<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-22545138</id><updated>2012-02-16T01:05:01.635-08:00</updated><category term='Life'/><category term='Harry Potter'/><category term='Romance'/><category term='Other'/><category term='Death'/><category term='God'/><title type='text'>How it Goes</title><subtitle type='html'>This is how the story goes...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://leavedstory.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://leavedstory.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Soliloquist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10187976455571298101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_uoAFuqGlVvg/SXm21Yss2jI/AAAAAAAAAEE/BjlsPN2WaZs/S220/IMG_0162.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22545138.post-1260389156874684660</id><published>2011-04-28T03:45:00.000-07:00</published><updated>2011-04-28T04:12:29.327-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Life'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='God'/><title type='text'>Dunia Kecil</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;"Kamu terpilih, Mads!"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Anak lelaki itu terbangun dari mimpinya. Samar-samar ia masih mengingat kemana pikirannya bernaung. Ada banyak sekali butiran pasir disekeliling dirinya, dan bagaikan menari di antaranya, ia merasa takjub dan terpesona, lalu ada seseorang, sesosok raut. Entah siapa dia, namun dia terasa familiar. Tidak asing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Entahlah, itu semua hanyalah mimpi. Tidak penting, bukan? Apa yang penting adalah kenyataan. Hidup dalam realitas. Itulah yang penting.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Dengan enggan, Madison memaksa dirinya untuk bangun dari tempat tidur. Dia berdiri di depan lemari kaca tepat di samping tempat tidurnya. Kedua tangannya menggenggam erat knob pintu lemari yang terbuat dari kayu jati mengkilat dan di pernish. Mads mengangkat wajahnya, matanya menyelidiki bayangan dirinya yang terpantul ke dua bola matanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Oh, sudah pagi rupanya, pikir Mads. Kepalanya agak sakit. Mimpi yang sama lagi, sudah tiga malam dia memimpikan dirinya berada di tempat aneh seperti kolam pasir yang halus. Mimpi ini selalu berakhir dengan munculnya sebuah sosok hitam seperti manusia, seperti seorang anak gadis. Entah apalah artinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Mads bukanlah anak yang malas, namun dia sudah merasa muak dengan kehidupannya sehari-hari. Yang dia lakukan tiap hari adalah pergi sekolah, bertemu dengan orang-orang yang sama hari demi hari. Memang dia masih berusia muda, 14 tahun bukanlah waktu yang cukup untuk mengerti apa itu hidup. Namun Mads sudah cukup mengerti. Anak yang lemah selalu diinjak-injak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Mads melihat tubuhnya yang kurus dan wajahnya yang runcing. Ia bagaikan seorang anak yang kurang gizi. Bukannya Mads tidak dapat makan banyak, tidak. Dia dapat makan banyak, namun entah kenapa dia tidak pernah bisa gemuk. Mungkin stress dalam dirinya, atau dia cacingan, atau ada sesuatu yang aneh dengan dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Di sekolah, Mads bukanlah anak lelaki SMP 2 yang dipuja-puja, malah dia dapat dikatakan termasuk anak yang kutu buku, yang selalu melakukan hal-hal sesuai dengan peraturan. Hidup tanpa menyalahi aturan dan selalu sopan dengan orang tua. Dia mungkin terlalu naif dan lemah. Itulah sebabnya dia selalu dijadikan bulan-bulanan di sekolahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Kelasnya dipenuhi oleh anak brandalan yang suka mengganggu anak-anak seperti Mads. Mads adalah langganan bagi mereka. Bruno, Zack, Talli, dan Wendall. Mads tidak pernah bosan dijadikan "punching bag" mereka, atau sebagai media mereka melepaskan kekesalan dan masalah mereka. Setiap hari ujian, Mads harus menyelipkan jawaban bagi mereka, dan bila ketahuan guru, Mads lah yang harus menerima batunya, karena bila Mads menunjukkan jarinya pada Bruno dan kawan-kawan, maka Mads siap-siap saja menjadi bahan untuk disepak terjang sepanjang hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Otomatis, sekolah menjadi hal terakhir yang ingin dilakukan Mads. Dia benci ke sekolah, dia benci dengan hidupnya yang tak berdaya untuk melawan. Dia benci karena dia lemah, karena tubuhnya kecil dan tidak mampu untuk membela dirinya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Tidak ada teman atau siswa lain di sekolah yang mau membantu Mads. Mereka juga takut apabila mereka membantu, maka mereka akan jadi sasaran juga. Mads tidak menyalahkan mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Pagi ini Mads sudah mempersiapkan diri untuk menerima lebih banyak pukulan. Tugas Fisika nya sudah dia selesaikan, namun dia tidak akan mau menyerahkan hasil jerih payahnya untuk geng Bruno. Tidak mudah bagi Mads untuk mempelajari asal usul Alam Semesta, menjelaskan apa itu elektron, atau mengerti mengapa galaksi kita berputar dengan cepat tanpa kita sadari. Tidak. Mads tidak akan menyerahkan PR nya kepada orang lain selain guru. Biarlah bila dia kena hajar, setidaknya kali ini dia tidak menyerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Benar saja, ketika Mads menolak permintaan Wendall untuk merampas buku fisikanya, sebuah tonjokan mendarat di perut Mads. Rasanya sakit dan berdengung. Nyerinya sampai ke tenggorokan. Menelan ludah pun sakit. Mads menunduk di lantai, mencoba untuk berdiri tegak, namun dia kesusahan. Wendall lalu pergi memanggil Bruno dan kawannya, jelaslah untuk menyiksa Mads lebih jauh lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Mads segera bergerak. Dengan susah dia harus mencari tempat sembunyi, agar bisa lolos dari mereka. Namun sudah terlambat. Bruno sudah melihat sosok dirinya merintih dalam kesakitan. Bruno berlari mendekatinya, namun sesuatu yang aneh terjadi. Mads yang semula panik melihat Bruno berlari, sekarang malah heran melihat Bruno yang seakan sulit melangkah. Wendall dan Talli juga sama, mereka berlari, namun gerak mereka seperti diperlambat 3 kali. Seakan-akan mereka berada dalam sebuah film slow motion.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Mads tidak pikir banyak. Dia segera berlari terbirit-birit, sampai ke gudang tempat menyimpan sapu sekolah, dia bersembunyi di dalam. Betapa terkejutnya dia, ternyata ada seorang manusia lain di dalam gudang sapu sempit itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Seorang anak gadis. Nampaknya lebih tua dari Mads. Mungkin 15 tahun, atau 16 tahun. Namun dia tetaplah anak remaja. Dia memakai kemeja putih berlengan panjang, yang terselip rapi dalam celana panjangnya yang juga berwarna putih. Aneh sekali melihatnya memakai pakaian serba putih dan serba tertutup di dalam tempat yang begitu kotor dan begitu panas. Rambutnya yang panjang tergerai bebas seakan ada angin yang meniupnya, walau gudang itu sebenarnya pengap. Tak ada setetes keringat pun di kening gadis itu. Wajahnya merekah bahagia dengan senyuman ramah saat dia melihat Mads yang masih kaget dengan orang lain selain dia di gudang itu. Mads tidak pernah melihat gadis ini, namun entah kenapa dia merasa tidak asing dengannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Halo Mads." sapa gadis itu dengan lembut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Ka- Kamu siapa?" balas Mads gugup. Dia selalu tidak nyaman berbicara dengan gadis cantik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Namaku Jeannie." jawabnya ceria. "Aku sudah memperhatikan dirimu sejak lama, Mads."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Hah? Maksud mu? Err.. kamu siapa sih? Kita saling kenal ya? Sori... tapi aku sudah lupa..." sahut Mads dengan terbata-bata, pikirannya meracu seiring degupan jantungnya yang semakin tak karuan. Pikirannya masih mengkhawatirkan Bruno dan Wendall.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Relax, Mads... Mereka tidak akan bisa menemukanmu disini." kata Jeannie dengan tatapan mengerti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Oh, kok kamu bisa tahu?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Namun Jeannie hanya mengabaikan pertanyaan Mads. Dia tiba-tiba duduk disamping Mads, tanpa mempedulikan celananya sudah kotor terkena debu di lantai. Jeannie tampaknya sangat tertarik dengan Mads, dan Mads tidak tahu kenapa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Mads, kamu merasa tersiksa ya? Kamu tidak merasa nyaman dengan hidup ini. Teman-temanmu tidak ada yang bisa membantumu. Orang tuamu juga tidak mengerti keadaanmu. Guru pun tidak peduli. Tapi kamu tetap tidak menyerah. Kamu tidak memberikan tugas fisika mu pada mereka, bukan? Itu bagus, Mads."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Mads menatap Jeannie dengan mulut terbuka dan wajah bego melongo. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan Jeannie dan mengapa dia berkata demikian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Aku bisa membantumu, Mads. Kamu tidak perlu lagi takut pada Bruno dan gangnya."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Kamu bisa membantuku? Kamu bisa membuat mereka tidak mengganggu aku lagi?" tanya Mads, di tengah kebingungannya, entah mengapa, dia bisa merasakan sebuah kenyamanan di sekitar Jeannie.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Tentu saja bisa. Aku baru saja membantumu lolos dari cengkraman mereka bukan?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Itu kamu?" Jeannie mengangguk ceria. "Kau membuat mereka seakan mereka bergerak secara slow motion... bagaimana.." namun Jeannie memotong kalimat Mads.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Slow motion? Tidak sama sekali. Mereka bergerak seperti biasa. Kamulah yang bergerak dengan lebih cepat, sehingga bagimu, mereka tampak bergerak dengan lambat. Seperti lalat yang bisa melihat gerakan cepat seolah-olah gerakan itu adalah slow motion..."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Mads semakin tak mengerti... "Aku? Bagaimana aku bisa melakukan itu?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Yah, katakan saja aku punya beberapa 'kemampuan' yang special."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Mads diam tak percaya. Pandangannya masih terpaku pada Jeannie.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Nah, Mads. Aku perlu bantuanmu."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Bantuanku?" kali ini perhatian Mads teralih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Ya. Bila kamu membantuku, aku berjanji, kamu tidak akan pernah merasa terbebani lagi oleh semua rasa sakit dalam hidupmu." Mads masih terpana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Kamu bisa membebaskanku dari ini?" tanya Mads akhirnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Ya." balas Jeannie tegas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Okay kalau begitu. Apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Pertama-tama, kita harus pergi ke tempat lain dulu. Gudang ini terlalu sempit. Pegang tanganku." kata Jeannie, dia berdiri menghadap Mads yang masih tercengang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Lalu Mads menjulurkan tangannya dan menyentuh tangan Jeannie, saat itulah Mads terasa terangkat ke atas. Jeannie dan Mads terbang, tubuh mereka bergerak ke atas dengan mantap. Atap gudang seakan-akan bukan halangan, mereka terus naik seakan menembus beton dan genteng. Tapi Mads tidak merasa tubuhnya menyentuh apa-apa. Sedetik kemudian mereka sudah berdiri diatas gedung pencakar langit. Angin kencang menerpa wajah Mads. Dia tidak percaya dia sedang berada di atap gedung tinggi. Melihat ke sekeliling, Mads memperhatikan banyak mobil berlalu lalang jauh dibawah. Atap itu kosong dan tak dihuni manusia selain mereka berdua. Beberapa meter dari mereka, ada satu lagi atap gedung yang tingginya sama dengan atap dimana mereka berada. Awan terasa lebih dekat, dan matahari seakan masih bersembunyi di balik awan, menyembunyikan teriknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"WHOA...!!! Apa yang terjadi? Dimana kita?" seru Mads dengan panik. Jeannie menatapnya dengan tenang, tangannya masih menggenggam Mads.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Kita sedang berdiri di atas gedung World Trade Center, New York, Amerika Serikat. Dua tahun lagi, tepatnya 9 September 2001, gedung ini akan rubuh karena ulah manusia. Begitu juga gedung yang berada di sebelah kita."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"APA?! BAGAIMANA KITA BISA DISINI? SIAPA SEBENARNYA KAMU?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Aku baru saja memindahkan kamu." jawab Jeannie masih dengan senyuman hangat dan nada tenang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Kamu men-&lt;i&gt;teleport&lt;/i&gt; saya?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Yaa, itulah istilah yang kalian gunakan."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"&lt;i&gt;Yang kalian gunakan&lt;/i&gt;? KAMU SIAPA?" kali ini Mads sudah benar-benar panik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Aku adalah apa yang kalian sebut dengan tuhan."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Mads tidak percaya apa yang baru saja dia dengar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Tu... Tuhan?" ulang Mads dengan bego. Jeannie hanya menggangguk ramah. "Tapi... Bagaimana mungkin... kamu cuma anak perempuan..."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"... yang baru saja menteleport kamu ke atas gedung ini. Sebenarnya aku bukan anak perempuan lho, ini hanyalah wujud sementara yang aku pilih supaya bisa berinteraksi dengan kamu, sebagaimana semua benda di bumi ini berinteraksi dengan objek dimensi tiga."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Tapi Mads tidak mendengar perkataan Jeannie. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dia menyahut, "Jangan bercanda ya! Aku tidak tahu apa yang kamu mainkan, tapi Tuhan itu tidak ada. Tidak ada yang namanya Tuhan di dunia ini. Itu hanyalah sebuah khayalan manusia. Aku pasti sedang bermimpi... aku.."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Jeannie melirik Mads dengan penasaran. "Oh ya, aku baru ingat, kamu ateis ya. Kamu tidak percaya dengan ajaran agama di sekolahmu. Aku mengerti. Kamu benar. Tuhan yang kalian manusia bayangkan, tidaklah nyata. Tidak akurat, setidaknya."