang mungkin terbuat dari gas yang dipadatkan.

“Tunggu! Berapa lama waktuku?” aku bertanya panik.

“Kamu akan tahu begitu kamu sudah memutuskan.” katanya pelan, datar, dan anehnya, dengan sedih.

“Siapa kamu?” aku bertanya lagi.

“Aku hanyalah seorang Pembawa (baca : Carrier). Aku bertugas mengantarkan kamu Alex, tapi sayangnya, aku tahu pasti apa jalan yang akan kamu ambil.” Sedetik kemudian, Pembawa itu menghilang.

Aku melayang disana, ragu-ragu selama beberapa detik. Aku mencoba mendekati garis itu. Aku bisa melakukannya. Ketika aku semakin dekat kesana, aku berhenti mendadak. Lalu aku hanya berhenti saja.

Sebuah jalan menuju kedamaian tanpa Shella dan jalan lain menuju Shella, yang seram dan pada akhirnya akan membuatku melupakan Shella. Aku menutup mataku rapat-rapat selama beberapa lama. Dan ketika aku membukanya lagi, garis itu sudah tidak ada disana lagi.

***


Pada detik aku menyadari kalau garis itu sudah hilang, aku terjatuh kedalam sebuah terowongan lain. Kali ini terowongan itu terasa sangat kasar. Ada butiran-butiran kristal yang menggesek kulitku. Aku merasa dingin sekali. Tubuhku gemetaran. Aku tahu, kalau aku sedang ditransfer ke ‘tempat’ mereka yang memilih keputusan yang sama denganku. Aku bertanya-tanya ada berapa orang yang berada di tempat itu, dan apakah mereka orang-orang yang ramah.

Aku mendarat di sebuah lantai keras berwarna ungu campur merah. Aku berdiri saja. Tidak ada tanda-tanda bahwa aku baru saja terjatuh dari langit atau apa. Tidak ada tanda-tanda kalau aku baru mengerem dengan cepat. Aku hanya berdiri saja di suatu tempat yang baru. Aku sudah sampai.

Mataku terbelalak. Aku sedang berdiri di tengah-tengah kumpulan ribuan, jutaan, bukan.... milyaran manusia yang umurnya bervariasi dari anak kecil sekitar sepuluh tahunan sampai orang tua sekitar seratus tahunan. Aku berpikir keras dalam hati. Kukira hanya sedikit manusia yang pikirannya terpaut di bumi. Kukira hanya sedikit manusia yang memiliki cinta di kehidupannya. Jika ini adalah sedikit menurut si Pembawa, aku tidak bisa membayangkan bagaimana maksudnya dengan kata ‘banyak’.

Semua manusia di tempat datar nan luas ini berdiri diam seakan mati, tidak bergeming, tidak melihat diriku. Pandangan mereka tampaknya terfokus akan sesuatu dan wajah mereka semua tanpa ekspresi. Aku bertanya-tanya apakah aku juga demikian. Lalu aku sadar kalau mereka semua telanjang. Dan aku juga telanjang. Aku sudah telanjang sejak aku berbicara dengan si Pembawa itu. Tapi tampaknya aku tidak peduli. Aku juga tidak merasa malu. Semua itu tidak penting.

Aku bertanya-tanya apakah mereka sudah kehilangan pikiran dan kesadaran mereka. Apakah mereka sudah berada disini begitu lamanya, sehingga mereka sudah melupakan apa itu hidup. Dan apakah aku akan menjadi seperti mereka? Kosong.

“Hello?” Aku mencoba berbicara, tapi tidak bisa kugerakkan mulutku. Aku tidak mendengar suara apapun. Mungkin suara itu hanyalah pikiranku saja, atau mungkin ditempat ini gelombang suara tidak bisa merambat. Aku mencoba melihat ke atas, ke langit, dan walaupun kepalaku tidak bisa mendongak, aku bisa melihat langit. Langitnya sama persis dengan lantai. Sebuah fluida berwarna ungu dan merah berputar-putar, menari-nari seperti Aurora di bumi. Dimana aku?

Aku mencoba menggerakkan tubuhku tapi tidak bisa. Aku mencoba menangkap pandangan manusia lain, tapi tidak bisa. Lalu sesuatu terjadi di kejauhan. Di ujung sudut mataku, ada sesuatu yang tiba-tiba bersinar. Cukup lama untuk aku menyadarinya. Lalu cahaya kuning itu padam. Aku menutup mataku dan kali ini, aku bisa melakukannya.

Betapa terkejutnya aku, wajah E.L mendadak hadir di depanku.

***

“Shella, kamu kelihatan cantik sekali.” E.L berkata padaku. Aku tersentak kaget, namun akhirnya menyadari kalau E.L sebenarnya memandang seseorang di belakang tubuhku. Aku berbalik dan menerima shock lain. Aku melihat Shella yang memakai gaun merah memukau. Namun dia bukan lagi Shella yang aku kenal dulu. Dia pasti sudah berumur tiga puluhan, walaupun wajahnya yang cantik masih sama manisnya dengan Shellaku. Aku melihat dia sedang tersenyum dengan puas. Sepertinya ini hari yang sangat berbahagia baginya.

“Thanks, Erick. Kamu benar-benar teman yang baik, mau datang jauh-jauh dari California hanya untukku.”

Suara Shella yang lebih dewasa membuatku bergetar dalam hati. Tampaknya mereka tidak bisa melihatku. Aku merasa tubuhku hanyalah bagaikan bayangan tak nyata yang bisa mendengar dan melihat mereka, tapi tidak sebaliknya. Hanya pikiran. Lalu tubuhku bersinar. Semua sel di tubuhku mengeluarkan cahaya kuning yang hanya aku yang bisa melihatnya.

Aku berbalik menatap E.L. Sahabat baikku juga sudah jauh lebih dewasa dan sukses. Dia memakai jas yang membuatnya tampak seperti orang kaya.

“Tentu saja aku harus datang melihat teman terbaikku merayakan 10 tahun anniversari pernikahannya. Dimana suamimu, dimana Vinc? Aku mesti memberinya selamat. Dia bahkan belum tahu aku datang.” sahut E.L

Tiba-tiba ada sebuah suara melengking dan seorang yang kecil berlari menabrak Shella.

“Mama! Mama, lihat, aku bisa menerbangkan pesawatku ini!” sahut bocah itu girang, memperlihatkan pesawat remote controlnya terbang melayang-layang. Dia tidak mungkin lebih tua dari 8 tahun.

“Oh, Alex. Jangan ganggu mama dulu. Mama mau bersiap-siap untuk pesta. Ayo pergi main ke atas.” sahut Shella penuh kasih sayang pada anak itu. Aku memandang anak Shella dengan kagum. Ia punya mata ibunya yang hangat.

“Kau tahu, Shel? Alex pasti akan bahagia kalau dia tahu keadaanmu sekarang.” kata E.L. Shella memandang E.L dari dekat, lalu Shella tersenyum padanya, senyum yang begitu aku rindukan.

“Aku rindu padanya, Erick. Terutama hari ini, entah mengapa aku selalu ingat padanya. Dan iya, aku tahu dia pasti bahagia aku punya hidup sebaik ini. Itulah yang dia mau.”

Aku tidak bisa menggambarkan perasaanku, tapi jika aku harus menjelaskannya, aku merasa tercabik diantara perasaan sedih dan euforik. Aku begitu bahagia karena Shella selamat dari kecelakaan itu. Belum lagi karena dia berhasil menjalani hidup yang bahagia.

Aku mengerti kalau aku harus kembali, maka aku tersedot ke belakang, seperti yang sudah sering aku alami. Lalu beberapa saat kamudian aku membuka mataku. Aku kembali memandang milyaran manusia kosong di hadapanku. Perkataan Shella masih mengiang-ngiang di benakku. Begitu juga wajahnya, wajah teman baikku, wajah anak Shella yang namanya diberikan berdasarkan namaku.

Sementara aku terhanyut dalam kebahagiaan yang diberikan memoriku, aku tidak sadar aku sudah berdiri berapa lama. Hari dan Bulan berganti, tahun berselang seperti satu hari. Aku masih tetap berdiri. Hidup bahagia dalam kenanganku... sebelum mereka menghilang selamanya.

***

Rasanya sudah lama sekali aku berdiri, tapi aku tidak tahu sudah berapa tahun berlalu, berapa abad... aku berdiri dengan perasaan kosong. Aku tidak peduli dengan sekitarku lagi. Aku tidak ingat wajah E.L lagi. Aku tidak berkedip. Aku hampir kosong.

Pikiranku merambat dengan sangat lambat. Aku susah berpikir, tapi di dalam lubuk hatiku, aku tahu kalau aku harus berjuang. Aku tidak akan membiarkan tempat ini memakan habis semua memoriku. Aku harus memikirkan Shella, karena hanya dialah satu-satunya yang tersisa di pikiranku. Lalu aku memejamkan mata, tahu benar kalau ketulusan pikiranku akan membuka jalan kembali menuju dunia manusia...

***

Aku melayang-layang di sudut kiri atas sebuah ruangan yang tampak familiar. Sebuah OR. tapi ini bukan OR tempat aku mati dulu. Ini ruangan yang lain.

Aku melihat ke sekeliling. Ada seorang wanita tua berbaring di tempat tidur. Dua dokter muda disampingnya. Aku melayangkan pandanganku menembus ruangan itu, menuju ruangan lain. Aku melihat seorang laki-laki tua sedang duduk, pandangannya cemas. Seorang lelaki tua lain yang wajahnya mirip E.L berdiri di depannya. Aku tahu siapa lelaki yang satu lagi. Dia suami Shella, Vinc. Lalu seorang laki-laki 40 tahunan yang matanya mirip dengan mata Shella tiba menghampiri E.L. Alex sudah dewasa.

Aku kembali masuk ke ruangan operasi dimana Shella sedang berbaring. Dia sudah sangat tua dan lemah. Aku mendekatinya dan tubuhku bersinar lagi. Cahaya kuning keluar sekali lagi dari setiap senti tubuhku. Aku diselimuti berbagai perasaan seperti kali itu. Aku merasa sedih dan senang. Aku melihat mata Shella yang terpejam. Aku tahu kalau waktu Shella sudah habis di dunia ini. Dia akan segera menyusulku.

Shella...” aku mencoba berseru, tanpa ada suara yang keluar.

Tubuhku yang bersinar sama sekali tidak memberikan efek apa-apa bagi dokter yang menanganinya. Mereka berusaha mengembalikan nafas Shella, namun aku tahu kalau dokter itu pasti sudah sadar juga kalau Shella sudah pergi. Aku melihat kedua dokter itu menghela nafas. Mereka saling memandang, lalu dokter yang lebih tua berseru,

“Katakan, Dok.”

“Waktu kematian, 23.45.” seru dokter yang lebih muda dengan pahit. Lalu dia menutup wajah Shella, membiarkan dia istirahat untuk terakhir kalinya.