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Maksudmu?" tanya Mads perlahan. Walau masih terpana dengan angin yang menyapu wajahnya dari atas lantai 110 gedung WTC, Mads berusaha tetap fokus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Yesus, El, Allah, Achaman, Indra, Zeus, semua gambaran kalian tentang tuhan tidaklah akurat. Kami tidak berwujud kakek tua berjenggot. Kami tidak tinggal di Surga dan kami tidak menghukum manusia di Neraka. Tapi kami omnipotent and omnipresent."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Apakah kamu menciptakan kita semua?" Tetap skeptis, Mads menuntut penjelasan lebih jauh. "Apakah kamu menciptakan alam semesta ini? Galaksi? Planet? Manusia? Semuanya?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Kali ini Jeannie tampak tersipu malu. "Er.. sebenarnya, aku hanya memberikan sedikit 'dorongan', lalu semuanya terjadi. Manusia adalah hasil reaksi kompleks dari bahan kimia di alam semesta ini, namun ya, bisa dikatakan akulah yang memulai semuanya. Aku cukup bangga dengan karyaku, tahukah kamu? Tidak seperti saudaraku. Dia mengira manusia adalah sebuah kesalahan. Sebuah cacat dalam kreasi yang maha agung."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Kamu punya saudara?" tanya Mads dengan takjub.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Iya, tentu saja." seru Jeannie, agak terkejut dengan pertanyaan Mads.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Eh?? Siapa dia?" pinta Mads lebih jauh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Kamu ingin tahu, Madison?" Mads mengangguk. Dia selalu penasaran dengan rahasia alam semesta, dan kali ini dia mendapat kesempatan untuk menguaknya. "Kalau begitu, marilah ku tunjukkan. Kencangkan sabuk pengamanmu!" Seru Jeannie bersemangat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Selama sepersekian detik, Mads merasa dia terbangun dari sebuah mimpi, karena pemandangan di sekitarnya tiba-tiba terasa "terkoyak". Gedung-gedung di sekitarnya terlipat seakan terbuat dari kertas warna. Langit biru tampak semakin biru, lalu warna birunya tersebar ke segala arah, memandikan pupil Mads seolah-olah ratusan kembang api dinyalakan di depan matanya, namun tanpa ledakan apa-apa. Suara Jeannie terdengar jelas di dalam kepalanya, sejernih pikiran Mads sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Kita sedang mengarungi ruang waktu, Mads. Aku membawamu ke Paris..."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Baru saja suara Jeannie berdengung di pikiran Mads, sekarang mereka sudah berdiri di sebuah tempat yang sangat indah. Sebuah piramid yang terbuat dari kaca dengan bingkai putih menjulang tinggi dari lantai. Langit telah berubah jadi gelap. Hari sudah malam dalam sekejap. Dan tempat ini di penuhi oleh banyak turis dan manusia dengan benda aneh yang terlihat canggih di tangan mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Dimana kita?" seru Mads yang baru saja menapakkan kakinya mencari keseimbangan di lantai yang juga terbuat dari kaca.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Musee du Louvre. Museum terbesar di dunia. Kita ada di Paris, Mads." Jeannie berdiri di samping Mads. Bajunya yang berwarna putih bersinar. Tak ada manusia lain yang peduli dengan hal itu, tampaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"PARIS?" seru Mads kaget. Dan sekali lagi, semua manusia disekiling mereka seakan tidak tahu seorang anak remaja Indonesia berpakaian seragam SMP dan sebuah Tuhan sedang ada disana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Yup, tepatnya di Paris hari Sabtu pukul 20.04 tanggal 19 November 2014."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Mads hanya melongo mendengar perkataan Jeannie. Dia tidak tahu harus berkata apa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Apa yang mereka pegang itu?" tanya Mads akhirnya, sebuah pertanyaan bodoh. Dia menunjuk sekumpulan anak-anak yang sibuk menggerakkan jemari tangannya di sebuah layar segiempat dan tampak sangat terbius olehnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Oh, itu namanya i-phone 5. Yang paling baru. Itu seperti sebuah telepon genggam. Kamu pernah dengar kan?" Mads hanya mengangguk terpesona sambil membayangkan nokia 3210 yang dibanggakan temannya Addie beberapa hari lalu, mengaku inilah gadget paling canggih di tahun 1999.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Kamu siap? Mads?" tanya Jeannie membangunkan Mads dari lamunannya. Mads hampir lupa menanyakan mengapa mereka ada disana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Namun sebelum Mads sempat berkata apa-apa, tiba-tiba mereka bergerak turun, atau itulah yang Mads kira. Dia memperhatikan semua orang menjadi semakin tinggi dan semakin jauh. Lantai kaca tempat dia berdiri terasa semakin dekat. Lalu dia sadar dia dan Jeannie sedang mengecil dalam ukuran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Sejenak, dia menjadi sebesar seekor kucing, lalu dia menjadi sebesar seekor semut, dan Mads melihat sepatu manusia di dekatnya membesar sampai seperti sebuah kapal Titanic. Langit seperti di zoom out sampai jauh sekali. Lalu Mads memasuki sebuah dunia yang dipenuhi oleh kristal-kristal. Mulutnya kembali menganga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Kita sedang mengecil, Mads. Sekarang kamu melihat kristal karena seperti inilah kaca terlihat di dalam sebuah mikroskop."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Lalu mereka bergerak lagi, kali ini tidak terasa seperti menyusut, lebih terasa seperti dunia disekitar yang bergerak-gerak, sedangkan Mads dan Jeannie hanya berdiri diam menikmati pemandangan aneh. Manusia dan langit sudah tidak terlihat lagi. Mads menoleh ke atas dan melihat semuanya hanyalah kristal-kristal yang semakin lama semakin besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Kemudian pemandangan berubah seluruhnya. Mereka seakan masuk kedalam sebuah kolam yang berisi butiran butiran kecil putih. Banyak sekali butiran-butiran itu menari-nari di sekeliling Jeannie dan Mads, dari kepala sampai kaki. Dari langit sampai tanah, bila masih ada langit ataupun tanah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Ini atom-atom kaca, Mads."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Kita sudah seukuran atom?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Haha... tentu saja belum. Kita masih lebih besar dari atom bukan?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Lalu pemandangan berubah lagi. Butiran itu semakin lama semakin besar, dan mendadak Mads merasa terjatuh kedalam salah satu butiran, seakan ia masuk ke dalam sebuah ruangan bundar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Kita berada di dalam satu atom bukan?" seru Mads. Dia ingat pelajaran fisika di sekolah yang mengatakan di dalam satu atom ada proton, elektron, dan neutron. Mads melihat sekeliling dan melihat banyak butiran kecil yang saling berdekatan, dia memikir kalau itu pasti proton dan neutron, yang selalu bersama. Tapi tidak tampak elektron dimana-mana. Elektron seharusnya bergerak mengitari inti atom bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Iya." jawab Jeannie santai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Mana elektron?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Jeannie menunjuk sesuatu yang muncul tiba-tiba di kejauhan lalu menghilang lagi. Bentuknya bundar dan bercahaya, namun hanya muncul sekilas. Ukurannya sangat kecil bila dibandingkan dengan proton atau neutron.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Mengapa dia menghilang?" tanya Mads.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Elektron bukan seperti planet yang mengorbit proton dan neutron Mads. Dia adalah teman yang unik. Dia muncul di tempat-tempat tak terduga, dan bisa hilang tanpa kita sadari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Benar saja, sesaat setelah Jeannie mengatakan itu, tampak 3 elektron tiba-tiba muncul dan bergerak cepat di depan mata Mads lalu menghilang lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Wow! Aku baru saja melihat tiga elektron!" seru Mads dengan semangat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Tidak. Itu elektron yang sama. Di dunia ini, dimana pun kamu berada, di atom apapun, cuma ada 1 elektron di alam semesta ini. Elektron punya kemampuan untuk berada di beberapa tempat yang sama dalam waktu yang sama. Dia juga mampu kembali ke masa lalu atau masa depan. Elektron yang datang dari masa depan tidak boleh menyentuh elektron dari masa sekarang, atau akibatnya akan terjadi pelepasan energi. Itulah yang kalian sebut dengan antimatter."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Mads semakin tertarik. Dia sering mendengar tentang bagaimana Antimatter adalah sebuah partikel yang kutubnya terbalik dari materi biasa, namun dia tidak pernah menduga mereka adalah materi yang berasal dari masa depan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Tapi Mads belum sempat menyelidiki lebih jauh, mereka bergerak lagi. Pemandangan di sekitar mereka berubah lagi. Elektron yang kecil sudah tak kelihatan dimanapun, dan neutron yang tadi jauh sekarang terasa semakin dekat dan semakin besar. Lalu Mads dan Jeannie terjatuh lagi ke dalam neutron. Mereka masuk ke dalam butiran besar itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Mads tidak pernah tahu apa yang ada didalam Neutron. Di sekolah belum diajarkan sampai sejauh itu. Dia menduga akan melihat sesuatu yang spektakular, maka Mads kecewa ketika melihat butiran lain lagi di dalam neutron.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Ini quarks." sahut Jeannie pada Mads yang bingung. "Mereka ukurannya jauh lebih kecil dari elektron."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Mads hendak bertanya apa itu quarks, namun mereka telah masuk lagi ke dalam quark itu. Kali ini pemandangannya berubah drastis. Semuanya menjadi gelap hitam. Dan di kejauhan ada seperti cahaya yang bergerak-gerak lambat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Kita sedang berada di dalam quark, kan?" tanya Mads. Jeannie mengangguk, lalu berkata :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Kita sudah berada dalam dunia supermikroskopis. Jika kamu membayangkan sebuah atom sebagai sebuah galaksi, sekarang ukuran kita seperti sebuah pohon di dalam galaksi tersebut. Begitu kecilnya lah kita sekarang."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Tercengang, Mads memikirkan belum setengah jam lalu dia masih berada di sekolahnya di Indonesia, hidup normal. Tapi sekarang dia berpetualang di dunia aneh dengan seseorang yang mengaku Tuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Akhirnya, perjalanan mereka sampai pada cahaya kecil tadi. Ternyata itu bukan cahaya, namun sebuah tali (string) yang tampak bergetar-getar, hampir mirip dengan sebuah senar gitar yang dipetik oleh manusia kasat mata. Warnanya biru putih terang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Ini String. Sebuah bentuk energi yang menopang semua materi di alam semesta. Semua materi di dunia terbuat dari helai energi ini. Bahkan, pada tahun 2004, manusia sudah bisa menemukan rahasia string ini. Mereka menyebutnya String Theory. Mereka tidak bisa membuktikan teori itu tentunya, karena mereka tidak bisa melihat sedalam ini." Jelas Jeannie seakan-akan dia adalah guru fisika biasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Jadi inikah benda yang paling kecil? Inikah ujung dari dunia super kecil?" tanya Mads.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Ujung? Sejak kapan alam ini memiliki ujung? Kecil hanyalah relatif. Kita bisa bergerak lebih kecil dari ini lagi, Madison. Ayo."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Dan mereka kembali bergerak. String yang bergerak-gerak ukurannya bertambah besar, dan bertambah lebar. Sekarang string itu tampak menjadi sebuah membran, seakan-akan string itu tertarik, stretch. Lalu Mads masuk ke dalam membran itu dan sekelilingnya menjadi pendar-pendar cahaya... menyilaukan sekali, dia berusaha menyipitkan matanya, namun tetap saja silau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Lalu semuanya menjadi gelap lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Apa? Bagaimana bisa?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Mads tercengang melihat pemandangan di sekitarnya. Di kejauhan, tampak beberapa galaksi sedang bersandar santai di ruang vakum ruang angkasa. Jeannie masih berdiri di sampingnya, namun ketika Mads melihat ke bawah, dia sadar dia sedang menginjak ketiadaan. Seolah-olah dia sedang melayang di ruang vakum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Bagaimana kita bisa menjadi di ruang angkasa?" tanya Mads kagum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Memang inilah yang ada di dalam string itu, Mads. Jika kamu terus mengecil, maka kamu akan menemukan Bima Sakti, menemukan Tata Surya mu, menemukan Bumi mu, menemukan dirimu, atom, quark, string, dan begitulah seterusnya. Alam semesta ini tidak punya ujung. Sekarang kamu tahu rahasianya, Mads."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"WOW..." masih mencoba mencerna semuanya, Mads menoleh kepada Jeannie. "Jadi kamu benar-benar Tuhan, Jeannie?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Jeannie tersenyum. "Namaku bukan Jeannie. Itu hanya sebuah kata. Tidak ada artinya. Aku bukanlah sebuah mahkluk, Mads. Aku bukan Tuhan. Tidak ada tuhan di alam ini. Yang ada hanyalah Energi. Aku adalah Energi yang menciptakan alam ini, beserta dengan manusia dan seluruh isinya. Aku dan Saudaraku, lebih tepatnya. Saudaraku juga suatu bentuk energi, Mads. Tapi kamu bisa mengatakan dia energi yang jenis nya berbeda denganku. Kalian manusia biasa menyebut energiku energi positif, baik, suci, tuhan. Dan Saudaraku, kalian biasa menyebutnya energi negatif, buruk, terkutuk, iblis. Tapi apalah artinya sebuah nama, Madison? Bersama-sama, kami berdua menjaga kestabilan semuanya."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Mads masih terkagum-kagum dengan perkataan Jeannie.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Jadi inikah semuanya? Rahasia yang ingin sekali diungkap manusia?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Oh, jangan salah paham, Mads. Ini hanyalah semesta yang bisa dimengerti oleh nalar kalian, mahkluk yang hanya bernaung di dimensi tiga. Aku berada di tempat lain. Ada banyak dimensi di semesta ini. Dimensi yang tidak akan pernah bisa di mengerti atau dikunjungi manusia karena keterbatasan fisik ataupun pikiran. Tapi yah, sejauh ini saja lah yang bisa kalian capai."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Mengapa kamu menunjukkan semua ini padaku, Jeannie? Mengapa aku? Aku hanyalah seorang lelaki biasa. Aku hanyalah seorang anak normal."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Tentu saja kamu bukan hanya anak normal biasa, Madison. Kamu menahan semua siksaan pada hidupmu. Kamu tidak menyerah walaupun dipukul Bruno, dihajar Wendall. Itu mungkin hanya hal kecil dan tak berarti bagimu, tapi bagi ku, perbuatan-perbuatan kecil adalah kunci dari segalanya."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Kamu tadi bilang mau meminta bantuanku. Apa maksudmu dengan itu?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku, Mads."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Apa?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Aku ingin kamu hidup dalam kehidupanmu apa adanya. Jangan menyerah dengan cobaan yang datang. Aku menunjukkan ini semua padamu karena kamu adalah anak yang spesial, Mads. Kamu akan tumbuh besar dan membantu banyak orang. Tapi kamu akan melakukan itu sesuai dengan keinginanmu sendiri, sesuai dengan hati nuranimu. Dan ketika saatnya tiba nanti, kamu akan memulai tugas aslimu."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Apa tugas itu?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Lalu pemandangan galaksi di sekitar Mads terkoyak lagi, seperti ketika berada di atas gedung WTC tadi. Mads terasa terangkat, dan sesaat kemudian, dia sudah kembali di gudang sapu di sekolahnya. Jeannie sudah hilang. Namun suaranya masih terdengar di benak Mads.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Kamu adalah aku. Aku adalah dirimu. Suatu saat nanti, kamu akan menjadi aku."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Mads membuka pintu gudang dan menemukan Bruno dan ketiga temannya sudah menunggunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Berikan PR fisikamu, Tikus jelek." sahut Bruno dengan mengancam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;"Buat sendiri PR-mu Bruno. Aku tidak akan memberikan ini padamu."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Lalu pukulan demi pukulan mendarat di tubuh Mads. Tapi Mads membalas dengan semampunya. Ketika mulutnya mengeluarkan darah merah, Mads sadar dia telah membuat Bruno, Wendall, Talli, dan Zack berdarah juga. Dengan nafas tersengal-sengal, Mads mengepal tangannya, "Hosh.. Hosh... Kau pikir bisa seenaknya mengganggu? Hosh.. Hosh.. Ayo!"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Bruno melihat bibirnya sendiri yang berdarah, melihat Mads yang tidak menyerah, lalu akhirnya dia pergi meninggalkan Mads sendirian. Ketiga temannya mengikutinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Mads berjalan dengan perlahan ke dalam kelas. Guru membukakan pintunya. Dia melihat Mads yang mulutnya berdarah dan berkata, "Kemana saja kamu, Madison? Kelas sudah dimulai. Kita baru saja membahas apa yang ada di dalam sebuah atom. Kalau kamu tahu jawabannya, kamu boleh masuk dan duduk."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Sambil mengusap darah dan keringat dari bibirnya, Mads tersenyum pintas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;--o0O&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;O&lt;/span&gt;O0o--&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;Cerita ini hanyalah fiksi belaka, segala kesamaan tokoh dan cerita merupakan kebetulan belaka. Cerpen ini ditulis oleh Bambang Superwan. Di publish pertama kalinya pada blognya http://leavedstory.blogspot.com/ pada tanggal 28 April 2011.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Trivia : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;Nama Mads berarti "Gift from God" (hadiah dari Tuhan).&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;Nama Jeannie diinspirasi dari kata Genie (jin dalam wujud wanita)&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;String Theory benar-benar ada, namun versi terbaru nya disempurnakan bukan pada tahun 2004, melainkan tahun 1994, oleh ilmuwan Edward Witten. Teori itu bernama M Theory yang sampai sekarang masih dianggap teori yang mampu menjelaskan segalanya. Einstein sendiri berusaha keras untuk menemukan teori seperti ini sebelum dia meninggal, namun dia kehabisan waktu. Cita-cita Einstein adalah untuk "membaca pikiran Tuhan".&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;Judul untuk cerpen ini sulit diputuskan, beberapa diantara pilihan judulnya adalah : The Epiphany, Kecil itu Relatif, Aku dan Tuhan.&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 1.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22545138-1260389156874684660?l=leavedstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://leavedstory.blogspot.com/feeds/1260389156874684660/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22545138&amp;postID=1260389156874684660' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/1260389156874684660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/1260389156874684660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://leavedstory.blogspot.com/2011/04/dunia-kecil.html' title='Dunia Kecil'/><author><name>Soliloquist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10187976455571298101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_uoAFuqGlVvg/SXm21Yss2jI/AAAAAAAAAEE/BjlsPN2WaZs/S220/IMG_0162.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22545138.post-5065273936256822755</id><published>2007-11-24T22:01:00.000-08:00</published><updated>2007-11-25T00:42:29.516-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Romance'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Death'/><title type='text'>HIDUP / MATI  [PART TWO]</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Ini adalah bagian kedua dari cerita "HIDUP / MATI". Bagian pertama ada&lt;/span&gt; &lt;a href="http://leavedstory.blogspot.com/2007/11/hidup-mati.html"&gt;disini.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;This is the second part of the story "HIDUP / MATI". The first part is right&lt;/span&gt; &lt;a href="http://leavedstory.blogspot.com/2007/11/hidup-mati.html"&gt;here.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;All Characters and Events are mere fiction. All rights belong to Bambang Superwan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;---------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hari itu adalah hari yang biasa saja. Langit ungu dan merah ber-aurora ria tanpa ada yang mengusik, tanpa ada yang mengagumi, bahkan, tanpa ada yang melihat ke atas. Aku hanya berdiri diam di bawahnya, begitu juga bermilyar-milyar orang lain. Aku tidak melihat wajah mereka satu per satu, karena terus terang saja, aku tidak peduli. Tapi menurut imajinasiku—yang tersisa akibat keteguhan memori Shella, aku bisa membayangkan kalau mereka adalah orang-orang yang sudah mati entah sekarang, atau di masa yang lampau. Ada orang-orang yang tua, ada yang sebaya denganku, dan bahkan ada anak-anak kecil. Mereka semua diam tak bergeming, hampir sama dengan apa yang aku lakukan sekarang. Hanya saja, sesuatu terjadi pada tubuhku, sedetik kemudian—bukan, sepersepuluh detik kemudian, ada sesuatu yang bersinar di sekelilingku. Semakin lama semakin terang... Aku menundukkan kepalaku, mencoba melihat tangan dan kakiku. Betapa senangnya aku, aku dapat melihatnya, dan bukan itu saja... Aku bersinar! Tubuhku bersinar. Akhirnya ini terjadi juga... sinar kuning ... persis seperti yang berada di atas tempat tidurku dulu...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Shella...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya yang benar-benar sempurna melayang-layang di depan bola mataku. Tapi entah kenapa aku tidak bisa melihat tubuhnya... Mungkin sama alasannya aku tidak bisa melihat tubuhku sendiri. Aku memperhatikannya dengan lekat. Ia memandangku balik dengan senyuman yang begitu hangat. Perasaanku tidak pernah senyaman ini. Lalu aku merasakan jemarinya memelukku. Selama beberapa saat, aku berpikir kalau aku sudah berada di Surga, sebelum tiba-tiba semuanya berpudar. Wajah Shella menjadi mundur. Genggaman tangannya merenggang. Pemandangan ruang OR yang berada di bawah ku mulai mendistorsikan diri mereka. Tubuhku yang tergeletak di tempat tidur itu seakan kehilangan warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku, dokter-dokter, dan ruangan itu berbaur menjadi warna-warna yang tak bisa kupahami. Aku bisa mendengar suara sayup-sayup di belakang ku, di depan ku, dari atas... dari segala arah. Aku mengenali beberapa suara. Aku yakin aku mendengar suara E.L ... “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dia dioperasi sekarang, aku tidak tahu.... aku harap...&lt;/span&gt;”, lalu ada beberapa suara lain yang tidak aku kenal, masing-masing berseru sesuatu tentang pernikahan, dan ada suara seorang anak yang memanggil ibunya. Dan suara itu datang mendadak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Shella memanggil-manggil namaku, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Alex, Alex, Alex...&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sesuatu yang lebih aneh terjadi, ketika aku mendengar suaraku sendiri berkata membalas Shella, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku disini...&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkuak diantara perasaan bingung, takut, dan bahagia. Aku melihat seorang wanita tua berbaring tak jauh dari pandanganku, sedangkan wajah Shella yang tadi semakin mundur menjauh. Aku tidak mengenal wanita tua itu, tapi entah mengapa aku merasa sesuatu bergolak ketika aku melihatnya. Tanpa sadar, aku bergumam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Shella...&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak ada yang terjadi, seakan tidak ada yang mendengar suaraku, tidak wajah Shella, tidak pula wanita tua yang lemah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bau tubuh Shella mendadak mengitari jiwaku. Aku mencoba menyentuh Shella yang masih mundur perlahan-lahan, tapi mendadak Shella tersenyum padaku dan aku bergerak mundur cepat sekali dengan Shella mengikutiku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku tertarik mundur dengan kecepatan tinggi, kedua bola mataku terkabur oleh kepekatan yang kental dan berpasir, namun tak ada butir-butir yang mengelus kulitku. Aku tidak merasa panas, tidak merasa dingin. Buta akan posisi tubuhku, kubayangkan diriku seperti tersedot dalam sebuah pipa raksasa, tak berakhir, tak berujung... Berjuang akan keberadaanku, aku memaksa mataku untuk dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang di rumah sakit itu sudah menghilang, begitu juga bayangan wanita tua tadi. Wajah Shella yang mengikutiku perlahan-lahan juga memudar, sampai akhirnya terkikis oleh butiran pasir yang menyelubungi tubuh bergerakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“TIDAK!!! SHELLA!!!” Aku berteriak, namun entah mengapa, aku merasa seperti hanya diriku sendiri yang mendengarnya. Kemudian aku sadar, kalau teriakan itu bukanlah berasal dari mulutku, melainkan dari pikiranku. Aku sudah mati. Aku pasti sudah mati. Itu menjelaskan mengapa aku tidak mempunyai tubuh lagi tapi pikiranku masih melekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa berpikir lebih jauh lagi. Pipa tak berakhir itu tampaknya menjadi semakin rapat dan menekanku dari segala arah. Aku pasrah, membiarkan ia menarikku entah kemana. Pada saat itulah, aku mendengar sebuah deringan yang menyebalkan. Hampir sama seperti suara dering telepon, kecuali suaranya tidak terputus-putus dan volume suara ini begitu keras. Aku tidak bisa melihat lagi. Aku membayangkan tubuhku—kalaupun masih ada, sedang dibentur-benturkan kemana-mana dengan kecepatan tinggi. Rasa sakit yang rasanya tak mungkin berakhir itu membuatku hampir gila, jadi kaget sekali aku ketika semuanya berakhir secepat ia terjadi. Tahu-tahu, aku sedang melayang santai disebuah ketidakadaan. Aku membuka mataku dan kali ini, aku bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dengan perasaan gugup, aku melihat tubuhku menjadi utuh lagi. Kaki dan tanganku semuanya ada pada tempatnya. Masalahnya hanya satu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aku&lt;/span&gt; lah yang tidak berada pada tempatnya. Aku sedang melayang dengan posisi tubuh terlentang rileks, wajah menghadap atas—atau setidaknya kukira aku menghadap sesuatu yang pantas dikatakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;atas&lt;/span&gt;. Sekelilingku semuanya adalah langit tak berlantai dan tak beratap. Semuanya berwarna ungu keputih-putihan. Ada sebuah fluida ungu yang memberinya warna, bukan gas, bukan cairan. Suasananya sunyi dan hening. Tidak ada orang disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo, Alex.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memutar tubuhku sambil tersentak kaget. Ada seseorang lelaki di belakang kepalaku. Aku memperhatikan wajahnya. Ia memakai baju putih yang cemerlang, hampir bersinar sendirinya. Wajahnya sangat bersih, namun ia memiliki janggut coklat dan mata yang bersahabat, kelam, tapi ramah. Rambutnya lumayan panjang, bergelombang namun rapi. Ia juga melayang-layang, seperti aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu Tuhan?” aku bertanya bego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa? Aku? Bukan, aku bukan tuhan.” lelaki itu menuturkan kata-kata itu dengan tenang, tanpa ekspresi, datar namun terkesan ramah. Ada sesuatu yang aneh dengan lelaki ini. Aku bisa merasakan kedamaian ketika aku menatap matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa aku sudah mati?” Aku bertanya lagi, hampir putus asa menginginkan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.” Dia mengangguk dan tersenyum. Nada bicaranya masih datar. Dan pada saat itu, aku akhirnya yakin kalau aku sudah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dapatkah aku kembali?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menjadi hidup lagi?” dia bertanya balik, lalu menjawab dirinya sendiri, masih sama datarnya. “Alex, kamu sudah meninggalkan tubuhmu dan kamu tidak bisa kembali ke dalam tubuh itu lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku bisa kembali, bukan? Sebagai hantu?” aku memaksanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hantu. Itulah yang kalian manusia di sana menyebutnya. Tidak ada yang namanya hantu, Alex. Kamu bisa kembali, ya, tapi kemungkinannya sangatlah kecil, dan tidak ada yang bisa kamu lakukan walaupun kamu berhasil kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa?” tuntutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena kamu tidak benar-benar kembali. Begini, apa yang kamu sebut dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kembali&lt;/span&gt; sebagai hantu itu, hanya bisa terjadi ketika pikiran seseorang yang sudah mati masih terpaut pada suatu hal yang duniawi. Dan kamu tidak benar-benar bisa kembali kesana, hanya pikiranmulah yang bisa berkelana kembali ke dunia itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak mengerti.” sahutku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja kamu tidak mengerti. Kamu tidak seharusnya mengerti anomali seperti ini. Rahasia penghubung dunia ini dengan dunia lamamu tidak terletak pada jiwamu, melainkan pikiranmu. Jiwamu akan berada bersama dirimu selalu, Alex. Pikiranmu lah yang bisa berkelana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kalau begitu, pikiranku bisa kembali?