***

Hari itu adalah hari yang biasa saja. Langit ungu dan merah ber-aurora ria tanpa ada yang mengusik, tanpa ada yang mengagumi, bahkan, tanpa ada yang melihat ke atas. Aku hanya berdiri diam di bawahnya, begitu juga bermilyar-milyar orang lain. Hanya saja, sesuatu terjadi pada tubuhku, sedetik kemudian—bukan, sepersepuluh detik kemudian, ada sesuatu yang bersinar di sekelilingku. Semakin lama semakin terang... Aku menundukkan kepalaku, mencoba melihat tangan dan kakiku. Betapa senangnya aku, aku dapat melihatnya, dan bukan itu saja... Aku bersinar! Tubuhku bersinar. Akhirnya ini terjadi juga... sinar kuning ... persis seperti yang berada di atas tempat tidurku dulu... persis seperti ketika aku melihat masa depan Shella dulu.

Lalu dari ribuan manusia di hadapanku, aku melihat sebuah bayangan hitam, semakin lama semakin jelas. Efeknya sama persis seperti mimpiku dulu. Ah, rasanya sudah berzaman-zaman yang lalu. Lalu bayangan hitam itu memudar dan memuda. Aku bisa melihat wajah Shella. Karena seperti aku, dia juga bersinar. Dia tersenyum. Sebuah senyum yang sangat gemilang dan memabukkan.

Shella sama sekali tidak bertambah umur. Dia tampak sama seperti ketika aku mati dulu, hanya tanpa luka segorespun, dia sempurna. Telanjang dan bersih, dia berjalan menuju aku. Aku mencoba melangkahkan kakiku. Aku bisa melakukannya. Aku berjalan menujunya. Kami berjalan menuju satu sama lain. Pelan dan tanpa berlari, mata kami bertemu di sepanjang waktu. Aku bisa melihat kerinduan bersimbah dari matanya.

Lalu ketika kami sudah begitu dekat, aku mencoba berbicara.

“Hai.” kataku tanpa ada suara yang keluar. Tapi itu tidak masalah, karena Shella mendengarnya.

“Hai.” balasnya manis.

Aku menggandeng tangannya. Dan ketika aku melakukannya, semua manusia lain yang berdiri di sekitar kami menghilang dalam sekejap, dan sebagai gantinya, ada sebuah garis perak yang indah terbentang di hadapan tubuh kami yang bersinar. Aku terpana.

Si Pembawa berdiri di seberang garis itu, memandangku dengan penuh senyuman bahagia. Aku menoleh pada Shella, yang mengiyakanku, seakan tahu persis apa yang harus kami lakukan. Aku menggenggam erat tangan Shella, dan kami menyeberang melewati garis itu.

Aku tidak perlu kedamaian yang dijanjikan si Pembawa.
Aku sudah memilikinya bersama Shella di sisiku.


S E L E S A I



P.S : Cerita ini terinspirasikan oleh lagu David Gates yang berjudul Find Me.

Ini teks lagunya. Lihat bagaimana cerita ini dibuat from Song to Script :D

Find Me

The skies are not as blue, when you're not with me
The stars, they never seem to shine as bright
And the hours crack like days across the ages
And a year or two pass by with every night.
It makes me know if i should ever leave this world before you do
When you follow you must promise, cross your heart and promise to

Find me...look hard, and dont stop, I'll be waiting 'till then
Dont sleep, and dont eat 'till I'm back, back in your arms again
I dont wanna have to spend all my forever without you.
Just knowing that your out there somewhere too.
So darlin...please I'm begging you on bended knee...
Find me...

I've tried to tell this world how much i love you.
But they dont understand how deep it goes.
And i can't even find the words to tell you
So I'm the only one who really knows.
And though we have our times together, I am always wanting more
So if we get separated wont you do just like before and

Find me...look hard and dont stop, I'll be waiting 'till then
Dont sleep, and dont eat 'till I'm back, back in your arms again
Through a hundred million faces you will see me shinning through.
'Cause I'll glow when you come close , I always do.
So darlin' please im begging you on bended knee..
We can share our love through all eternity
'Cause with you is all i ever wanna be......
Find me


Trivia :

Berdasarkan penelitian para ahli tentang hidup setelah kematian, kebanyakan manusia yang mati suri (dinyatakan mati secara medis dan hidup kembali) menunjukkan pola yang sama, dimana mereka semua mengalami "petualangan di luar tubuh", "melihat tubuh mereka yang terbaring", "memasuki terowongan panjang", "mendengar dering-dering bunyi yang menyebalkan", "bertemu sebuah mahluk cahaya yang memberitahukan masalalunya", dan "melihat sebuah garis perbatasan antar dunia".

Saya (penulis) mempercayai bahwa ada kehidupan setelah kematian, dan apa yang ada di dalam cerita ini tidak sepenuhnya imaginasi belaka.

Cerita Oleh : Bambang Superwan.

------------------------------------------------------------------------

Monday, November 19, 2007

HIDUP / MATI [PART ONE]

Ini adalah bagian pertama cerita "HIDUP / MATI". Bagian Kedua ada disini.
This is the first part of the story "HIDUP / MATI". The second part is right here.

All Characters and Events are mere fiction. All rights belong to Bambang Superwan.

----------------------------------------------------------------------------------------

Tubuhku tertarik mundur dengan kecepatan tinggi, kedua bola mataku terkabur oleh kepekatan yang kental dan berpasir, namun tak ada butir-butir yang mengelus kulitku. Aku tidak merasa panas, tidak merasa dingin. Buta akan posisi tubuhku, kubayangkan diriku seperti tersedot dalam sebuah pipa raksasa, tak berakhir, tak berujung...


***


Aku membuka kelopak mataku, sebelum sepancar sinar kuning yang menyilaukan memandikan retinaku. Tapi sinar itu memudar perlahan-lahan, menyisakan sebuah bayang-bayang kehitaman, sungguh kabur. Meskipun demikian, aku tahu persis apa yang ada di balik bayangan itu, karena beberapa detik kemudian, ia tersenyum padaku.

“Kamu kelihatannya melongo.” suaranya merambat sampai ke telingaku, lambat namun pasti. “Benar-benar seperti saat pertama kali kita bertemu, kamu ingat tidak?”

Aku tidak langsung menjawabnya, tapi mengubah ekspresiku dan melihat sekeliling. Sinar kuning itu berasal dari lampu terang di atas tempat tidurku, dimana aku sedang terbaring. Dan bayangan hitam itu adalah wajah Shella, yang tersenyum dan sempurna, hal terbaik yang bisa kudapat pada saat-saat seperti ini.

“Tentu saja aku ingat, Shel, hari itu adalah hari terbaikku, aku merasa seperti orang yang paling beruntung di dunia, dan sejak itu hidupku berubah 180 derajat. Semuanya karena aku bertemu denganmu.” aku merasa seperti ada sebuah kehangatan menjalar di sela-sela pembuluh nadiku, memberiku kekuatan. “Berjanjilah padaku kamu tidak akan meninggalkanku, Shella.”

Shella mendekatkan duduknya dengan tubuhku, lalu dengan nyaman, ia meraih jemariku, menggumpalkan mereka dengan telapak tangannya, dan aku merasa kehangatan yang tadi kurasakan saling berbagi dengan kehangatan yang ia punya. Aku merasa satu, kami serasa satu.

Tapi segalanya mulai terasa redup, volume suaranya juga mengecil.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, janji.”

***

Aku membuka kelopak mataku, segera setelah sepancar sinar kuning menembus masuk memandikan retinaku.

“Nyata sekali... tadi benar-benar terasa begitu nyata.” Aku mencoba mengepalkan tanganku, mencari-cari kehangatan yang tadi menenangkan jiwaku, tapi jari-jariku terasa begitu dingin. Jantungku berdegup kencang, tapi aku tahu, aku tahu tidak ada bayang-bayang hitam di depan mataku kali ini. Aku melihat sekeliling, sinar kuning itu berasal dari lampu yang berada di atas kepalaku, yang seperti tubuhku, terbaring di atas sebuah tempat tidur serba putih. Ruangan itu kosong, sunyi dan hening.

Aku mengulurkan tangan kananku ke udara, perlahan dan menyakitkan. Kegelapan menyelubungiku, menghadiahkan kesadaran akan apa yang telah terjadi, yang dalam sekejap berubah menjadi banjir kecemasan. Aku panik, aku mencoba untuk berdiri. Aku harus menemukan dia, apa yang terjadi dengan Shella?

“Arrgh!”
Rasa sakit yang menyengat menyerang pinggangku, aku menyentuhnya dengan tangan kananku, yang baru pada saat itu kusadari, ada sepucuk jarum dibawah kulitku, dibawah sebuah perban putih di lenganku. Mereka juga sudah membalut pinggangku. Tapi aku tidak peduli. Satu-satunya hal yang penting di dunia ini adalah menemukan Shella.

Lalu pintu kamarku terbuka dan segera dua perawat dan E.L menerobos masuk.

“Alex, kamu tidak boleh bergerak dulu.” aku dengar suara teman baikku bergetar dalam kepedihan.

“E.L, dimana Shella?” pintaku dengan nafas berat. Dua perawat itu memaksaku untuk kembali berbaring.

“Dia di OR 1, dia sedang di operasi.” sahut E.L pelan, seakan membenci dirinya sendiri karena memberitahuku hal ini.

“Apa dia akan baik-baik aja?”

“Keadaannya lebih kritis dari kamu, Lex, tapi dokter bilang mereka akan berusaha sebaik mungkin.”

Aku memalingkan wajahku, menatap lampu kuning yang lama-lama menjadi putih, putih menyilaukan. Tapi aku tidak memejam mataku, atau bahkan memutar arah pandang.

“Semua itu salahku. Aku seharusnya tidak membawa Shella ikut diatas mobil itu. Kupikir dia akan senang, kupikir ia akan kukejutkan...”

“Alex, jangan salahkan dirimu, kamu tahu kalau semua ini adalah kecelakaan. Truk itu datang menghantam kalian tiba-tiba. Kalau ada seseorang yang bisa disalahkan, supir truk itulah yang pantas.”

Aku hampir tidak mendengarnya. Kilasan balik peristiwa itu begitu jelas di benakku. Hantaman kuat entah dari mana, suara klakson yang memekikkan, di sela-sela jeritan Shella, ketika tubuhku terasa berputar dan berat. Dalam sepersekian detik, Shella dan aku, mata kami bertemu...

Semuanya terjadi begitu cepat.

“E.L, apa yang terjadi dengan aku? Aku merasa jari-jariku dingin sekali.”

Dua perawat itu memandang E.L dengan penasaran, E.L sendiri tampak membatu, bisu seribu bahasa. Aku tidak bisa mengartikan pandangannya, tapi jelas-jelas E.L tahu sesuatu. Tapi akhirnya dia membuka mulutnya.

“Kamu dengar dari dokter saja, ya?”

“Tidak, E.L, aku mau mendengarnya dari sahabatku... katakan saja... apa aku akan mati?”

“...”

“E.L...”

“Sejujurnya, dokter bilang, selain merusak ginjalmu, logam yang tertancap dari pinggang my tadi juga mengakibatkan sesuatu pada jantungmu.” E.L mengakhiri kata-katanya dengan suram.

Aku memindahkan jemariku, menyentuh dada kiriku tanpa sadar. Tertunduk, aku tidak bisa berkata apa-apa kecuali,

“Apa maksudnya?”

“Sebagian kecil otot jantungmu kehilangan kinerjanya sama sekali, dan dokter ahli bedah saraf bilang kalau ia tidak bisa memperbaikinya tanpa resiko besar kamu gagal jantung.”

“Apa maksudnya itu, E.L?”

“Maksudnya, Alex... jantung kamu kehilangan kekuatan perlahan-lahan setiap harinya, dan pada akhirnya akan berhenti berdetak.”

Sunyi senyap melanda ruangan itu. Jika ada angin berhembus, tidak ada yang bisa merasakannya. Aku memandang wajah teman baikku sepenuh-penuhnya seperti aku belum pernah melihat dia sebelumnya.

“Apa Shella tahu akan hal ini?” aku bertanya. E.L memandangku, aku mencoba menilai ekspresinya selama beberapa detik.

“Tidak.” katanya akhirnya. “Dia tidak tahu.”

“Aku mau menemuinya, E.L.”

***


Aku tidak ingat lagi kapan aku pernah merasa sesedih, se-menyesal, dan se-ngeri ini. Ketika aku melihat keadaan Shella, aku tahu semuanya tidak akan sama lagi. Tapi semua kecemasan itu tidak cukup kuat untuk mengalahkan kecemasanku yang paling utama. Aku benar-benar berharap Shella bisa bangun lagi. Operasi yang ia jalani sekarang adalah operasi pertama dari serangkaian operasi untuk memperbaiki kembali sistem saraf di tulang belakangnya. Ia menderita sangat parah, dan tidak ada yang bisa kulakukan untuknya sekarang, selain menatap wajahnya yang terlelap, tak sadarkan diri.

Dokter bedah di OR1 memarahi perawat yang membawaku kesana, bersikeras supaya aku keluar dari sana. Maka mereka membawaku kembali ke kamarku. Aku sendiri merasa sangat lemah, seperti akan jatuh dan membiarkan diriku terkapar di lantai rumah sakit selamanya... Hanya satu hal yang membuatku tetap bertahan, hanya satu orang yang membuatku bertahan, dan dia sendiri sedang berjuang di kamar sebelah...

Beberapa waktu berlalu tanpa aku mengerti... menit, jam, hari... semuanya tampaknya tak penting lagi, dan masih saja aku belum bisa bertemu dengan Shella yang sadarkan diri. E.L terus-menerus mendukungku dan memberiku semangat. Suatu sore, dia bilang kalau Shella sudah sadarkan diri dari operasi pertamanya, tapi aku harus menunggu beberapa saat sebelum boleh bertemu dengan dia. Aku tidak mendengar perkataan E.L yang berikutnya karena aku begitu lega Shella—setidaknya—selamat dari operasinya yang paling berbahaya. E.L tampaknya tidak menyadari bahwa aku tidak begitu mendengarnya lagi, karena dia sedang tegang menceritakan operasiku berikutnya, tentang sesuatu bernama L-VAD yang dipasangkan dalam tubuhku untuk membantu jantung lemahku memompa darah. Aku hanya mengangguk tanpa sadar.


Malam itu rasa sakit yang menyerang dadaku tak terbayangkan. Mesin yang berkedip-kedip di sebelah tempat tidurku berteriak-teriak mengakibatkan perawat-perawat dan beberapa dokter menyerbu masuk.

“Dia kena serangan jantung.” aku mendengar seseorang berkata.

“Shella...” aku mengerang.

“Dok, dia sudah sadarkan diri.”

“Shella, bawa aku.... kepadanya...” aku terus mengerang tapi tampaknya mereka terlalu sibuk untuk menanggapinya.

“Kita harus melakukannya sekarang, Penny, siapkan OR untukku.”

“Baik Dok.”

Aku melihat cahaya kuning kehitam-hitaman mengedip-ngedip di kepalaku, hampir seperti ketika mataku menatap sesuatu yang menyilaukan. Sementara tusukan jarum menguji ketahanan jantungku, aku disorong menuju ruang operasi. Dengan mata yang terpejam, aku terus menyeru-nyeru nama Shella.

“Dia tidak bisa tenang. Perawat, bawa pasien 602 ke OR. Kita akan membutuhkan bantuannya menenangkan dia.”

Aku mendengar seseorang berlari, pintu dibuka, dan kemudian aku tak tahu apa-apa lagi.

***

Ketika mataku bisa dibuka, hal pertama yang aku lihat adalah wajah Shella yang pucat dan suaranya adalah suara terindah yang pernah kudengar.

“Hai.”

Ia tampak lelah, terbaring di sebelahku. Walau kami terpisah tempat tidur, dia mengulurkan tangannya dan menggenggam tanganku yang dingin. Aku merasa hangat. Dia tersenyum padaku seolah itu adalah pagi yang indah, awal hari yang baru, dan kami hanya berdua.

Namun, dengan luka bakar di lengan kanannya, keningnya yang bengkak, dengan pakaian pasien kami yang sama jeleknya, dengan suara perawat-perawat yang sibuk mempersiapkan peralatan operasi, kami tahu kalau waktu kami untuk bercakap-cakap tidaklah banyak.

“Shella, sorry yah...”

“Hei...” Shella menggenggamku dengan lebih erat, seakan-akan mengatakan bahwa apa yang terjadi padanya bukanlah salahku. Aku merasa rasa sakit di dadaku berkurang sedikit. “Kamu akan baik-baik saja, Alex, dan kita akan bersama lagi.”

“Shel, hehe...” mendadak aku tertawa. Aku tak tahu mengapa aku melakukannya, tapi Shella juga tertawa bersamaku dan aku merasakan pandangan dokter-dokter di belakang kami memandang dengan penasaran.

“Jangan mati yah...”

“Haha... Ouch...” aku menyentuh dadaku dengan tanganku yang lain, yang sakit karena tawa tadi. “Aku tak akan mati, ini hanya operasi... kamu sudah mengalami punyamu, dan sekarang giliranku.”

“Lex, aku ingin kamu tahu kalau kamu akan sembuh... 100%.”

Perkataannya membuatku ingat akan apa yang dikatakan E.L, bahwa aku tidak akan bisa sembuh seperti sedia kala lagi, karena lambat laun, jantungku akan berhenti.

“Shel, apa kamu takut akan kematian?”

“Alex, jangan bilang begitu...” Aku menggeleng-geleng, tetap memandang mata coklatnya yang hangat.

“Jawablah Shel...” Shella memandangku dengan serius.

“Tidak, tapi aku takut kehilangan kamu... jadi jangan memikirkan yang seperti itu yah...” sahutnya manis.

“Aku tidak akan meninggalkan kamu... dan aku tahu kamu juga begitu... Shel... tahu nggak, beberapa malam lalu aku memimpikanmu lo... aku rasa waktu kecelakaan itu terjadi... kamu duduk di samping aku, dan kamu baik-baik saja... dan kamu menggenggam tanganku... dan rasanya hangat sekali... seperti sekarang, yah... dan aku tahu... aku tahu kita tidak akan berpisah... walaupun jika aku mati... karena kamu akan menemukan aku, iya kan?”

“Alex...”

“Kalau aku pergi duluan, aku mau kamu berjanji, Shel... berjanjilah kalau kamu tidak akan mati di tempat ini.. kamu akan terus hidup... dan kamu akan menikah dengan orang lain...”

“Alex, hentikan...” aku melihat air mata menggenangi bola matanya. Shella tidak tahu kalau aku tidak punya harapan lagi, tapi aku tahu... dan aku ingin dia mendengar apa yang aku bilang... “hentikan Alex, kamu akan baik-baik aja... kamu tidak akan mati.. karena dokter akan menjagamu baik-baik...”

“Dengarlah, Shel... kamu nanti akan punya keluarga... punya anak dan cucu... dan ketika waktumu sudah habis di dunia ini... aku akan menunggu mu... maka berjanjilah padaku satu hal... carilah aku nanti...”

“Alex...”

“Carilah aku nanti... jangan makan....jangan pergi... carilah aku sampai kita bertemu lagi... sampai ketika aku menggenggam tanganmu lagi... carilah aku nanti, karena aku akan menunggumu. Berjanjilah, Shella.”

“A.. Aku janji...”

Dan ketika suaranya merambat memasuki hatiku, aku tersenyum padanya... karena aku tahu kalau semuanya akan baik-baik saja... untuk pertama kali sejak kecelakaan ini... aku akhirnya bisa tenang.

Shella terisak, ketika dokter berusaha melepaskan kami dan membawaku menuju meja operasi untuk dibius... aku tidak mau melepaskan tangan Shella, dan begitu juga dia... Pandangan di matanya menjelaskan semuanya... aku tahu ... saat itu dia juga tahu kalau aku tidak akan selamat dengan jantung ini...

Rasa sakit tubuhku membuatku tidak bisa berbicara lagi... Dadaku memberontak, ototku menjerit, dan aku terpaksa menutup mataku. Penglihatanku semakin kabur, dan ketika kelopak mataku hampir bersentuhan... wajah Shella yang menjadi bayang-bayang hitam... sama seperti didalam mimpiku... memudar perlahan-lahan...

***

Aku terbangun di sebuah kegelapan luas tak berlantai dan tak berdinding. Buta dan sunyi, aku berusaha bergerak-gerak. Tubuhku masih ada... aku telanjang. Aku mencoba melihat kakiku, hendak mengecek aku menginjak apa, tapi aku tidak bisa menemukannya dengan mataku. Aku bisa menyentuh kakiku, tapi sepertinya aku tidak bisa menyentuh lantai.

Lalu aku ingat akan Shella. Aku ingat kalau dia ada bersamaku di ruang operasi tadi... dimana dia? Aku mencoba meneriakkan namanya. Tak ada suara yang keluar. Aku berteriak lebih keras. Tapi tetap tidak ada suara yang keluar. Mungkin mulutku tak bisa bergerak sama sekali. Lalu sesuatu terjadi di sudut kiri atas penglihatanku... atau mataku... di sudut kiri atas dari ketidakadaan, ada sebuah lubang. Lingkaran putih yang menyilaukan. Sungguh kontras dari kegelapan yang pekat ini.

Aku berusaha mendekatinya. Aku tidak berjalan, tidak merangkak, tidak melayang, tidak melakukan apa-apa, tapi aku berusaha mendekatinya. Dan lubang itu semakin dekat semakin besar. Aku menggapainya, memasukkan jariku kedalamnya, lalu lubang itu bertambah besar. Bertambah besar dengan sungguh cepat. Dalam sedetik, (ataukah pada saat itu juga?) aku disinari oleh warna putih... Aku memicingkan mataku... lalu sadar kalau mataku masih tertutup.

Dengan jariku, aku merasakan kelopak mataku masih ada, jadi aku membukanya.

Dengan kaget, aku berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar. Aku sedang melihat tubuhku berada satu meter lebih dibawahku. Aku sedang melayang. Aku melihat beberapa dokter sedang panik karena ada garis mendatar yang bising disebelah tubuhku. Aku melihat mereka menyuruhku untuk bangun. Mereka menyetrumku dan menyuntikkanku dengan sesuatu.

Aku mencoba untuk berkata,
“Hei, aku tidak apa-apa... aku disini. Aku diatas kalian.”
tapi masih juga tidak ada suara yang terdengar. Aku melihat sekeliling. Ternyata aku mengapung di sudut kiri atas ruangan itu, tapi aku tidak bisa melihat tangan dan kakiku. Aku mencoba menggerakkan tanganku, menyentuh jemariku dengan jari-jariku. Aku bisa melakukannya, hanya tidak bisa melihatnya.