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayangnya, iya. Tidak banyak manusia yang bisa meninggalkan pikiran mereka, hanya beberapa yang bisa, ialah mereka yang mempunyai sebuah kualitas khusus ketika mereka mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kualitas apa?” tukasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cinta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandangnya dengan tekun. Ia masih setenang tadi. Melihatku tak bersuara, ia lanjut berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka yang memiliki kualitas itu dapat meninggalkan pikiran mereka terikat di dunia manusia. Dan dengan melakukannya, mereka bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi dengan diri mereka di masa lalu kehidupan mereka, dan kadang bahkan masa depannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi itulah yang ku lihat dan ku dengar...” sahutku pelan, lebih kepada diriku sendiri. “Masa lalu ku... masa depan ku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, itulah yang kamu lihat. Tapi itu hanyalah imprint dari pikiranmu, kejadian itu dapat senyata realitas, tapi mereka sudah terjadi, atau belum terjadi. Kamu sudah mati. Apa yang kamu lihat berbaring di masa depanmu?” untuk pertama kalinya, lelaki itu terdengar penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mendengar suara teman baikku, E.L, suara seorang anak, dan aku melihat seorang wanita tua berbaring.” aku menuturkan dengan lantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh... begitu. Siapa sangka semesta ini begitu menarik?” Dan ia mendadak tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudnya?” aku bertanya balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh tidak, lupakanlah. Alex, ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Pikiran yang terpaut di dua dunia itu tidaklah baik. Kamu tidak bisa menjadi ‘penuh’ jika pikiranmu bergantung di tempat lain. Jadi dengan begitu, kamu harus mengambil keputusan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu?” tanya ku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sebelah sana, ada sebuah garis. Kamu harus memutuskan apakah kamu mau menyebranginya atau tidak. Jika kamu menyebranginya, maka kamu akan memasuki dunia yang baru, dunia yang penuh dengan kedamaian, dunia dimana tempatku berada.” Ia tersenyum sejenak. “Tapi ketika kamu melangkahi garis itu, maka semua pikiranmu, baik yang tertaut di tubuhmu dan yang tertaut di dunia itu, akan hilang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harus memilih?” aku bertanya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Dan pahamilah, Alex. Semua ingatan akan Shella akan hilang, sehingga kamu tidak mungkin bisa kembali lagi.” Dia memandangku dengan lekat untuk pertamakalinya seakan mengatakan kalau dia tahu semuanya tentang diriku, tentang Shella dan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi kalau aku memilih untuk tidak melewati garis itu?” tanyaku balik setelah beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka kamu akan terkirim ke sebuah tempat dimana manusia-manusia yang lain berada, dimana manusia-manusia yang juga memilih untuk tidak menghapus ingatan mereka berada. Mereka juga memilih untuk mempertahankan memori mereka, tapi kalau itu terjadi, kalau kamu memilih jalan itu, maka tidak ada yang tahu kamu akan terkurung disana untuk berapa lama. Dan pahami juga ini, Alex. Begitu kamu disana, kamu tidak bisa mendapat pilihan ini lagi, dan ini yang terpenting, kamu akan dikirim ke sebuah tempat yang akan memakan ingatanmu secara perlahan-lahan, sehingga pada akhirnya, kamu akan melupakan Shella juga. Dan pada saat itu, kamu akan menjadi sebuah jiwa yang ‘kosong’ untuk selamanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menelan ludah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pikirkan lah baik-baik, Alexander.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu lelaki itu mundur dan mulai menghilang, dan pada saat bersamaan, sebuah garis perak muncul di hadapanku. Garis yang mungkin terbuat dari gas yang dipadatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu! Berapa lama waktuku?” aku bertanya panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu akan tahu begitu kamu sudah memutuskan.” katanya pelan, datar, dan anehnya, dengan sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa kamu?” aku bertanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanyalah seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pembawa&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;(&lt;/span&gt;baca : Carrier&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;)&lt;/span&gt;. Aku bertugas mengantarkan kamu Alex, tapi sayangnya, aku tahu pasti apa jalan yang akan kamu ambil.” Sedetik kemudian, Pembawa itu menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melayang disana, ragu-ragu selama beberapa detik. Aku mencoba mendekati garis itu. Aku bisa melakukannya. Ketika aku semakin dekat kesana, aku berhenti mendadak. Lalu aku hanya berhenti saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah jalan menuju kedamaian tanpa Shella dan jalan lain menuju Shella, yang seram dan pada akhirnya akan membuatku melupakan Shella. Aku menutup mataku rapat-rapat selama beberapa lama. Dan ketika aku membukanya lagi, garis itu sudah tidak ada disana lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada detik aku menyadari kalau garis itu sudah hilang, aku terjatuh kedalam sebuah terowongan lain. Kali ini terowongan itu terasa sangat kasar. Ada butiran-butiran kristal yang menggesek kulitku. Aku merasa dingin sekali. Tubuhku gemetaran. Aku tahu, kalau aku sedang ditransfer ke ‘tempat’ mereka yang memilih keputusan yang sama denganku. Aku bertanya-tanya ada berapa orang yang berada di tempat itu, dan apakah mereka orang-orang yang ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendarat di sebuah lantai keras berwarna ungu campur merah. Aku berdiri saja. Tidak ada tanda-tanda bahwa aku baru saja terjatuh dari langit atau apa. Tidak ada tanda-tanda kalau aku baru mengerem dengan cepat. Aku hanya berdiri saja di suatu tempat yang baru. Aku sudah sampai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku terbelalak. Aku sedang berdiri di tengah-tengah kumpulan ribuan, jutaan, bukan.... milyaran manusia yang umurnya bervariasi dari anak kecil sekitar sepuluh tahunan sampai orang tua sekitar seratus tahunan. Aku berpikir keras dalam hati. Kukira hanya sedikit manusia yang pikirannya terpaut di bumi. Kukira hanya sedikit manusia yang memiliki cinta di kehidupannya. Jika ini adalah sedikit menurut si Pembawa, aku tidak bisa membayangkan bagaimana maksudnya dengan kata ‘banyak’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua manusia di tempat datar nan luas ini berdiri diam seakan mati, tidak bergeming, tidak melihat diriku. Pandangan mereka tampaknya terfokus akan sesuatu dan wajah mereka semua tanpa ekspresi. Aku bertanya-tanya apakah aku juga demikian. Lalu aku sadar kalau mereka semua telanjang. Dan aku juga telanjang. Aku sudah telanjang sejak aku berbicara dengan si Pembawa itu. Tapi tampaknya aku tidak peduli. Aku juga tidak merasa malu. Semua itu tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya-tanya apakah mereka sudah kehilangan pikiran dan kesadaran mereka. Apakah mereka sudah berada disini begitu lamanya, sehingga mereka sudah melupakan apa itu hidup. Dan apakah aku akan menjadi seperti mereka? Kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hello?” Aku mencoba berbicara, tapi tidak bisa kugerakkan mulutku. Aku tidak mendengar suara apapun. Mungkin suara itu hanyalah pikiranku saja, atau mungkin ditempat ini gelombang suara tidak bisa merambat. Aku mencoba melihat ke atas, ke langit, dan walaupun kepalaku tidak bisa mendongak, aku bisa melihat langit. Langitnya sama persis dengan lantai. Sebuah fluida berwarna ungu dan merah berputar-putar, menari-nari seperti Aurora di bumi. Dimana aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba menggerakkan tubuhku tapi tidak bisa. Aku mencoba menangkap pandangan manusia lain, tapi tidak bisa. Lalu sesuatu terjadi di kejauhan. Di ujung sudut mataku, ada sesuatu yang tiba-tiba bersinar. Cukup lama untuk aku menyadarinya. Lalu cahaya kuning itu padam. Aku menutup mataku dan kali ini, aku bisa melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa terkejutnya aku, wajah E.L mendadak hadir di depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Shella, kamu kelihatan cantik sekali.” E.L berkata padaku. Aku tersentak kaget, namun akhirnya menyadari kalau E.L sebenarnya memandang seseorang di belakang tubuhku. Aku berbalik dan menerima shock lain. Aku melihat Shella yang memakai gaun merah memukau. Namun dia bukan lagi Shella yang aku kenal dulu. Dia pasti sudah berumur tiga puluhan, walaupun wajahnya yang cantik masih sama manisnya dengan Shellaku. Aku melihat dia sedang tersenyum dengan puas. Sepertinya ini hari yang sangat berbahagia baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Thanks, Erick. Kamu benar-benar teman yang baik, mau datang jauh-jauh dari California hanya untukku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Shella yang lebih dewasa membuatku bergetar dalam hati. Tampaknya mereka tidak bisa melihatku. Aku merasa tubuhku hanyalah bagaikan bayangan tak nyata yang bisa mendengar dan melihat mereka, tapi tidak sebaliknya. Hanya pikiran. Lalu tubuhku bersinar. Semua sel di tubuhku mengeluarkan cahaya kuning yang hanya aku yang bisa melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berbalik menatap E.L. Sahabat baikku juga sudah jauh lebih dewasa dan sukses. Dia memakai jas yang membuatnya tampak seperti orang kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja aku harus datang melihat teman terbaikku merayakan 10 tahun anniversari pernikahannya. Dimana suamimu, dimana Vinc? Aku mesti memberinya selamat. Dia bahkan belum tahu aku datang.” sahut E.L&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ada sebuah suara melengking dan seorang yang kecil berlari menabrak Shella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama! Mama, lihat, aku bisa menerbangkan pesawatku ini!” sahut bocah itu girang, memperlihatkan pesawat remote controlnya terbang melayang-layang. Dia tidak mungkin lebih tua dari 8 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, Alex. Jangan ganggu mama dulu. Mama mau bersiap-siap untuk pesta. Ayo pergi main ke atas.” sahut Shella penuh kasih sayang pada anak itu. Aku memandang anak Shella dengan kagum. Ia punya mata ibunya yang hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu, Shel? Alex pasti akan bahagia kalau dia tahu keadaanmu sekarang.” kata E.L. Shella memandang E.L dari dekat, lalu Shella tersenyum padanya, senyum yang begitu aku rindukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku rindu padanya, Erick. Terutama hari ini, entah mengapa aku selalu ingat padanya. Dan iya, aku tahu dia pasti bahagia aku punya hidup sebaik ini. Itulah yang dia mau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa menggambarkan perasaanku, tapi jika aku harus menjelaskannya, aku merasa tercabik diantara perasaan sedih dan euforik. Aku begitu bahagia karena Shella selamat dari kecelakaan itu. Belum lagi karena dia berhasil menjalani hidup yang bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengerti kalau aku harus kembali, maka aku tersedot ke belakang, seperti yang sudah sering aku alami. Lalu beberapa saat kamudian aku membuka mataku. Aku kembali memandang milyaran manusia kosong di hadapanku. Perkataan Shella masih mengiang-ngiang di benakku. Begitu juga wajahnya, wajah teman baikku, wajah anak Shella yang namanya diberikan berdasarkan namaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara aku terhanyut dalam kebahagiaan yang diberikan memoriku, aku tidak sadar aku sudah berdiri berapa lama. Hari dan Bulan berganti, tahun berselang seperti satu hari. Aku masih tetap berdiri. Hidup bahagia dalam kenanganku... sebelum mereka menghilang selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Rasanya sudah lama sekali aku berdiri, tapi aku tidak tahu sudah berapa tahun berlalu, berapa abad... aku berdiri dengan perasaan kosong. Aku tidak peduli dengan sekitarku lagi. Aku tidak ingat wajah E.L lagi. Aku tidak berkedip. Aku hampir kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku merambat dengan sangat lambat. Aku susah berpikir, tapi di dalam lubuk hatiku, aku tahu kalau aku harus berjuang. Aku tidak akan membiarkan tempat ini memakan habis semua memoriku. Aku harus memikirkan Shella, karena hanya dialah satu-satunya yang tersisa di pikiranku. Lalu aku memejamkan mata, tahu benar kalau ketulusan pikiranku akan membuka jalan kembali menuju dunia manusia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Aku melayang-layang di sudut kiri atas sebuah ruangan yang tampak familiar. Sebuah OR. tapi ini bukan OR tempat aku mati dulu. Ini ruangan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat ke sekeliling. Ada seorang wanita tua berbaring di tempat tidur. Dua dokter muda disampingnya. Aku melayangkan pandanganku menembus ruangan itu, menuju ruangan lain. Aku melihat seorang laki-laki tua sedang duduk, pandangannya cemas. Seorang lelaki tua lain yang wajahnya mirip E.L berdiri di depannya. Aku tahu siapa lelaki yang satu lagi. Dia suami Shella, Vinc. Lalu seorang laki-laki 40 tahunan yang matanya mirip dengan mata Shella tiba menghampiri E.L. Alex sudah dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali masuk ke ruangan operasi dimana Shella sedang berbaring. Dia sudah sangat tua dan lemah. Aku mendekatinya dan tubuhku bersinar lagi. Cahaya kuning keluar sekali lagi dari setiap senti tubuhku. Aku diselimuti berbagai perasaan seperti kali itu. Aku merasa sedih dan senang. Aku melihat mata Shella yang terpejam. Aku tahu kalau waktu Shella sudah habis di dunia ini. Dia akan segera menyusulku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Shella...