Aku berusaha mendekati tubuhku, mencoba menyuruhnya bangun, menggenggam tangannya, menampar mukanya, atau mungkin masuk kedalamnya. Aku bisa mendekatinya... mendekatinya...

Lalu aku berhenti. Wajah Shella muncul di depanku, tepat di depan bola mataku. Aku terkesima... lalu suatu kehangatan yang sudah kukenal dengan baik memenuhi diriku. Aku merasakan tangannya memelukku. Aku tidak mau kembali ke tubuh lamaku itu. Maka aku menjauh darinya. Bau tubuh Shella mengitari jiwaku. Aku mencoba menyentuh Shella, tapi mendadak Shella tersenyum padaku dan aku bergerak mundur cepat sekali dengan Shella mengikutiku...

Suara-suara sayup bergerak-gerak disekelilingku. Tubuhku, dokter-dokter, dan ruangan itu berbaur menjadi warna-warna yang tak bisa kupahami. Aku bisa mendengar beberapa dokter berbicara, suara E.L, suaraku, suara ibuku, bahkan suara Shella, namun rasanya jauh sekali...

“Dia dioperasi sekarang, aku tidak tahu.... aku harap...”

“...padahal seharusnya besok hari pernikahan mereka...”

“Mama! Mama, lihat, aku bisa...”

“Alex, Alex, Alex...”

“Aku disini...”

“Shella...”

“Katakan, Dok.”

“Waktu kematian, 23.45.”






—Bersambung...

----------------------------------------------------------------------

Bagian kedua ada di sini. Klik.

Monday, June 04, 2007

The Link [PART TWO]

This is PART TWO, if you haven't read PART ONE, click here.

.........................................................................................................


3 Januari 2010
Pinggir kota Medan
Sumatera Utara, Indonesia


“Check your email, Lucas.”

Lucas bangun dari tempat tidurnya bergegas menuju komputernya, menabrak sudut meja kopi dan menjatuhkan seperangkat alat tulis ke lantai dalam perjalanannya. Buru-buru dia menghubungkan koneksi internet dan login masuk membuka accountnya. Saat itu pukul 2 di pagi hari.

Ada sebuah window muncul sebelum Lucas sempat membuka inboxnya.

Dia mengirimku Instant Message. Dia memintaku untuk chatting... Aku harus tetap tenang...

Dengan perlahan-lahan, Lucas meng-klik kata “accept” yang tertera di monitornya. Seketika, sebuah window yang lebih besar muncul, dengan sebuah pesan terpampang jelas di sudut kiri bawah.

Hyphenated_Girl : Lucas?

Lucas menarik nafas, sekaranglah saatnya… setelah menunggu selama sepuluh tahun, dia akan mengungkap misteri suara yang telah menghancurkan keluarganya, merenggut Eric, dan merusak hidupnya… Mengapa dia harus gugup sekarang?

Luc : Yes

Hyphenated_Girl : Who are you?

Luc : My name is Lucas Satriya. I live in Indonesia.

Hyphenated_Girl : Indonesia?

Luc : Yes. Who are you?

Hyphenated_Girl : You don’t know who I am? Then how are you doing this? How can I hear your thoughts inside my mind?

Luc : I don’t know. I was as confused as you are.

Hyphenated_Girl : Was?

Luc : I first heard your thoughts when I was ten. But I didn’t know them to be someone’s thoughts back then. But now I know that they’re all yours. I just don’t know who you are…

Hyphenated_Girl : So you’re as blank as I am.

Luc : May I know your name?

Beberapa detik berlalu tanpa terjadi apa-apa.

Michelle : Fawn. My name is Michelle Fawn.

Luc : Michelle. I’ve heard that before… from your thoughts of course. Then where are you?

Michelle : I’m from Los Angeles. US.

Luc : America?

Michelle : Do you know why we can hear each other’s thoughts?

Luc : I don’t know. I have no idea… I think I am born like this…

Benar juga… aku begitu sibuk cari tahu siapa dia sehingga aku lupa menanyakan mengapa aku bisa mendengar pikirannya…


.
.
.


January 2, 2010
Downtown Los Angeles
USA

“... mengapa aku bisa mendengar pikirannya dan bagaimana dia juga bisa mendengar apa yang aku pikirkan...”

Trying to set the thoughts aside, not to listen to them for a moment, Michelle was concentrating on getting as much information from this guy as possible. After all, he’s experiencing the same thing.

Michelle : So you’re a mind reader?

Luc : No, I guess not. I mean, I can’t read other people’s thoughts. Just yours.

Michelle : But why me?

Luc : Why can you hear mine?

Michelle : I don’t know. All I know is that they are annoying, your thoughts are! I just want them to go away…

Luc : And do you think me hearing all your foreign language all my life was fun? I lost my life because of it. I lost my best friend because of it. My only friend!

She stared at Luc’s message for a while. There’s something burning inside her body. It’s not something happy and it’s not her conscious feeling. But it’s warm and touching…

Michelle : I’m sorry. I don’t know…

Luc : That’s all right. I’m sorry too, I shouldn’t have spilled it on you.

Michelle : Are you gonna try and find out why is this happening between us?

Luc : Yes… Will you help me?

Michelle stayed still for several seconds. She knew neither she nor Lucas could make it go away, but she would try… and so would he. So she should help him. There’s no other way. She must find out why she could hear the thoughts of someone far in Indonesia, someone who’s a total stranger to her.

“Thanks.”

Lucas’ thought reverberated all over her head, just as a new feeling of warmth and relief struck her chest.


.
.
.


March 16, 2012
Michelle’s residence
Manhattan, New York
USA

“Mich! Mich! Are you up?”

Not now, Luc. I’m barely awake.

“I’ve thought about it all… you know… how we never found any leads about the link. That case in Central Africa was not at all relevant. It’s just about a speculation of mind-controlling device being covered up by Russian government. I think it’s a hoax… are you still there?”

Luc, I’ve told you. I’m still sleeping… do you know what time this is?

“Hahaha... I know. I’m just messing with you. By the way, HAPPY BIRTHDAY!!!”

Arrgh… Luc! I’ve told you not to scream in my head. Ok. Ok… now I’m up! Give me several minutes, ok? Then I’ll talk to you.


Michelle woke up and sat on her bed. She looked closely at the person next to him. James’s a good guy. She knew that she hadn’t told him about her mind connection yet. Not now. There’s too much at stake. He would think she’s crazy.

The digital clock showed a red three–hundred. It was a very tranquil night. Michelle put on her robe and grabbed a glass of water. After that, she sat on a wooden chair in front of the electric fake chimney.

Luc, still there?

“Yep. How’s James doing?”

Ah, he’s sleeping like a pig. Adorable, though. It’s hard to lie to him, you know.

“You’re not lying to him about anything. You just don’t tell him anything.”

Same difference, Luc. So now, where’s my present?

“Haha… never forget, do you? Check your inbox!”

Michelle clicked on her purple mailbox icon and an e-Card emerged, automatically singing her favorite song as several sparkling letters were dancing gracefully to arrange some sentences. Michelle turned off the speaker quickly, wondering if James was up because of the sound. But then her eyes were fixed on the sentences.

Oh, Lucas. You can’t…


Happy 21st Birthday, you grown-up lady! Now you’re legal to have drinks. But don’t have too much and then forget who I am, coz even with this broad distance upon us, my feelings for you can’t be ignored. Oh yeah, and don’t get fat!


She was listening intently, but Lucas didn’t reply. He must be waiting for her to think.

Lucas. You know we can’t do that. We can never be together, not with all these differences between us. And I have James now, and I love him…

And suddenly she heard him…

“You love him? Oh, don’t be ridiculous, Mich. You know you mustn’t lie to yourself. You don’t love him. I know the truth, I can hear them.”

Be as it may, Luc, we still can’t.

“Why, Mich? Why do you keep lying to yourself? I can hear what you think of me. I know what you know about your feeling to me. And you know damn well about my feeling as well…”

Yeah.. and I’m getting quite sick of it… you hearing my thoughts and all. I need some privacy, Luc!

“What? Privacy? You know we haven’t had that our whole life. How can you ask such impossible thing? We are meant to be. Or at least this link makes us.”

Yeah, about that, you said, two years ago, you would find out the cause of it. It’s been so long, Luc. Have you known?

“No. And I don’t think I want to anymore.”

Oh please, Luc. This link destroyed you! You said it! Your life! Your family! Your friend! Of course you don’t want it! What made you find me two years ago? You want this connection gone as much as I do!

“Maybe I don’t anymore… Yes! I wanted it to be gone! I wanted you and your voices to go away. But that time I was so alone. I didn’t know anything about companionship, and yes, I used to blame all my pain to this. I didn’t have the idea of loving somebody. But now I do, Mich. Now that you’re in my life.”

Michelle put both her hands on her forehead. She heard all Lucas said. But now her mind’s empty and she didn’t have anything to think about, literally.

“The link is there because of a reason, Mich. And you are the reason. I am your soul mate. I know you do feel the same. You can’t walk away from destiny, Michelle.”

I don’t know Luc. It’s not that simple. I live in America. I have a job. What about James? I can’t just leave him.

“You’re right. You can’t leave. You have a life back there. I will. I will come to you, Mich.”

No! No! NO! You can’t. Don’t even think about that, Luc.

But Lucas seemed to be convinced. Michelle tried to put some sense in his head, but he was deeply in love with her. He was sure of his feeling and he had faith in her, something Michelle didn’t possess.

The whole day, a silent mind battle occurred in both persons’ heads. She was arguing with a man half way around the world without a single means of modern communication device.

A few-teen hours later, the only thing Michelle got was a terrible headache. Her attempt to persuade Lucas to not come to America had failed. This was breaking her heart, because she was forced to do the only thing left to convince him to stay.

Luc, —she thought feebly— I care for you too much to let you ruin your life by getting here. We can’t be together even if you’re here. It’s not that. I just don’t love you… And I think we should live our own lives separately. No more listening to each other’s thoughts. It’s over, Luc.

She knew she wouldn’t be able to just erase Luc from his memories. She knew she couldn’t cut off the connection at will. But she had made her mind.

There were a few moments of silence, the most awkward one between them. But then Lucas’ voice echoed clearly…

“You do love me.”

No. I don’t, Luc.

“You are lying, Mich.”

And then, there’s only silence.


.
.
.


02 Juni 2012
Café dé Sunshine
Medan
Indonesia


Lucas menatap mata tajam dan wajah bersiku Hana, yang menatap balik penuh selidik. Lalu senyum menghiasi bibirnya. Hana menjulurkan tangannya, menggenggam jemari Lucas.

“Ada apa, Lucas? Kau kelihatan pucat sejak tadi.” tuturnya sehalus mungkin.

“Hah? Ah, tidak. Hanya migrain kok, belakangan ini aku amat lelah... banyak pikiran.” elak Lucas, karena sebenarnya dia sedang berkonsentrasi untuk mendengar apa yang dipikirkan Michelle.

“... John seems so great. He’s polite, clever, and he’s passionate about me.. even more than James was...”

Oh, cut the crap, Mich. It’s all been a big stupid game. It’s been three months now, and all you do is trying to find someone to make you forget and run away from me. Well, guess what? You can’t. Cause I’m here inside your head whether you like it or not.

You can ignore me all you want, Mich. But I know you can hear me. And if you don’t want to talk to me, then know that you’re wasting your time by trying to live a life without me. We have been given this link for a reason. I believe it, why can’t you? We can read all of our deepest thoughts, we know all of our flaws. We have opened up for each other more than you have done to anybody else. The truth is, there is no one out there who understands you more than I do...

You cut me from your life three months ago. But we both know that didn’t work. You can still hear my thoughts and I can hear yours. I know what you’re going through right now. And I am not going to give up this easily. So you can either speak to me or listen to my voice for the rest of your life.

“I’ve been hearing you all my life... I can live with it, Lucas. And stop talking to me while I’m on a date!”

Ah, Finally... you speak to me. Don’t worry. I’m on a date myself.

“I know! Hana something, right? Then why don’t you just play it all along and live our lives separately. Leave me alone, Lucas.”

Hana is a great girl, but I don’t love her.

“Why not? You two have lots of similarities, unlike us.”

“Kamu mau pesan apa? Pagi ini aku merasa sangat hidup, lho… Aku senang kita akhirnya bersama, Lucas. Aku selalu kagum padamu, kau tahu?”

It doesn’t matter, Mich.

“Benarkah? Aku pesan yang biasa saja. Aku tidak bisa makan makanan berat waktu sarapan.”

“It matters to me, Lucas. I can’t just leave my whole life here just for you. What you ask is unacceptable.”

I just ask you to be honest to yourself, Michelle, coz I’ve noticed you … living in a lie…

“Kamu yakin kamu tidak apa? Dari tadi aku perhatikan kamu mengelus kepalamu. Mungkin lebih baik kita keluar sebentar. Cari angin…”

“Oh, you really want to do this now, don’t you? Are you trying to make me upset, now? Bring it on, flame boy! Living in a lie! What about you? All this time! You still see Eric, don’t you! And you’ve been telling yourself that you don’t. You’re just a big liar yourself!”

Shut up, Michelle! Leave Eric out of this!

“Oh, tidak apa-apa, Hana. Kamu pesan dulu, sana.”

“Oh, I hit a nerve there, didn’t I? Or are you telling me that Eric’s accident wasn’t your fault? That’s all you’ve been telling yourself to make you feel better all these years, haven’t you? You lied to yourself about one damn thing just to make you feel better! Just to allow you to live your life wholly. So why can’t I do the same! YOU HAVE NO RIGHT TO TELL ME TO BE HONEST, YOU LIAR!——

——STOP TALKING!——

————“My head hurts so badly, Lucas! Maybe if I keep pushing you like this, the connection will be terminated!”——

Jemari Lucas tampak gemetar di atas meja. Lucas tahu Hana melihatnya, memperhatikannya dengan cemas.

———STOP IT, Michelle! It won’t come off! You’re only killing yourself! You’re only killing us!

Lucas tidak tahan lagi. Kepalanya begitu sakit. Dia menekan pelipisnya, mengibas-ngibaskan kepalanya, berharap rasa sakit di ujung telinganya bisa reda.

“Whoa, Lucas! Ada apa?” Hana berdiri dan mendekati Lucas. Lucas mengabaikannya.

“Then why are you still listening to my thoughts? You can end this pain on your end! You just STOP THINKING about me when this buzzing occurs! Like we always do!”——

I WILL NOT STOP THINKING ABOUT YOU, MICHELLE! Not even if it cause my head to explode! Not even if it means I will never think again! ARRGH!——

——ARRGH——LUCAS? ARE YOU CRAZY? I can’t control this thing! You know it! Only you can make it stop! MAKE IT STOP, LUCAS! You’ll get yourself killed——

————No, Mich!——never… let you go…———

Lucas merosot dari kursinya. Tubuhnya menubruk lantai dengan suara debam keras. Teriakan Hana dan Michelle hanyut dalam perjalanannya menuju otak Lucas. Lalu semuanya menjadi gelap dan hening.


.
.
.


June 01, 2012
Manhattan, New York
USA


Lucas? Lucas?

“Michelle! Michelle! Are you all right? CAN SOMEONE PLEASE HELP ME?” John’s voice echoed in the restaurant. Several seconds later, two servants and John helped Michelle to sit back on her chair, where she had just fallen from.

Michelle, however, didn’t pay any attention to them. Her mind was racing. Her thought was only one. And saying that, her thought was—literally—only one. She couldn’t feel the presence of Lucas anymore. She couldn’t hear him.

Lucas? Oh no! What happened? Oh my God… did I just kill him? No.. no… Why can’t I hear him? Oh, God. It was all my fault…

Michelle was quivering in horror. She hadn’t any idea of what’s just happened. She sat there immobilized, gazing through nothing, feeling numb. The only thing she’s aware of was the big silence in her mind… as if a huge gap just missing from her soul…


.
.
.


06 Juni 2012
Rumah Sakit Gleneagles
Medan, Indonesia

Lucas berbaring tak terfokus. Tubuhnya belum bergerak seharian. Pandangannya kosong, sehampa jiwanya yang telah terkikis dari harapan. Pikirannya dipenuhi dengan kata-kata tak berarti. Tapi semuanya adalah miliknya. Tidak ada lagi suara seorang gadis. Lucas telah mencoba menghubungi Michelle, namun rasa sakit menyerang kepalanya begitu dia mencoba berpikir lebih keras. Yang dia pikirkan sekarang adalah betapa tidak berasa-nya makanan rumah sakit ini.

Tania duduk memandang Lucas dengan penuh ketakutan. Dia berbicara pada Lucas tentang banyak hal, yang semuanya tidak masuk ke kepala Lucas sama sekali. Tania sadar akan betapa tidak responsif saudaranya. Dia bahkan meragukan apakah Lucas tahu dia ada di sana.

Begitu seterusnya sampai sore hari pukul 4. Pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam ruangan. Lucas tidak melihat siapa itu. Kepalanya dibalut perban yang membuatnya sulit untuk berpaling. Lagi pula, dia tidak berniat.

Lalu ada suara mengetuk kepalanya, bukan dari dalam, tapi dari luar. Dan betapa anehnya mendengar suara yang sangat familiar itu.

“Lucas?”

Lucas tidak berpaling. Matanya tetap menatap silau lampu kamar di langit-langit. Tapi dia bisa mendengar suara itu, suara yang sudah menghantuinya selama bertahun-tahun. Lalu dia mendengar gadis itu terisak.

“Mich?” Kata Lucas akhirnya. Dengan susah payah, dia mencoba untuk berpaling.

Di sampingnya, berdiri seorang gadis berambut merah dengan mata bulat manis. Mata yang saat itu basah karena air mata. Gadis itu memandangnya dengan teliti. Kedua tangannya saling menggenggam didepan dadanya, seakan sedang berdoa, tapi tidak.

“You’re here...” sahut Lucas parau.

“I am.” katanya pelan. “How are you feeling?”

“You look alot like what I’ve imagined you to be...”

“Of course, you silly. I’ve given you my pictures...” dan anehnya, dia tersenyum.

“Yeah.. but still...”

“I can’t hear you anymore...” dia menyentuh pelipisnya.

“I can’t hear you anymore...”

“I can.” sahut Lucas. Dia baru saja mendengar Michelle di kepalanya.

“I can.”

Mereka berpandangan, saling kaget satu sama lain. Beribu-ribu kata masuk kedalam kepala Lucas, dan dia tahu pada saat itu juga, Michelle telah bisa mendengar kembali pikirannya.

Kemudian mereka terdiam. Lama sekali. Tidak ada suara lain di sana kecuali hembusan lembut angin dari AC. Michelle tersenyum dan duduk di tempat tidur disamping Lucas. Tanpa kata-kata, mereka mengutarakan semuanya. Tanpa kata-kata, mereka saling mengerti satu sama lain. Tanpa kata-kata, mereka saling meminta maaf. Tanpa kata-kata, mereka bersenda gurau. Tanpa sepatah katapun, pikiran mereka menjadi satu.


END

.

.

.

TRIVIAS and EXPLANATIONS :

  • The story-telling was based on chapters. There were 13 chapters total. 7 from PART ONE, and 6 from PART TWO. Even so, PART TWO was longer than PART ONE. All of Michelle's chapters were started with Lucas' thoughts, except one: "January 1, 2010". It was started with Julia's voice.
  • The high frequency buzzing happened because of two people trying to read what the other was thinking. When you read someone's thought who's trying to read yours, it creates a feedback. Similar in principle to audio feedback.
  • Due to the trauma of losing his bestfriend over his mysterious "link", Lucas often hallucinated about Eric's present, and until the end of the story, Eric (the imagination) was still standing there in the hospital ward.
  • Lucas' connection to Mich's mind was somehow stronger than Mich's. That's why he experienced it first (at age 10) then Mich experienced it 3 years later (at age 12). That's also why the buzzing gave Lucas more pain. Mich somehow could feel Lucas' feelings at times. But she didn't realize that.
  • The finale chapter was June 06, 2012. This story was finished at June 05, 2007. Accordingly, June 06 was the author's special day.
  • Café dé Sunshine, Bukit Kubu, and Gleaneagles are real places in Indonesia. The story, however, is obviously fiction.
  • The real source and cause of the connection is unknown.
  • The actual ending planned by the author was in Polonia Airport (or Newark Airport, undecided yet) where Lucas (followed by his mind instructions of where Michelle was) finally met Michelle for the first time. That more fortunate circumstances didn't make it to the story because it required too many pages.
  • Thank you for reading! See you in the next story! :P

Saturday, June 02, 2007

The Link [PART ONE]


“Mari kuceritakan sebuah kisah yang tidak pernah kau dengar sebelumnya... suatu keajaiban yang sudah terjadi sejak 20 tahun yang lalu, namun baru disadari pada hari ini...”
“... aku sudah menemukan dia, dan tidak ada yang bisa kau lakukan untuk mencegah aku menemuinya.”


.
.
.


18 November 2001
Berastagi, 56 km dari kota Medan
Sumatera Utara, Indonesia


Lucas berlari keluar menyebrangi lautan rumput di bukit hijau yang terhampar luas di hadapannya. Pagi itu, adalah Minggu pagi yang dingin seperti biasanya. Oksigen dan uap air menyerang wajah Lucas, membuatnya menggigil. Namun ia tidak peduli, karena jika ia tidak menghindari kerumunan orang di belakangnya, mereka akan bisa mendengar dia. Atau lebih buruk, tahu kalau Lucas bisa mendengar dia.

“Halo... kamu bisa dengar aku? Namaku Lucas.”

“... I can’t be wearing that dress. It’s ghastly. Oh no, Miss Janet is here. She will be forcing me to wear it. I don’t want to. Please. Help me. Please!”

“Halo... Halo... Aku tidak bisa mengerti apa yang kamu katakan.”

Lucas berdiri seorang diri di tengah-tengah Bukit Kubu di pagi hari, di atas rumput basah. Tidak ada seorang pun yang berada dalam radius 50 meter dari dia. Lucas berdiri menatap ke pegunungan dan hutan nan jauh tanpa terfokus. Tangannya yang tadi terkantung-kantung tanpa arti sekarang sedang menekan pelipis kepalanya.

“Oh there she is! I hope Brad will be here as well. But what happens when he sees me with these clothes? I can’t. He can’t see me.”