&lt;/span&gt;” aku mencoba berseru, tanpa ada suara yang keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku yang bersinar sama sekali tidak memberikan efek apa-apa bagi dokter yang menanganinya. Mereka berusaha mengembalikan nafas Shella, namun aku tahu kalau dokter itu pasti sudah sadar juga kalau Shella sudah pergi. Aku melihat kedua dokter itu menghela nafas. Mereka saling memandang, lalu dokter yang lebih tua berseru,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakan, Dok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu kematian, 23.45.” seru dokter yang lebih muda dengan pahit. Lalu dia menutup wajah Shella, membiarkan dia istirahat untuk terakhir kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hari itu adalah hari yang biasa saja. Langit ungu dan merah ber-aurora ria tanpa ada yang mengusik, tanpa ada yang mengagumi, bahkan, tanpa ada yang melihat ke atas. Aku hanya berdiri diam di bawahnya, begitu juga bermilyar-milyar orang lain. Hanya saja, sesuatu terjadi pada tubuhku, sedetik kemudian—bukan, sepersepuluh detik kemudian, ada sesuatu yang bersinar di sekelilingku. Semakin lama semakin terang... Aku menundukkan kepalaku, mencoba melihat tangan dan kakiku. Betapa senangnya aku, aku dapat melihatnya, dan bukan itu saja... Aku bersinar! Tubuhku bersinar. Akhirnya ini terjadi juga... sinar kuning ... persis seperti yang berada di atas tempat tidurku dulu... persis seperti ketika aku melihat masa depan Shella dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dari ribuan manusia di hadapanku, aku melihat sebuah bayangan hitam, semakin lama semakin jelas. Efeknya sama persis seperti mimpiku dulu. Ah, rasanya sudah berzaman-zaman yang lalu. Lalu bayangan hitam itu memudar dan memuda. Aku bisa melihat wajah Shella. Karena seperti aku, dia juga bersinar. Dia tersenyum. Sebuah senyum yang sangat gemilang dan memabukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shella sama sekali tidak bertambah umur. Dia tampak sama seperti ketika aku mati dulu, hanya tanpa luka segorespun, dia sempurna. Telanjang dan bersih, dia berjalan menuju aku. Aku mencoba melangkahkan kakiku. Aku bisa melakukannya. Aku berjalan menujunya. Kami berjalan menuju satu sama lain. Pelan dan tanpa berlari, mata kami bertemu di sepanjang waktu. Aku bisa melihat kerinduan bersimbah dari matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ketika kami sudah begitu dekat, aku mencoba berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai.” kataku tanpa ada suara yang keluar. Tapi itu tidak masalah, karena Shella mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai.” balasnya manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggandeng tangannya. Dan ketika aku melakukannya, semua manusia lain yang berdiri di sekitar kami menghilang dalam sekejap, dan sebagai gantinya, ada sebuah garis perak yang indah terbentang di hadapan tubuh kami yang bersinar. Aku terpana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Pembawa berdiri di seberang garis itu, memandangku dengan penuh senyuman bahagia. Aku menoleh pada Shella, yang mengiyakanku, seakan tahu persis apa yang harus kami lakukan. Aku menggenggam erat tangan Shella, dan kami menyeberang melewati garis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak perlu kedamaian yang dijanjikan si Pembawa.&lt;br /&gt;Aku sudah memilikinya bersama Shella di sisiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;S E L E S A I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S : Cerita ini terinspirasikan oleh lagu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;David Gates&lt;/span&gt; yang berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Find Me&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini teks lagunya. Lihat bagaimana cerita ini dibuat from Song to Script :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Find Me&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The skies are not as blue, when you're not with me&lt;br /&gt;The stars, they never seem to shine as bright&lt;br /&gt;And the hours crack like days across the ages&lt;br /&gt;And &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;a year or two pass by with every night&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;It makes me know if i should ever leave this world before you do&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;When you follow you must promise, cross your heart and promise to&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Find me...&lt;/span&gt;look hard, and dont stop, I'll be waiting 'till then&lt;br /&gt;Dont sleep, and dont eat '&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;till I'm back, back in your arms again&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;I dont wanna have to spend all my forever without you.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Just knowing that your out there somewhere too.&lt;br /&gt;So darlin...please I'm begging you on bended knee...&lt;br /&gt;Find me...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I've tried to tell this world how much i love you.&lt;br /&gt;But they dont understand how deep it goes.&lt;br /&gt;And i can't even find the words to tell you&lt;br /&gt;So I'm the only one who really knows.&lt;br /&gt;And though we have our times together, I am always wanting more&lt;br /&gt;So if we get separated wont you do just like before and&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Find me...look hard and dont stop, I'll be waiting 'till then&lt;br /&gt;Dont sleep, and dont eat 'till I'm back, back in your arms again&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Through a hundred million faces you will see me shinning through.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;'Cause &lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;I'll glow&lt;/span&gt; when you come close , I always do.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;So darlin' please im begging you on bended knee..&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;We can share our love through all eternity&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;'Cause with you is all i ever wanna be......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Find me &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;Trivia :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penelitian para ahli tentang hidup setelah kematian, kebanyakan manusia yang mati suri &lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;(&lt;/span&gt;dinyatakan mati secara medis dan hidup kembali&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;)&lt;/span&gt; menunjukkan pola yang sama, dimana mereka semua mengalami "petualangan di luar tubuh", "melihat tubuh mereka yang terbaring", "memasuki terowongan panjang", "mendengar dering-dering bunyi yang menyebalkan", "bertemu sebuah mahluk cahaya yang memberitahukan masalalunya", dan "melihat sebuah garis perbatasan antar dunia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt; (&lt;/span&gt;penulis&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;)&lt;/span&gt; mempercayai bahwa ada kehidupan setelah kematian, dan apa yang ada di dalam cerita ini tidak sepenuhnya imaginasi belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Oleh : Bambang Superwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22545138-5065273936256822755?l=leavedstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://leavedstory.blogspot.com/feeds/5065273936256822755/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22545138&amp;postID=5065273936256822755' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/5065273936256822755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/5065273936256822755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://leavedstory.blogspot.com/2007/11/hidup-mati-part-two.html' title='HIDUP / MATI  [PART TWO]'/><author><name>Soliloquist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10187976455571298101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_uoAFuqGlVvg/SXm21Yss2jI/AAAAAAAAAEE/BjlsPN2WaZs/S220/IMG_0162.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22545138.post-8031461720700786038</id><published>2007-11-19T02:32:00.000-08:00</published><updated>2007-11-24T22:33:00.627-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Romance'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Death'/><title type='text'>HIDUP / MATI  [PART ONE]</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Ini adalah bagian pertama cerita "HIDUP / MATI". Bagian Kedua ada &lt;a href="http://leavedstory.blogspot.com/2007/11/hidup-mati-part-two.html"&gt;disini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;This is the first part of the story "HIDUP / MATI". The second part is right &lt;a href="http://leavedstory.blogspot.com/2007/11/hidup-mati-part-two.html"&gt;here&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;All Characters and Events are mere fiction. All rights belong to Bambang Superwan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;----------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku tertarik mundur dengan kecepatan tinggi, kedua bola mataku terkabur oleh kepekatan yang kental dan berpasir, namun tak ada butir-butir yang mengelus kulitku. Aku tidak merasa panas, tidak merasa dingin. Buta akan posisi tubuhku, kubayangkan diriku seperti tersedot dalam sebuah pipa raksasa, tak berakhir, tak berujung...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membuka kelopak mataku, sebelum sepancar sinar kuning yang menyilaukan memandikan retinaku. Tapi sinar itu memudar perlahan-lahan, menyisakan sebuah bayang-bayang kehitaman, sungguh kabur. Meskipun demikian, aku tahu persis apa yang ada di balik bayangan itu, karena beberapa detik kemudian, ia tersenyum padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu kelihatannya melongo.” suaranya merambat sampai ke telingaku, lambat namun pasti. “Benar-benar seperti saat pertama kali kita bertemu, kamu ingat tidak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak langsung menjawabnya, tapi mengubah ekspresiku dan melihat sekeliling. Sinar kuning itu berasal dari lampu terang di atas tempat tidurku, dimana aku sedang terbaring. Dan bayangan hitam itu adalah wajah Shella, yang tersenyum dan sempurna, hal terbaik yang bisa kudapat pada saat-saat seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja aku ingat, Shel, hari itu adalah hari terbaikku, aku merasa seperti orang yang paling beruntung di dunia, dan sejak itu hidupku berubah 180 derajat. Semuanya karena aku bertemu denganmu.” aku merasa seperti ada sebuah kehangatan menjalar di sela-sela pembuluh nadiku, memberiku kekuatan. “Berjanjilah padaku kamu tidak akan meninggalkanku, Shella.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shella mendekatkan duduknya dengan tubuhku, lalu dengan nyaman, ia meraih jemariku, menggumpalkan mereka dengan telapak tangannya, dan aku merasa kehangatan yang tadi kurasakan saling berbagi dengan kehangatan yang ia punya. Aku merasa satu, kami serasa satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi segalanya mulai terasa redup, volume suaranya juga mengecil.&lt;br /&gt;“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, janji.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Aku membuka kelopak mataku, segera setelah sepancar sinar kuning menembus masuk memandikan retinaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nyata sekali... tadi benar-benar terasa begitu nyata.” Aku mencoba mengepalkan tanganku, mencari-cari kehangatan yang tadi menenangkan jiwaku, tapi jari-jariku terasa begitu dingin. Jantungku berdegup kencang, tapi aku tahu, aku tahu tidak ada bayang-bayang hitam di depan mataku kali ini. Aku melihat sekeliling, sinar kuning itu berasal dari lampu yang berada di atas kepalaku, yang seperti tubuhku, terbaring di atas sebuah tempat tidur serba putih. Ruangan itu kosong, sunyi dan hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengulurkan tangan kananku ke udara, perlahan dan menyakitkan. Kegelapan menyelubungiku, menghadiahkan kesadaran akan apa yang telah terjadi, yang dalam sekejap berubah menjadi banjir kecemasan. Aku panik, aku mencoba untuk berdiri. Aku harus menemukan dia, apa yang terjadi dengan Shella?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arrgh!”&lt;br /&gt;Rasa sakit yang menyengat menyerang pinggangku, aku menyentuhnya dengan tangan kananku, yang baru pada saat itu kusadari, ada sepucuk jarum dibawah kulitku, dibawah sebuah perban putih di lenganku. Mereka juga sudah membalut pinggangku. Tapi aku tidak peduli. Satu-satunya hal yang penting di dunia ini adalah menemukan Shella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pintu kamarku terbuka dan segera dua perawat dan E.L menerobos masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alex, kamu tidak boleh bergerak dulu.” aku dengar suara teman baikku bergetar dalam kepedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“E.L, dimana Shella?” pintaku dengan nafas berat. Dua perawat itu memaksaku untuk kembali berbaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia di OR 1, dia sedang di operasi.” sahut E.L pelan, seakan membenci dirinya sendiri karena memberitahuku hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa dia akan baik-baik aja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keadaannya lebih kritis dari kamu, Lex, tapi dokter bilang mereka akan berusaha sebaik mungkin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memalingkan wajahku, menatap lampu kuning yang lama-lama menjadi putih, putih menyilaukan. Tapi aku tidak memejam mataku, atau bahkan memutar arah pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua itu salahku. Aku seharusnya tidak membawa Shella ikut diatas mobil itu. Kupikir dia akan senang, kupikir ia akan kukejutkan...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alex, jangan salahkan dirimu, kamu tahu kalau semua ini adalah kecelakaan. Truk itu datang menghantam kalian tiba-tiba. Kalau ada seseorang yang bisa disalahkan, supir truk itulah yang pantas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hampir tidak mendengarnya. Kilasan balik peristiwa itu begitu jelas di benakku. Hantaman kuat entah dari mana, suara klakson yang memekikkan, di sela-sela jeritan Shella, ketika tubuhku terasa berputar dan berat. Dalam sepersekian detik, Shella dan aku, mata kami bertemu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya terjadi begitu cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“E.L, apa yang terjadi dengan aku? Aku merasa jari-jariku dingin sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua perawat itu memandang E.L dengan penasaran, E.L sendiri tampak membatu, bisu seribu bahasa. Aku tidak bisa mengartikan pandangannya, tapi jelas-jelas E.L tahu sesuatu. Tapi akhirnya dia membuka mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu dengar dari dokter saja, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, E.L, aku mau mendengarnya dari sahabatku... katakan saja... apa aku akan mati?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“E.L...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejujurnya, dokter bilang, selain merusak ginjalmu, logam yang tertancap dari pinggang my tadi juga mengakibatkan sesuatu pada jantungmu.” E.L mengakhiri kata-katanya dengan suram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memindahkan jemariku, menyentuh dada kiriku tanpa sadar. Tertunduk, aku tidak bisa berkata apa-apa kecuali,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagian kecil otot jantungmu kehilangan kinerjanya sama sekali, dan dokter ahli bedah saraf bilang kalau ia tidak bisa memperbaikinya tanpa resiko besar kamu gagal jantung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudnya itu, E.L?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudnya, Alex... jantung kamu kehilangan kekuatan perlahan-lahan setiap harinya, dan pada akhirnya akan berhenti berdetak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunyi senyap melanda ruangan itu. Jika ada angin berhembus, tidak ada yang bisa merasakannya. Aku memandang wajah teman baikku sepenuh-penuhnya seperti aku belum pernah melihat dia sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa Shella tahu akan hal ini?” aku bertanya. E.L memandangku, aku mencoba menilai ekspresinya selama beberapa detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak.” katanya akhirnya. “Dia tidak tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau menemuinya, E.L.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak ingat lagi kapan aku pernah merasa sesedih, se-menyesal, dan se-ngeri ini. Ketika aku melihat keadaan Shella, aku tahu semuanya tidak akan sama lagi. Tapi semua kecemasan itu tidak cukup kuat untuk mengalahkan kecemasanku yang paling utama. Aku benar-benar berharap Shella bisa bangun lagi. Operasi yang ia jalani sekarang adalah operasi pertama dari serangkaian operasi untuk memperbaiki kembali sistem saraf di tulang belakangnya. Ia menderita sangat parah, dan tidak ada yang bisa kulakukan untuknya sekarang, selain menatap wajahnya yang terlelap, tak sadarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter bedah di OR1 memarahi perawat yang membawaku kesana, bersikeras supaya aku keluar dari sana. Maka mereka membawaku kembali ke kamarku. Aku sendiri merasa sangat lemah, seperti akan jatuh dan membiarkan diriku terkapar di lantai rumah sakit selamanya... Hanya satu hal yang membuatku tetap bertahan, hanya satu orang yang membuatku bertahan, dan dia sendiri sedang berjuang di kamar sebelah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu berlalu tanpa aku mengerti... menit, jam, hari... semuanya tampaknya tak penting lagi, dan masih saja aku belum bisa bertemu dengan Shella yang sadarkan diri. E.L terus-menerus mendukungku dan memberiku semangat. Suatu sore, dia bilang kalau Shella sudah sadarkan diri dari operasi pertamanya, tapi aku harus menunggu beberapa saat sebelum boleh bertemu dengan dia. Aku tidak mendengar perkataan E.L yang berikutnya karena aku begitu lega Shella—setidaknya—selamat dari operasinya yang paling berbahaya. E.L tampaknya tidak menyadari bahwa aku tidak begitu mendengarnya lagi, karena dia sedang tegang menceritakan operasiku berikutnya, tentang sesuatu bernama L-VAD yang dipasangkan dalam tubuhku untuk membantu jantung lemahku memompa darah. Aku hanya mengangguk tanpa sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu rasa sakit yang menyerang dadaku tak terbayangkan. Mesin yang berkedip-kedip di sebelah tempat tidurku berteriak-teriak mengakibatkan perawat-perawat dan beberapa dokter menyerbu masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia kena serangan jantung.” aku mendengar seseorang berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shella...” aku mengerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dok, dia sudah sadarkan diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shella, bawa aku.... kepadanya...” aku terus mengerang tapi tampaknya mereka terlalu sibuk untuk menanggapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus melakukannya sekarang, Penny, siapkan OR untukku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik Dok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat cahaya kuning kehitam-hitaman mengedip-ngedip di kepalaku, hampir seperti ketika mataku menatap sesuatu yang menyilaukan. Sementara tusukan jarum menguji ketahanan jantungku, aku disorong menuju ruang operasi. Dengan mata yang terpejam, aku terus menyeru-nyeru nama Shella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia tidak bisa tenang. Perawat, bawa pasien 602 ke OR. Kita akan membutuhkan bantuannya menenangkan dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar seseorang berlari, pintu dibuka, dan kemudian aku tak tahu apa-apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ketika mataku bisa dibuka, hal pertama yang aku lihat adalah wajah Shella yang pucat dan suaranya adalah suara terindah yang pernah kudengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tampak lelah, terbaring di sebelahku. Walau kami terpisah tempat tidur, dia mengulurkan tangannya dan menggenggam tanganku yang dingin. Aku merasa hangat. Dia tersenyum padaku seolah itu adalah pagi yang indah, awal hari yang baru, dan kami hanya berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dengan luka bakar di lengan kanannya, keningnya yang bengkak, dengan pakaian pasien kami yang sama jeleknya, dengan suara perawat-perawat yang sibuk mempersiapkan peralatan operasi, kami tahu kalau waktu kami untuk bercakap-cakap tidaklah banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shella, sorry yah...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei...” Shella menggenggamku dengan lebih erat, seakan-akan mengatakan bahwa apa yang terjadi padanya bukanlah salahku. Aku merasa rasa sakit di dadaku berkurang sedikit. “Kamu akan baik-baik saja, Alex, dan kita akan bersama lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shel, hehe...” mendadak aku tertawa. Aku tak tahu mengapa aku melakukannya, tapi Shella juga tertawa bersamaku dan aku merasakan pandangan dokter-dokter di belakang kami memandang dengan penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan mati yah...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haha... Ouch...” aku menyentuh dadaku dengan tanganku yang lain, yang sakit karena tawa tadi. “Aku tak akan mati, ini hanya operasi... kamu sudah mengalami punyamu, dan sekarang giliranku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lex, aku ingin kamu tahu kalau kamu akan sembuh... 100%.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataannya membuatku ingat akan apa yang dikatakan E.L, bahwa aku tidak akan bisa sembuh seperti sedia kala lagi, karena lambat laun, jantungku akan berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shel, apa kamu takut akan kematian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alex, jangan bilang begitu...” Aku menggeleng-geleng, tetap memandang mata coklatnya yang hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jawablah Shel...” Shella memandangku dengan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, tapi aku takut kehilangan kamu... jadi jangan memikirkan yang seperti itu yah...” sahutnya manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak akan meninggalkan kamu... dan aku tahu kamu juga begitu... Shel... tahu nggak, beberapa malam lalu aku memimpikanmu lo... aku rasa waktu kecelakaan itu terjadi... kamu duduk di samping aku, dan kamu baik-baik saja... dan kamu menggenggam tanganku... dan rasanya hangat sekali... seperti sekarang, yah... dan aku tahu... aku tahu kita tidak akan berpisah... walaupun jika aku mati... karena kamu akan menemukan aku, iya kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alex...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau aku pergi duluan, aku mau kamu berjanji, Shel... berjanjilah kalau kamu tidak akan mati di tempat ini.. kamu akan terus hidup... dan kamu akan menikah dengan orang lain...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alex, hentikan...” aku melihat air mata menggenangi bola matanya. Shella tidak tahu kalau aku tidak punya harapan lagi, tapi aku tahu... dan aku ingin dia mendengar apa yang aku bilang... “hentikan Alex, kamu akan baik-baik aja... kamu tidak akan mati.. karena dokter akan menjagamu baik-baik...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengarlah, Shel... kamu nanti akan punya keluarga... punya anak dan cucu... dan ketika waktumu sudah habis di dunia ini... aku akan menunggu mu... maka berjanjilah padaku satu hal... carilah aku nanti...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alex...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Carilah aku nanti... jangan makan....jangan pergi... carilah aku sampai kita bertemu lagi... sampai ketika aku menggenggam tanganmu lagi... carilah aku nanti, karena aku akan menunggumu. Berjanjilah, Shella.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A.. Aku janji...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika suaranya merambat memasuki hatiku, aku tersenyum padanya... karena aku tahu kalau semuanya akan baik-baik saja... untuk pertama kali sejak kecelakaan ini... aku akhirnya bisa tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shella terisak, ketika dokter berusaha melepaskan kami dan membawaku menuju meja operasi untuk dibius... aku tidak mau melepaskan tangan Shella, dan begitu juga dia... Pandangan di matanya menjelaskan semuanya... aku tahu ... saat itu dia juga tahu kalau aku tidak akan selamat dengan jantung ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa sakit tubuhku membuatku tidak bisa berbicara lagi... Dadaku memberontak, ototku menjerit, dan aku terpaksa menutup mataku. Penglihatanku semakin kabur, dan ketika kelopak mataku hampir bersentuhan... wajah Shella yang menjadi bayang-bayang hitam... sama seperti didalam mimpiku... memudar perlahan-lahan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Aku terbangun di sebuah kegelapan luas tak berlantai dan tak berdinding. Buta dan sunyi, aku berusaha bergerak-gerak. Tubuhku masih ada... aku telanjang. Aku mencoba melihat kakiku, hendak mengecek aku menginjak apa, tapi aku tidak bisa menemukannya dengan mataku. Aku bisa menyentuh kakiku, tapi sepertinya aku tidak bisa menyentuh lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku ingat akan Shella. Aku ingat kalau dia ada bersamaku di ruang operasi tadi... dimana dia? Aku mencoba meneriakkan namanya. Tak ada suara yang keluar. Aku berteriak lebih keras. Tapi tetap tidak ada suara yang keluar. Mungkin mulutku tak bisa bergerak sama sekali. Lalu sesuatu terjadi di sudut kiri atas penglihatanku... atau mataku... di sudut kiri atas dari ketidakadaan, ada sebuah lubang. Lingkaran putih yang menyilaukan. Sungguh kontras dari kegelapan yang pekat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha mendekatinya. Aku tidak berjalan, tidak merangkak, tidak melayang, tidak melakukan apa-apa, tapi aku berusaha mendekatinya. Dan lubang itu semakin dekat semakin besar. Aku menggapainya, memasukkan jariku kedalamnya, lalu lubang itu bertambah besar. Bertambah besar dengan sungguh cepat. Dalam sedetik, (ataukah pada saat itu juga?) aku disinari oleh warna putih... Aku memicingkan mataku... lalu sadar kalau mataku masih tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jariku, aku merasakan kelopak mataku masih ada, jadi aku membukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kaget, aku berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar. Aku sedang melihat tubuhku berada satu meter lebih dibawahku. Aku sedang melayang. Aku melihat beberapa dokter sedang panik karena ada garis mendatar yang bising disebelah tubuhku. Aku melihat mereka menyuruhku untuk bangun. Mereka menyetrumku dan menyuntikkanku dengan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba untuk berkata,&lt;br /&gt;“Hei, aku tidak apa-apa... aku disini. Aku diatas kalian.”&lt;br /&gt;tapi masih juga tidak ada suara yang terdengar. Aku melihat sekeliling. Ternyata aku mengapung di sudut kiri atas ruangan itu, tapi aku tidak bisa melihat tangan dan kakiku. Aku mencoba menggerakkan tanganku, menyentuh jemariku dengan jari-jariku. Aku bisa melakukannya, hanya tidak bisa melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha mendekati tubuhku, mencoba menyuruhnya bangun, menggenggam tangannya, menampar mukanya, atau mungkin masuk kedalamnya. Aku bisa mendekatinya... mendekatinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku berhenti. Wajah Shella muncul di depanku, tepat di depan bola mataku. Aku terkesima... lalu suatu kehangatan yang sudah kukenal dengan baik memenuhi diriku. Aku merasakan tangannya memelukku. Aku tidak mau kembali ke tubuh lamaku itu. Maka aku menjauh darinya. Bau tubuh Shella mengitari jiwaku. Aku mencoba menyentuh Shella, tapi mendadak Shella tersenyum padaku dan aku bergerak mundur cepat sekali dengan Shella mengikutiku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara-suara sayup bergerak-gerak disekelilingku. Tubuhku, dokter-dokter, dan ruangan itu berbaur menjadi warna-warna yang tak bisa kupahami. Aku bisa mendengar beberapa dokter berbicara, suara E.L, suaraku, suara ibuku, bahkan suara Shella, namun rasanya jauh sekali...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia dioperasi sekarang, aku tidak tahu.... aku harap...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...padahal seharusnya besok hari pernikahan mereka...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mama! Mama, lihat, aku bisa...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alex, Alex, Alex...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku disini...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Shella...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakan, Dok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu kematian, 23.45.