“Tolong hentikan ini. Jangan memanggilku lagi. Tolong... hentikan...”

Namun kepada siapapun Lucas berbicara, jelas mereka tidak mendengarnya. Karena Lucas masih bisa mendengar suara itu. Suara dia. Tidak mau berhenti.


.
.
.


4 Mei 2006
Medan
Sumatera Utara, Indonesia


Di atap sebuah gedung tua kosong, 16 meter dari tanah, Lucas memandang kebawah. Pintu masuk gedung baru saja terbuka dan seorang laki-laki masuk kedalam. Lucas berbalik dan duduk diatas sebuah balok beton yang lembab. Rambutnya yang lumayan gondrong terkibas angin kencang yang menyejukkan.

“He’s there? I can’t believe it. Did he see me? Oh. He’s wearing the shirt I picked for him. Oh my God, oh my God...”

Beberapa menit kemudian, seorang lelaki kecil berambut seperti tikus muncul di hadapan Lucas. Wajahnya tampan dan rahangnya kokoh. Namanya Eric. Dia teman dari Lucas, mungkin satu-satunya.

“Jadi, katakanlah padaku.” ungkap Eric tanpa basa basi.

“Ada sebuah suara di kepalaku. Suara seorang perempuan.” jawab Lucas buru-buru.

“Perempuan? Apa kamu tidak hanya membayang—”

“Aku tahu apa yang kualami, Eric. Dan tidak! Aku tidak membayangkan. Aku memberitahumu karena aku tahu kamu tidak akan menganggapku aneh dan menertawakanku bahwa semua ini hanyalah sebuah hasrat akan perempuan yang tidak pernah aku dapatkan. Aku tidak butuh itu! Sudah cukup banyak orang yang mengejekku!”

“Hei Hei! Aku tidak mengejekmu. Aku cuma penasaran. Kau yakin itu suara orang lain? Bukan suara rekaanmu sendiri?”

“Iya. Suara itu terdengar begitu jernih seakan dia ada disampingku... bukan.. seakan dia ada di dalam kepalaku.”

“Tapi siapa dia? Kau mengenal suaranya?”

“Tidak tahu. Aku bahkan tidak mengerti apa yang dia bilang. Bahasa Inggris. Ia berbicara bahasa Inggris. Kusadari itu ketika aku berumur 12 tahun. Sebelumnya aku tidak tahu sama sekali bahasa apa itu.”

“Tunggu. Kau mengatakan bahwa suara ini sudah ada sejak dulu?”

“Iya. Pertama kali muncul sejak aku berumur 10 tahun. Aku memberitahu orang tuaku dan mereka menyuruhku melupakannya saja, bahwa itu tidak nyata. tapi bagaimana kau bisa melupakan hal yang sedang terjadi padamu seumur hidupmu?”

“Berapa sering suaranya muncul? Apa suara itu muncul sekarang?”

“Kadang-kadang. Baru saja. Sekarang tidak ada. Tidak dapat kutebak kapan munculnya. Kadang pagi-pagi sebelum aku bangun, kadang muncul ketika aku ada di sekolah, kadang bahkan muncul ketika aku sedang tidur, membuatku terbangun dan terkejut.”

“Lalu apa katanya?”

“Entahlah. Aku tidak begitu memperhatikan apa yang dia bilang. Biasanya aku mencoba untuk tidak mendengarnya. Biasanya aku mencoba untuk menganggap itu hanya keributan di sekitar.”

“Tapi itu bukan keributan, Luc. Kau harus mendengar apa yang dia katakan. Mungkin dia hendak memberimu pesan. Mungkin saja dia hantu yang penasaran.”

“Jangan bercanda, Ric!”

“Iya, Sorry. Tetap saja, kau harus memberitahuku apa yang dikatakannya lain kali.”

“Tapi aku tidak mengerti Bahasa Inggris. Itu pelajaran yang paling tidak aku suka.”

“Cobalah untuk mengingatnya. Nanti aku akan membantumu mengartikannya. Jika kita tahu siapa dia, mungkin kita bisa menghentikannya.”

“Jadi, kamu percaya padaku, Ric?”

“Siapa itu Ric?” sahut seorang gadis tiba-tiba, membuat Lucas berbalik dan melihat Tania, adik perempuannya melongo melihat Lucas.

“Eric, temanku... ini.” Lucas menunjuk tempat dimana Eric berdiri tadi, yang sekarang tinggal sebuah dinding kosong. “Eric?” tanya Lucas melihat-lihat sekeliling. Eric tidak ada di atap gedung itu. Kemana dia pergi?

“Eric sudah meninggal 2 tahun lalu, Luc. Ayo, turunlah ke bawah. Ayah punya seseorang yang mau bertemu denganmu.” sahut Tania dengan nada cemas.

“Tidak. Aku mau berada disini. Eric percaya padaku. Eric percaya dia ada! Tinggalkan aku sendirian, Tan!”

“...Forever suits on you? ‘Forever suits on you’? What was I thinking? Oh no.. this is so embarassing...”

Perlahan-lahan, Tania mundur dan turun ke lantai bawah.


.
.
.


November 21, 2004
Downtown Los Angeles
USA


“Tidak! Tidak! Ini semua salahku. Jika Eric tidak mempercayaiku... jika aku tidak memberitahunya.. semua ini tidak akan terjadi. Ini salahku.. ini salahku...”

Michelle opened her eyes up almost abruptly. Her breath was racing. Sweating all over her body, she got up and sat on her bed. Her eyes were checking her surroundings. It was just a dream. A weird dream it was. She knew that she couldn’t sleep anymore, not with what had just happened.

She went downstairs to get a drink. Glancing at the clock as she was walking out of her bedroom, she saw that it’s 3 in the morning.

To her surprise, there was someone in the kitchen. Ah, it’s just her mom.

“Darling, what’s wrong?”

“I .. I had a nightmare. I can’t sleep.” she told her mom, who was handing her a glass of water. “Thanks.”

“Well.. can’t we all?”

Michelle shrugged.

“Mom. I had this weirdest dream.”

“I thought it was a nightmare.”

“I don’t know. I was not seeing anything. It’s just... there was some voice I heard. Speaking in a language I didn’t understand. I think it’s like Arab or something.. tagalog or something.”

“Well.. what did it say?” asked her mom curiously.

“I don’t know. I told you. It’s a foreign language. How could I tell? But I could tell that he’s hurt or upset. It was very grim and there are a lot of yellings...”

“It’s a he? Wow. You need to get rest, Mich, especially when you start to dream about an unknown boy.”


.
.
.


30 Januari 2009
Jakarta Utara
Indonesia



“Dr. Prawojo, aku sudah merasa lebih baik. Aku tahu. Aku bisa merasakannya di dalam sini. Sepengetahuanku, Eric tidak pernah muncul lagi dan begitu juga suara asing itu. Aku sadar kalau semuanya tidaklah nyata. Semua hanya bayangan semata. Anda juga tahu bukan, sepanjang waktu ini Anda juga mengawasi aku.”

"...What are you saying? Who are you?..."

“Aku tidak bisa berpura-pura kalau kamu masih belum sembuh, Luc. Aku senang sekali kamu akhirnya bisa mengatasinya. Dengan demikian, kamu sudah boleh pulang. Kembalilah ke keluargamu. Kembalilah ke hidupmu. Aku akan mengurus semua dokumennya.”

"I can't let them know about him... no.. not right now... I must act as if nothing is happening to me.. it's all imagination..."

“Terima kasih, dr. Prawojo.”

Lucas menyalami Dokter itu. Senyum sopan melintas di bibirnya, yang dibalas juga dengan sebuah senyum tulus kebapakan dari dokter yang sudah mengawasinya dalam program yang ketat selama 2 setengah tahun belakangan.

Ketika Lucas keluar dari gedung itu, pikirannya hanya ada satu. Ia harus mencari tahu siapa sebenarnya gadis itu. Pikiran siapakah yang selama hidupnya ini dia dengarkan? Iya, karena Lucas telah menyadari selama 2 tahun ini, di dalam sel yang sepi sendirian, mendengarkan semua suara-suara itu. Mereka adalah pikiran dari seseorang. Pikiran dari seorang yang hidup di negara lain. dan entah bagaimana, Lucas bisa mendengarnya, tanpa dia ketahui.

Dan sekarang, setelah dia bebas dari kurungan Dr. Prawojo, dia akan bisa menyelesaikan semua teka-teki ini, dan menemukan siapa sebenarnya gadis itu.

"... not really happening..."


.
.
.


October 22, 2008
Somewhere in Los Angeles
USA


“Halo? Halo? Namaku Lucas. Bisakah kamu mendengarku? Aku adalah seorang lelaki berusia 18 tahun di Indonesia. Suaramu selalu masuk ke kepalaku. Aku bisa mendengar apa yang kamu pikirkan. Tapi aku tidak tahu namamu. Bisakah kamu memberitahuku? Halo.. halo.. namaku Lucas. Bisakah kamu mendengarku?”

Michelle freaked out. She didn’t realize she had just been screaming so loudly inside the exam hall. How could she not be? She suddenly heard a voice of a stranger man inside her head, as clear as her own thoughts. Voices she couldn’t understand. Voices which she had forced herself to believe wasn’t real. But they were! They are real!

“Stop it! Leave me alone!” cried Michelle out of the blue. The whole class were staring at her.

“Mich.. what happened? Are you OK?” asked a friend of her, Julia.

Michelle eyed at her protuberantly as if she was looking at something surprising.

“It happened again, Julia, and he was trying to contact me… I… I don’t want… please go away…” Then Michelle ran away. She scurried her way to the park, where all students were still at examination. There were no people there. She was on her own. But even after she’d closed her ears, the voices were still as clear as before.

“Aku tidak menyangka akan terkurung seperti ini. Aku harus keluar dari sini. Setelah itu, aku baru bisa melacak suara-suara ini. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana?”

“Stop! Stop it please!” she kneeled on the grass, crying.


.
.
.


1 Januari 2010
Pinggir kota Medan
Sumatera Utara, Indonesia


Ada seorang lelaki jangkung berusia 20 tahun berdiri di tengah-tengah sebuah ruangan gelap tertutup. Satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu adalah dari sebuah monitor flat berukuran 17 inchi, menghadap wajah lelaki itu, sehingga jika ada orang yang melihatnya dari dekat, ia akan bisa melihat sebuah ekspresi lelah pada wajah yang dulunya tegap dan berwibawa. Ia belum bercukur selama beberapa hari, dan rambutnya tidak gondrong lagi, melainkan pendek dan acak-acakan.

Pandangan Lucas benar-benar terfokus pada monitor di depannya, tapi ia tidak membaca satu hal pun disana. Malah, dia sekarang memejamkan matanya. Mulutnya tertutup rapat. Pikirannya tenang dan terkontrol. Dia sudah siap.

Hello... Hello... Can you hear me? Don’t be afraid. If you can hear me, I want you to stay calm and relax your mind. If you can hear this... please... think of the word ‘yes’...

Suasana di ruangan itu begitu hening. Tidak ada suara selama beberapa jam terakhir. Lucas menunggu dengan sabar. Satu menit... dua menit... tiga menit...

Lalu datanglah suara itu.

Yes... yes...