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;—Bersambung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);font-size:130%;" &gt;----------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Bagian kedua ada di &lt;a href="http://leavedstory.blogspot.com/2007/11/hidup-mati-part-two.html"&gt;sini&lt;/a&gt;. &lt;a href="http://leavedstory.blogspot.com/2007/11/hidup-mati-part-two.html"&gt;Klik&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22545138-8031461720700786038?l=leavedstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://leavedstory.blogspot.com/feeds/8031461720700786038/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22545138&amp;postID=8031461720700786038' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/8031461720700786038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/8031461720700786038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://leavedstory.blogspot.com/2007/11/hidup-mati.html' title='HIDUP / MATI  [PART ONE]'/><author><name>Soliloquist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10187976455571298101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_uoAFuqGlVvg/SXm21Yss2jI/AAAAAAAAAEE/BjlsPN2WaZs/S220/IMG_0162.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22545138.post-4533712310876587681</id><published>2007-06-04T04:51:00.000-07:00</published><updated>2007-06-05T06:26:29.893-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Romance'/><title type='text'>The Link [PART TWO]</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;This is &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;PART TWO&lt;/span&gt;, if you haven't read &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;PART ONE&lt;/span&gt;, &lt;a href="http://leavedstory.blogspot.com/2007/06/link-part-one.html"&gt;click here&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;.........................................................................................................&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3 Januari 2010&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Pinggir kota Medan&lt;br /&gt;Sumatera Utara, Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;&lt;em&gt;“Check your email, Lucas.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lucas bangun dari tempat tidurnya bergegas menuju komputernya, menabrak sudut meja kopi dan menjatuhkan seperangkat alat tulis ke lantai dalam perjalanannya. Buru-buru dia menghubungkan koneksi internet dan &lt;em&gt;login&lt;/em&gt; masuk membuka &lt;em&gt;account&lt;/em&gt;nya. Saat itu pukul 2 di pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah &lt;em&gt;window&lt;/em&gt; muncul sebelum Lucas sempat membuka &lt;em&gt;inbox&lt;/em&gt;nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Dia mengirimku Instant Message. Dia memintaku untuk chatting... Aku harus tetap tenang...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan perlahan-lahan, Lucas meng-klik kata “&lt;em&gt;accept&lt;/em&gt;” yang tertera di monitornya. Seketika, sebuah &lt;em&gt;window&lt;/em&gt; yang lebih besar muncul, dengan sebuah pesan terpampang jelas di sudut kiri bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hyphenated_Girl :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Lucas?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucas menarik nafas, sekaranglah saatnya… setelah menunggu selama sepuluh tahun, dia akan mengungkap misteri suara yang telah menghancurkan keluarganya, merenggut Eric, dan merusak hidupnya… Mengapa dia harus gugup sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Luc :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Yes &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hyphenated_Girl :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Who are you?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Luc :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;My name is Lucas Satriya. I live in Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hyphenated_Girl :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Luc :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Yes. Who are you?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hyphenated_Girl :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;You don’t know who I am? Then how are you doing this? How can I hear your thoughts inside my mind?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Luc :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;I don’t know. I was as confused as you are.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hyphenated_Girl :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Was?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Luc :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;I first heard your thoughts when I was ten. But I didn’t know them to be someone’s thoughts back then. But now I know that they’re all yours. I just don’t know who you are…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Hyphenated_Girl :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;So you’re as blank as I am.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Luc :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;May I know your name?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beberapa detik berlalu tanpa terjadi apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Michelle :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Fawn. My name is Michelle Fawn.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Luc :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Michelle. I’ve heard that before… from your thoughts of course. Then where are you?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Michelle :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;I’m from Los Angeles. US.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Luc :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;America?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Michelle :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Do you know why we can hear each other’s thoughts?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Luc :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;I don’t know. I have no idea… I think I am born like this…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Benar juga… aku begitu sibuk cari tahu siapa dia sehingga aku lupa menanyakan mengapa aku bisa mendengar pikirannya…&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;January 2, 2010&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Downtown Los Angeles&lt;br /&gt;USA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“... mengapa aku bisa mendengar pikirannya dan bagaimana dia juga bisa mendengar apa yang aku pikirkan...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trying to set the thoughts aside, not to listen to them for a moment, Michelle was concentrating on getting as much information from this guy as possible. After all, he’s experiencing the same thing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Michelle :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;So you’re a mind reader?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Luc :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;No, I guess not. I mean, I can’t read other people’s thoughts. Just yours.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Michelle :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;But why me?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Luc :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Why can &lt;em&gt;you&lt;/em&gt; hear mine?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Michelle&lt;/strong&gt; : &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;I don’t know. All I know is that they are annoying, your thoughts are! I just want them to go away…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Luc :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;And do you think me hearing all your foreign language all my life was fun? I lost my life because of it. I lost my best friend because of it. My only friend!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;She stared at Luc’s message for a while. There’s something burning inside her body. It’s not something happy and it’s not her conscious feeling. But it’s warm and touching…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Michelle :&lt;/strong&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt; I’m sorry. I don’t know…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Luc :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;That’s all right. I’m sorry too, I shouldn’t have spilled it on you.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Michelle :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#ff6666;"&gt;Are you gonna try and find out why is this happening between us? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Luc :&lt;/strong&gt; &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;Yes… Will you help me?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michelle stayed still for several seconds. She knew neither she nor Lucas could make it go away, but she would try… and so would he. So she should help him. There’s no other way. She must find out why she could hear the thoughts of someone far in Indonesia, someone who’s a total stranger to her.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“Thanks.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lucas’ thought reverberated all over her head, just as a new feeling of warmth and relief struck her chest. &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;March 16, 2012&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Michelle’s residence&lt;br /&gt;Manhattan, New York&lt;br /&gt;USA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“Mich! Mich! Are you up?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Not now, Luc. I’m barely awake.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“I’ve thought about it all… you know… how we never found any leads about the link. That case in Central Africa was not at all relevant. It’s just about a speculation of mind-controlling device being covered up by Russian government. I think it’s a hoax… are you still there?”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Luc, I’ve told you. I’m still sleeping… do you know what time this is?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“Hahaha... I know. I’m just messing with you. By the way, HAPPY BIRTHDAY!!!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Arrgh… Luc! I’ve told you not to scream in my head. Ok. Ok… now I’m up! Give me several minutes, ok? Then I’ll talk to you.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michelle woke up and sat on her bed. She looked closely at the person next to him. James’s a good guy. She knew that she hadn’t told him about her mind connection yet. Not now. There’s too much at stake. He would think she’s crazy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The digital clock showed a red three–hundred. It was a very tranquil night. Michelle put on her robe and grabbed a glass of water. After that, she sat on a wooden chair in front of the electric fake chimney.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Luc, still there?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“Yep. How’s James doing?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Ah, he’s sleeping like a pig. Adorable, though. It’s hard to lie to him, you know.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“You’re not lying to him about anything. You just don’t tell him anything.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Same difference, Luc. So now, where’s my present?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“Haha… never forget, do you? Check your &lt;em&gt;inbox&lt;/em&gt;!” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michelle clicked on her purple mailbox icon and an &lt;em&gt;e-Card&lt;/em&gt; emerged, automatically singing her favorite song as several sparkling letters were dancing gracefully to arrange some sentences. Michelle turned off the speaker quickly, wondering if James was up because of the sound. But then her eyes were fixed on the sentences.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Oh, Lucas. You can’t…&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Happy 21&lt;span style="font-size:85%;"&gt;st&lt;/span&gt; Birthday, you grown-up lady! Now you’re legal to have drinks. But don’t have too much and then forget who I am, coz even with this broad distance upon us, my feelings for you can’t be ignored. Oh yeah, and don’t get fat! &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;She was listening intently, but Lucas didn’t reply. He must be waiting for her to think.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Lucas. You know we can’t do that. We can never be together, not with all these differences between us. And I have James now, and I love him…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;And suddenly she heard him…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“You love him? Oh, don’t be ridiculous, Mich. You know you mustn’t lie to yourself. You don’t love him. I know the truth, I can hear them.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Be as it may, Luc, we still can’t.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“Why, Mich? Why do you keep lying to yourself? I can hear what you think of me. I know what you know about your feeling to me. And you know damn well about my feeling as well…”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Yeah.. and I’m getting quite sick of it… you hearing my thoughts and all. I need some privacy, Luc!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“What? Privacy? You know we haven’t had that our whole life. How can you ask such impossible thing? We are meant to be. Or at least this link makes us.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Yeah, about that, you said, two years ago, you would find out the cause of it. It’s been so long, Luc. Have you known?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“No. And I don’t think I want to anymore.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Oh please, Luc. This link destroyed you! You said it! Your life! Your family! Your friend! Of course you don’t want it! What made you find me two years ago? You want this connection gone as much as I do!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“Maybe I don’t anymore… Yes! I wanted it to be gone! I wanted you and your voices to go away. But that time I was so alone. I didn’t know anything about companionship, and yes, I used to blame all my pain to this. I didn’t have the idea of loving somebody. But now I do, Mich. Now that you’re in my life.