Lucas tersungkur jatuh karena kaget. Belum pernah dia sekaget dan sesenang sekarang. Dia berhasil. Girang bukan main, dia telah berhasil berkomunikasi dengan dia. Tapi dia masih belum selesai. Dia harus tetap tenang... dan melanjutkan...

I can hear you... I can hear you... can you hear me now? My name is Lucas... I have been hearing your thoughts for my whole life...

Lalu mendadak, tanpa peringatan, pikiran Lucas dibanjiri suara seorang perempuan...

...Oh my God, he can hear me... He can hear me too. Who are you? What are you doing inside my head? Oh no.. Am I going crazy?...

Stop! You must be calm. Please Arrgh——

——What? Stop it! What’s happening to me?

———Arrgh.. I know this can happen.. you should not listen to my thoughts right now——

——Ahh.. My head hurts.. Are you doing this to me? What are you doing?——

We are reading each other’s mind... I must stop... I must stop———


Lucas tidak bisa tenang dengan rasa sakit menyerang dikepalanya. Ia merasa bagaikan sebuah suara berfrekuensi tinggi dinyalakan di otaknya. Suara perempuan itu terus menerus datang, dan ketika akhirnya Lucas tidak bisa menahan lebih jauh lagi, dia terpuruk. Pingsan.


.
.
.


January 1, 2010
Downtown Los Angeles
USA



“Mich.. Mich.. are you OK?”

Julia’s voice came thru her mind, but thankfully, it was from next to her. Michelle gasped for a heavy breath, and then looked at her friend.

“It’s gone. He’s gone. I can’t hear him now.”

“What happened just now?” asked Julia carefully. They were alone in Mich’s room.

“I think I just… I think we just communicated…”

Communicated?”

“Yeah. He asked me to stay calm. He told me he was also listening to my thoughts the whole time, kinda like I am listening to his. His name is Lucas…”

“Lucas? Where is he?”

“I don’t know…we haven’t got the chance to really talk. I mean… my head hurt and I heard all this high frequency buzzing… I was afraid that he was doing that to me, somehow…but then it was gone.”

“What buzzing?”

“I think it’s because we were trying to read each other’s thoughts. I don’t know…”

And at that time… out of nowhere… A voice crawled in to Michelle’s head, so slowly and so delicately.

Email me at lucas1990@yahoo.com … subject “mind me”









... continued to PART TWO

---oOOo---

Lucas, Michelle, and all the characters are mere fiction. Created by Bambang Superwan, 2007©

Wednesday, April 11, 2007

DH - The Inferi land

Character: Harry Potter, Ron Weasley, Hermione Granger, Remus Lupin, Peter Pettigrew, Vernon Dursley, Petunia Dursley, Dudley Dursley, Arabella Figg.

Harry Potter, names, characters and related indicia
are copyright and trademark Warner Bros., 2000
----------------------------------------------------------

—Chapter Two—
The Inferi Land


Harry hanya bisa berdiri diam. Pikirannya berpacu. Pandangannya terfokus ke televisi baru Dudley di ruang makan, yang dengan penuh ketakutan sedang menayangkan berita khusus, memotong acara favorit Aunt Petunia “Celebrity Corner”. Uncle Vernon dan Aunt Petunia menonton TV dengan atmosfer kengerian menyelubungi mereka semua. Dudley mengintip dari belakang bahu ayahnya. Wajahnya menyiratkan ketakutan yang sama besar.

“... para ahli belum dapat menyimpulkan apa yang menyebabkan kehancuran misterius yang menerpa kota London dan sekitarnya. Walau dapat dilihat langsung dari liputan McKinsley yang sekarang sedang mengudara di atas London. Silahkan, Saudara McKinsley.”

Terlihat seorang pria pucat bertopi GMTV berbicara keras pada kamera melawan suara helikopter yang berkeliling diatas sisa-sisa kota London di malam yang suram ini.

“Terimakasih, Ben. Dapat kita lihat dari atas sini, apa yang telah menjadi sisa kota London. Saya dapat melihat banyak orang panik yang berusaha keluar dari kota. Hampir semua jalan raya dipenuhi mobil. Laju kecelakaan di London tidak pernah setinggi ini. Tampaknya semua orang panik dan takut akan ketidakmampuan pemerintah mengatasi terror yang menurut sebagian orang—tak terlukiskan. Bagaimana orang bisa tenang, melihat rumah-rumah dan gedung-gedung di kota mendadak runtuh, pohon-pohon tercabut dari akarnya, dan banyak penduduk yang meninggal begitu saja, tanpa ada sedikitpun bekas luka. Kota ini sudah menjadi tanah pembantaian..”

Harry bergabung dengan keluarga Dursley, tidak bisa berkata-kata. Semua anggota keluarga Dursley melihat Harry dengan pandangan aneh, namun tidak mengucap sepatah katapun. Mereka berpaling ke televisi lagi, ketika lelaki bernama McKinsley itu berbicara lagi.

“... oh ya, pemirsa dimanapun kalian berada, kami baru saja mendapat laporan dari bagian Selatan kota, mereka baru saja melaporkan tentang monster-monster besar yang sedang mengubrak-abrik kota. Ya Tuhan, tampaknya... itu... itu raksasa. Darimana muncul monster mengerikan seperti itu!” Kamera lalu diarahkan ke bagian Selatan kota, dimana dari kejauhan dapat dilihat dengan jelas sekumpulan raksasa yang sedang menghancurkan kota dengan jauh lebih efektif dari pada apapun.

“Oh, Vernon. Apa yang harus kita lakukan?” sedu Petunia penuh ketakutan, tangannya menyambar lengan besar Vernon. Namun tampaknya Uncle Vernon tidak mendengarnya.

“Apa yang sebenarnya direncanakan orang-orang di duniamu?” tuding Vernon tajam pada Harry, yang segera sadar Voldemort telah melancarkan serangannya dengan merajalela, melihat tidak ada lagi Dumbledore.

“Ini ulah Voldemort. Aku tak tahu apa sebenarnya yang dia inginkan, tapi aku rasa dia ingin menduduki kementrian sihir. Mengancam dia akan memusnahkan dunia muggle jika Mentri Sihir tidak memberikan jabatannya. Dia juga melakukan ini tahun lalu.”

“Jadi semua ini salah kalian?!” umpat Uncle Vernon. Ludahnya bersemburan. “Kami semua harus menanggung akibatnya karena kementrian bodoh kalian tidak bisa melawan satu orang pe-... penyihir bodoh?” Harry tahu Vernon masih belum bisa mengatakan kata penyihir dengan keras. Namun dia tidak peduli saat ini. Dia juga tidak begitu peduli dengan pendapat pamannya. Dan Petunia juga tampaknya demikian.

“Kita harus pergi dari sini, Vernon. Bagaimana jika raksasa itu sampai ke Surrey?” kata Petunia.

“Tapi kemana kita akan pergi?” tanya Dudley balik.

Uncle Vernon tidak menjawab satupun pertanyaan yang diajukan. Setelah terdiam sebentar, ia membuka mulutnya. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan isi pikirannya, terdengar teriakan dari luar. Sesuatu telah terjadi di luar Privet Drive.

Keempat orang itu bergegas keluar dari rumah untuk melihat apa yang terjadi. Para tetangga tampaknya juga sedang melakukan hal yang sama. Harry melihat sekeliling, pandangannya menerawang jauh sampai semua jalan-jalan yang dapat dijangkau matanya. Tongkat sihirnya teracung siap.

Teriakan-teriakan banyak orang masih terdengar samar-samar. Harry memandang ke ujung jalan Privet Drive. Disana ia melihat sekumpulan muggle—yang dikenalnya sebagai pemilik rumah-rumah di Privet Drive—sedang berlari ke arah keluarga Dursley. Lalu sebuah ledakan keras terjadi, dan semakin banyak orang menjerit. Sebuah mobil terlempar ke udara, jatuh terbakar menimpa sebuah rumah petak bertingkat dua. Dan saat itu, Harry bisa melihat dengan jelas apa yang menjadi penyebabnya.

Dengan ngeri, dia melihat kira-kira ada ratusan inferi yang dengan jelas sudah disihir oleh pelahap maut untuk menyerang dan membunuh orang-orang. Berjalan lambat dengan langkah berat, kumpulan mayat hidup itu mulai memasuki Privet drive dan mendekati keluarga Dursley.

“Ya ampun. Apa itu?” jerit Petunia.

“Kelihatannya seperti Zombie yang di video games.” Kata Dudley dengan nada seperti ingin membuat ibunya merasa lebih baik.

“Semuanya, cepat pergi dari sini!” teriak Harry pada orang-orang di belakangnya. Tapi semua anggota Dursley tidak bergerak sedikitpun, entah karena ketakutan setengah mati atau karena mereka belum menyadari betapa bahayanya situasi sekarang. Malah, mereka bertanya balik pada Harry.

“Apa itu, Harry?” tanya Vernon dengan nada lemah, akhirnya.

“Mereka inferi. Mayat yang disihir jadi hidup. Mereka adalah suruhan Voldemort.” Kata Harry tergesa-gesa.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Vernon lagi, melirik tongkat ditangan Harry.

“A.. aku akan mencari orang yang menyihir mayat ini. Dia pasti berada disekitar sini. Lagi pula, inferi tidak bisa membuat mobil terlempar ke atas dan meledak. Pasti itu perbuatan penyihir.”

“Tapi bagaimana jika mereka lebih dari satu orang? Dan mayat-mayat ini.. jumlahnya ratusan..” kata Petunia lebih kepada dirinya sendiri. Harry dapat mendeteksi rasa cemas dari suaranya.

Harry tidak sempat mengatakan apa-apa, ketika seorang wanita tua memanggilnya dari belakang.

“Harry! Harry!”

Harry menoleh. Dia melihat Mrs Figg berjalan terpincang-pincang ke arahnya. Beberapa ekor kucing mengikutinya dari belakang.

“Mrs. Figg.” Sahut Petunia sambil mengernyitkan keningnya. Dia tidak suka dengan kekotoran Mrs Figg, begitu juga dengan kucingnya.

“Harry, aku sudah mengirim burung hantu ke kementrian sihir. Mestinya sebentar lagi akan ada Auror yang datang.” Katanya tanpa mempedulikan Petunia.

“Right.” Kata Harry mengangguk, tapi Uncle Vernon menyelanya.

“Burung hantu? Kementrian sihir? Mrs Figg, jangan-jangan, kau juga...” katanya menunjuk Mrs Figg, yang herannya, masih mengacuhkan keluarga itu.

“Nah, Harry. Aku harus membawamu pergi dari sini. Ayo, kita ke tempat aman.”

“Tidak.” Kata Harry tiba-tiba. Semuanya berpaling melihatnya.

“Harry, apa yang kamu lakukan? Dumbledore menugaskanku untuk menjaga keselamatanmu setiap saat. Aku tidak bisa membiarkan kau disini sekarang, tidak dengan semua inferi ini.”

Harry melihat Uncle Vernon masih terpana melihat Mrs Figg, dan mulutnya dalam diam mengucapkan kata ‘Dumbledore?’. Harry juga melihat kerumunan inferi semakin dekat dan semakin banyak orang yang berlari menjauhinya, meninggalkan semua harta benda dan rumah mereka.

“Mrs. Figg. Tolong bawa keluarga Dursley pergi dari sini. Aku akan menyusul.” Lalu Harry berlari menuju inferi itu, mengabaikan panggilan “Harry!” dari Mrs Figg. Uncle Vernon bergegas memaksa semua keluarganya memasuki mobil mereka. Tampaknya ia sudah bertekad untuk lebih memilih nyawanya dari pada rumahnya.

Harry tidak takut. Ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk melawan para inferi. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, siapakah pelahap maut yang ikut datang bersama inferi ini? Apakah Voldemort datang untuk membunuhnya? Ataukah penyerangan inferi ini hanyalah kebetulan terjadi si Surrey, tempat Anak Lelaki Yang Bertahan Hidup berada?

“Bombarda!” Harry berteriak sambil mengacungkan tongkatnya ke arah para Inferi yang sudah berjarak hanya beberapa meter darinya. Ledakan yang keluar dari tongkat Harry begitu kuat sampai belasan inferi itu terlempar dan terdorong kebelakang, jatuh menimpa mayat-mayat lainnya. Lalu mereka bangun lagi, berjalan lagi dengan tampang mengerikan seakan tidak ada yang mendorong mereka. Hanya saja mayat-mayat itu sekarang mengincar Harry.

Muggle-muggle yang masih belum melarikan diri dari sana, melihat Harry dengan penuh takjub. Harry tahu ia telah melakukan sihir di depan muggle, dan dia tidak peduli, karena dia tahu kementrian sihir sekarang tidak mempedulikan hal itu sekarang, lebih sibuk mengatasi kerusuhan yang disebabkan Voldemort.

Ratusan mayat hidup yang datang bergerombol memadati rumah dan jalan di privet drive kelihatan seperti neraka orang mati. Dudley benar. Ini tampak seperti serangan zombie di malam hari.

“Circulio Flagrate!”

Api merah raksasa menyembur keluar dari tongkat Harry, kemudian bergerak seperti ular dan melingkar mengelilingi Harry sampai 3 kali. Harry menghentakkan tongkatnya, dan dia dikelilingi cincin api raksasa yang mengikuti dia kemana pun dia pergi. Malam itu mendadak terasa terang dan panas. Harry mengingat dengan jelas apa yang dilakukan Dumbledore di gua pada waktu itu. Inferi takut akan cahaya. Mereka takut akan api.

Harry melihat inferi itu menjauhi Harry, tidak berani datang terlalu dekat dengan lingkaran api harry. Memanfaatkan hal ini, Harry berlari ke tengah-tengah ratusan Inferi itu. Lingkaran apinya mengikutinya. Lalu Harry melambaikan tongkatnya membentuk lingkaran diatas kepalanya. Ia berteriak. Mantra itu dengan cepat bekerja.

Lingkaran Api itu membelah dan menyembur menuju inferius-inferius di dekatnya. Harry melihat banyak inferi yang terbakar, dan mayat-mayat itu seperti tersiksa dan tidak bisa mematikan serangan api Harry. Akhirnya mayat-mayat itu menelungkupkan tubuhnya diatas tanah. Terbakar hidup-hidup—atau mati.

Entah dari mana, tiba-tiba sebuah sinar merah menyerang Harry. Harry menghindar tepat waktu.
“Mati kau Potter!” terdengar sebuah suara kasar, namun tidak asing.

Harry tersenyum. Rencananya berhasil. Ia telah menarik perhatian pelahap maut yang datang bersama inferi itu, yang kemungkinan besar juga menyihir dan memerintahkan inferi itu. Harry melihat dari celah di antara lingkaran apinya, sosok seorang penyihir bergerak mendekati Harry. Sampai jarak tertentu, Harry akhirnya mengenalinya.

“Wormtail.” Sahut Harry dengan nada penuh kemarahan. Inilah dia, pengkhianat orang tuanya, penyebab Sirius dipenjarakan selama dua belas tahun, dan penyebab Voldemort bangkit kembali.

“Bodoh sekali kau, Potter. Kupikir akan sulit mencarimu di antara muggle-muggle bodoh ini. Tapi seharusnya aku tahu nyalimu memang besar. Aku tahu kau tidak akan lari begitu saja dari semua kekacauan ini, dan aku berterima kasih untuk itu.” Sahutnya keji. Suaranya masih berciri khas cicit tikus setelah selama ini.

“Kau datang untuk membunuhku?” tanya Harry , tongkatnya teracung siap. “Kupikir Voldemort akan menghabisiku sendirian.”

“Pangeran Kegelapan tidak tahu aku ada disini, Harry. Beliau tidak melihatku sebagai aset yang berharga lagi, belakangan ini. Menyuruhku sembunyi di rumah Snape! Aku tahu aku harus menunjukkan kemampuanku padanya, maka aku menyusun rencana ini. Aku mengumpulkan mayat-mayat selama setahun ini, untuk menjadi pasukanku. Dan aku akan membunuhmu, Harry! Dan Pangeran Kegelapan akhirnya akan mengakuiku sebagai abdinya yang paling setia, dan yang paling berguna.”

“Silakan mencoba. Jika kau bisa!” Harry menembakkan sinar merah ke arah wormtail tiba-tiba. Lingkaran apinya padam seketika.

Wormtail menangkis serangan Harry dan tertawa. Harry tahu dia tidak boleh menganggap remeh Wormtail, bagaimanapun juga, dialah orang yang telah berhasil mengutuk dua belas orang dan membuat ledakan tanpa Sirius sempat mencegahnya.

Wormtail mengangkat tangan peraknya dan mengirim kutukan mematikan ke arah Harry. Kutukan itu meleset dan menghantam rumah Dursley sampai ambruk. Harry melempar tubuhnya ke tanah, berguling dan mengarahkan lagi tongkatnya pada Wormtail dan bergumam ‘Levicorpus!’ dalam pikirannya.

Berhasil! Wormtail terbalik, tergantung dengan satu kakinya tertahan di tengah udara. Tapi tongkat Harry mendadak terbang dari genggamannya. Ternyata Wormtail telah menyucuti senjata Harry tanpa disadari Harry. Harry berlari untuk mengambil tongkatnya. Sementara itu Wormtail merapalkan mantra dengan melambaikan tongkatnya. Lalu terdengar bunyi POP! Dan Wormtail berubah menjadi seekor tikus yang terjatuh ke tanah. Akhirnya dia terlepas dari kutukan itu.

Melihat itu, Harry berlindung di belakang sebuah tembok. Dia tidak akan bisa menang melawan Wormtail tanpa tongkatnya.

Wormtail muncul tiba-tiba di depan Harry, seakan dia tahu benar dimana Harry bersembunyi. Refleks Harry menggarap pasir dan kerikil dengan tangannya dan melemparkannya ke wajah Wormtail. Wormtail berteriak dan menutup matanya yang kemasukan pasir. Mantra yang diluncurkannya pada Harry meleset. Harry menendang Wormtail dengan kedua kakinya. Tongkat Wormtail terlepas dari tangannya.

“Ini untuk ayah dan ibuku!” Sahut Harry sambil meninju wajah Wormtail. Pencarian tongkat pun terlupakan. Harry hanya ingin menyakiti Wormtail separah mungkin.

“Ini untuk Sirius!” Harry menumbuk wajah jelek Wormtail sekuat tenaga. Namun pada saat bersamaan, tangan besi Wormtail dikalungkan di leher Harry.

Harry panik. Dia tidak bisa bernafas. Tangan itu mencengkram begitu kuat sampai Harry menyangka lehernya akan patah dan dia akan mati tanpa merasa sakit.

“Selesai sudah, Harry! Kirim salamku pada James dan Sirius!”

Lalu mendadak, Wormtail terlempar. Tubuh Harry entah bagaimana telah menghasilkan suatu kejutan listrik yang sangat besar. Tangan Wormtail terlepas dan Harry terjatuh dan terengah-engah mengambil nafas.

Sedetik kemudian, tiga inferi menangkap Harry dari belakang. Mereka menarik Harry yang sudah kehilangan tenaga. Tampaknya mayat-mayat itu akan mencabik-cabik tubuh Harry. Diatas ketidakberdayaannya, Harry melihat akhir hidupnya mendekat. Wormtail mendekatinya dengan tongkat teracung tepat padanya. Harry terpojok.

“Avada Ke..”

“Impedimenta!”

Sekali lagi Wormtail terlempar. Harry berpaling dan —harapannya tiba-tiba meluap— dia melihat Hermione Granger berlari ke arahnya. Sinar terang muncul dari ujung tongkatnya, membuat wajahnya yang penuh ketakutan terlihat jelas. Lupin dan Ron muncul di belakang Hermione. Ron menggunakan tongkatnya dan mengirim sebuah mantra dari jauh. Harry merasa inferi-inferi itu terlepas darinya. Ron dan Hermione menghampirinya, membantu Harry berdiri.

“Hey.” Sapa Harry sambil nyengir pada kedua sahabatnya, yang memandang Harry dengan takut. Tubuh Harry dilumuri keringat, tanah dan darah.

“Apa yang kau pikirkan melawan ini semua?” tanya Hermione sebal. “Kau hampir mati, Harry.”

“Well, kan ada kamu yang menyelamatkan nyawaku, Hermione. Thanks Ron.”

Ron nyengir dan takjub melihat banyak mayat yang terbakar ditanah. Hermione mulai berbicara lagi tapi Harry tidak mendengarnya. Ia melihat Lupin mendekati Wormtail dengan tongkat teracung tepat ke jantungnya.

“Halo, Peter!” Harry bisa melihat ekspresi wajah Lupin ketika melihat Wormtail.

“Oh, Remus... temanku.”

“Kau bukan temanku, pengkhianat. Kau telah membuat Voldemort kembali, dan kali ini aku akan benar-benar membunuhmu.”

“Remus.. maafkan aku. Kau tidak tahu apa yang harus kami lakukan untuk bertahan hidup.. Sebagai pelahap maut..” Tiba-tiba Wormtail bertransformasi menjadi tikus dan mencoba untuk kabur.

“Awas!” teriak Harry pada Lupin, yang ternyata sudah memperkirakan hal itu.

Wormtail kembali menjadi manusia lagi, dia tersungkur di tanah dan menatap Lupin putus asa...

“Avada Kedavra!” sahut Lupin sambil memandang mata Wormtail dengan penuh kesedihan.

Wormtail tumbang. Tangan besinya menghantam tanah sama kerasnya dengan tubuhnya. Harry, Ron, dan Hermione memandang Lupin dengan kaget. Bersamaan dengan itu, semua inferi di sana ikut jatuh dan kembali tak bernyawa. Sihir di tubuh mereka telah ikut musnah.

Keheningan setelah kematian Wormtail berlangsung cukup lama. Kemudian Lupin berbalik dan berkata singkat pada Harry, “Ayo, Harry. Kita pergi.”

Harry menurut. Ron mengikuti Harry dari belakang. Matanya menatap sekilas rumah Dursley yang sudah runtuh sebagian.

“Blimey, Harry. Lihat rumah pamanmu!”

Harry memandang rumah itu sekilas dan membayangkan apa reaksi Uncle Vernon ketika ia kembali ke rumah hancurnya dengan ratusan mayat di pekarangannya.

Mau tidak mau, Harry tersenyum juga.

--------------------------------------
to be continued...