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michelle put both her hands on her forehead. She heard all Lucas said. But now her mind’s empty and she didn’t have anything to think about, literally.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“The link is there because of a reason, Mich. And you are the reason. I am your soul mate. I know you do feel the same. You can’t walk away from destiny, Michelle.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;I don’t know Luc. It’s not that simple. I live in America. I have a job. What about James? I can’t just leave him.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“You’re right. You can’t leave. You have a life back there. I will. I will come to you, Mich.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;No! No! NO! You can’t. Don’t even think about that, Luc.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But Lucas seemed to be convinced. Michelle tried to put some sense in his head, but he was deeply in love with her. He was sure of his feeling and he had faith in her, something Michelle didn’t possess.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The whole day, a silent mind battle occurred in both persons’ heads. She was arguing with a man half way around the world without a single means of modern communication device.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A few-teen hours later, the only thing Michelle got was a terrible headache. Her attempt to persuade Lucas to not come to America had failed. This was breaking her heart, because she was forced to do the only thing left to convince him to stay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Luc,&lt;/span&gt; —she thought feebly— &lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;I care for you too much to let you ruin your life by getting here. We can’t be together even if you’re here. It’s not that. I just don’t love you… And I think we should live our own lives separately. No more listening to each other’s thoughts. It’s over, Luc.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;She knew she wouldn’t be able to just erase Luc from his memories. She knew she couldn’t cut off the connection at will. But she had made her mind.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There were a few moments of silence, the most awkward one between them. But then Lucas’ voice echoed clearly…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“You do love me.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;No. I don’t, Luc.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“You are lying, Mich.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;And then, there’s only silence. &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;02 Juni 2012&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Café dé Sunshine&lt;br /&gt;Medan&lt;br /&gt;Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucas menatap mata tajam dan wajah bersiku Hana, yang menatap balik penuh selidik. Lalu senyum menghiasi bibirnya. Hana menjulurkan tangannya, menggenggam jemari Lucas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Lucas? Kau kelihatan pucat sejak tadi.” tuturnya sehalus mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah? Ah, tidak. Hanya migrain kok, belakangan ini aku amat lelah... banyak pikiran.” elak Lucas, karena sebenarnya dia sedang berkonsentrasi untuk mendengar apa yang dipikirkan Michelle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;“... John seems so great. He’s polite, clever, and he’s passionate about me.. even more than James was...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Oh, cut the crap, Mich. It’s all been a big stupid game. It’s been three months now, and all you do is trying to find someone to make you forget and run away from me. Well, guess what? You can’t. Cause I’m here inside your head whether you like it or not.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;You can ignore me all you want, Mich. But I know you can hear me. And if you don’t want to talk to me, then know that you’re wasting your time by trying to live a life without me. We have been given this link for a reason. I believe it, why can’t you? We can read all of our deepest thoughts, we know all of our flaws. We have opened up for each other more than you have done to anybody else. The truth is, there is &lt;em&gt;no one&lt;/em&gt; out there who understands you more than I do...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You cut me from your life three months ago. But we both know that didn’t work. You can still hear my thoughts and I can hear yours. I know what you’re going through right now. And I am not going to give up this easily. So you can either speak to me or listen to my voice for the rest of your life.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;“I’ve been hearing you all my life... I can live with it, Lucas. And stop talking to me while I’m on a date!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Ah, Finally... you speak to me. Don’t worry. I’m on a date myself.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;“I know! Hana something, right? Then why don’t you just play it all along and live our lives separately. Leave me alone, Lucas.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Hana is a great girl, but I don’t love her.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;“Why not? You two have lots of similarities, unlike us.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mau pesan apa? Pagi ini aku merasa sangat hidup, lho… Aku senang kita akhirnya bersama, Lucas. Aku selalu kagum padamu, kau tahu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;It doesn’t matter, Mich.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah? Aku pesan yang biasa saja. Aku tidak bisa makan makanan berat waktu sarapan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;“It matters to me, Lucas. I can’t just leave my whole life here just for you. What you ask is unacceptable.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;I just ask you to be honest to yourself, Michelle, coz I’ve noticed you … living in a lie…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu yakin kamu tidak apa? Dari tadi aku perhatikan kamu mengelus kepalamu. Mungkin lebih baik kita keluar sebentar. Cari angin…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;“Oh, you really want to do this now, don’t you? Are you trying to make me upset, now? Bring it on, flame boy! Living in a lie! What about you? All this time! You still see Eric, don’t you! And you’ve been telling yourself that you don’t. You’re just a big liar yourself!” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Shut up, Michelle! Leave Eric out of this!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, tidak apa-apa, Hana. Kamu pesan dulu, sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;“Oh, I hit a nerve there, didn’t I? Or are you telling me that Eric’s accident wasn’t your fault? That’s all you’ve been telling yourself to make you feel better all these years, haven’t you? You lied to yourself about one damn thing just to make you feel better! Just to allow you to live your life wholly. So why can’t I do the same! &lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;YOU HAVE NO RIGHT TO TELL ME TO BE HONEST, YOU LIAR!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;——&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;——&lt;span style="color:#339999;"&gt;STOP TALKING!&lt;/span&gt;——&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;————&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;“My head hurts so badly, Lucas! Maybe if I keep pushing you like this, the connection will be terminated!”&lt;/span&gt;——&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemari Lucas tampak gemetar di atas meja. Lucas tahu Hana melihatnya, memperhatikannya dengan cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;———&lt;span style="color:#339999;"&gt;&lt;span style="color:#336666;"&gt;STOP IT&lt;/span&gt;, Michelle! It won’t come off! You’re only killing yourself! You’re only killing us!&lt;/span&gt;—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucas tidak tahan lagi. Kepalanya begitu sakit. Dia menekan pelipisnya, mengibas-ngibaskan kepalanya, berharap rasa sakit di ujung telinganya bisa reda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Whoa, Lucas! Ada apa?” Hana berdiri dan mendekati Lucas. Lucas mengabaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;“Then why are you still listening to my thoughts? You can end this pain on your end! You just &lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;STOP THINKING&lt;/span&gt; about me when this buzzing occurs! Like we always do!”&lt;/span&gt;——&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—&lt;span style="color:#339999;"&gt;&lt;span style="color:#336666;"&gt;I WILL NOT STOP THINKING ABOUT YOU, MICHELLE!&lt;/span&gt; Not even if it cause my head to explode! Not even if it means I will never think again! ARRGH!&lt;/span&gt;——&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;“&lt;/span&gt;——&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;ARRGH&lt;/span&gt;——&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;LUCAS? ARE YOU CRAZY?&lt;/span&gt; &lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;I can’t control this thing! You know it! Only you can make it stop!&lt;/span&gt; &lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;MAKE IT STOP, LUCAS!&lt;/span&gt; &lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;You’ll get yourself killed&lt;/span&gt;——&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;————&lt;span style="color:#339999;"&gt;No, Mich!&lt;/span&gt;——&lt;span style="color:#339999;"&gt;never… let you go…&lt;/span&gt;———&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucas merosot dari kursinya. Tubuhnya menubruk lantai dengan suara debam keras. Teriakan Hana dan Michelle hanyut dalam perjalanannya menuju otak Lucas. Lalu semuanya menjadi gelap dan hening. &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;June 01, 2012&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Manhattan, New York&lt;br /&gt;USA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Lucas? Lucas?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Michelle! Michelle! Are you all right? CAN SOMEONE PLEASE HELP ME?” John’s voice echoed in the restaurant. Several seconds later, two servants and John helped Michelle to sit back on her chair, where she had just fallen from.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michelle, however, didn’t pay any attention to them. Her mind was racing. Her thought was only one. And saying that, her thought was—literally—only one. She couldn’t feel the presence of Lucas anymore. She couldn’t hear him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Lucas? Oh no! What happened? Oh my God… did I just kill him? No.. no… Why can’t I hear him? Oh, God. It was all my fault…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Michelle was quivering in horror. She hadn’t any idea of what’s just happened. She sat there immobilized, gazing through nothing, feeling numb. The only thing she’s aware of was the big silence in her mind… as if a huge gap just missing from her soul… &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;06 Juni 2012 &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Rumah Sakit Gleneagles&lt;br /&gt;Medan, Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lucas berbaring tak terfokus. Tubuhnya belum bergerak seharian. Pandangannya kosong, sehampa jiwanya yang telah terkikis dari harapan. Pikirannya dipenuhi dengan kata-kata tak berarti. Tapi semuanya adalah miliknya. Tidak ada lagi suara seorang gadis. Lucas telah mencoba menghubungi Michelle, namun rasa sakit menyerang kepalanya begitu dia mencoba berpikir lebih keras. Yang dia pikirkan sekarang adalah betapa tidak berasa-nya makanan rumah sakit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tania duduk memandang Lucas dengan penuh ketakutan. Dia berbicara pada Lucas tentang banyak hal, yang semuanya tidak masuk ke kepala Lucas sama sekali. Tania sadar akan betapa tidak responsif saudaranya. Dia bahkan meragukan apakah Lucas tahu dia ada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu seterusnya sampai sore hari pukul 4. Pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam ruangan. Lucas tidak melihat siapa itu. Kepalanya dibalut perban yang membuatnya sulit untuk berpaling. Lagi pula, dia tidak berniat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada suara mengetuk kepalanya, bukan dari dalam, tapi dari luar. Dan betapa anehnya mendengar suara yang sangat familiar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lucas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucas tidak berpaling. Matanya tetap menatap silau lampu kamar di langit-langit. Tapi dia bisa mendengar suara itu, suara yang sudah menghantuinya selama bertahun-tahun. Lalu dia mendengar gadis itu terisak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mich?” Kata Lucas akhirnya. Dengan susah payah, dia mencoba untuk berpaling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sampingnya, berdiri seorang gadis berambut merah dengan mata bulat manis. Mata yang saat itu basah karena air mata. Gadis itu memandangnya dengan teliti. Kedua tangannya saling menggenggam didepan dadanya, seakan sedang berdoa, tapi tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You’re here...” sahut Lucas parau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I am.” katanya pelan. “How are you feeling?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You look alot like what I’ve imagined you to be...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Of course, you silly. I’ve given you my pictures...” dan anehnya, dia tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah.. but still...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I can’t hear you anymore...” dia menyentuh pelipisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;“I can’t hear you anymore...”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“I can.” sahut Lucas. Dia baru saja mendengar Michelle di kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“I can.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mereka berpandangan, saling kaget satu sama lain. Beribu-ribu kata masuk kedalam kepala Lucas, dan dia tahu pada saat itu juga, Michelle telah bisa mendengar kembali pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mereka terdiam. Lama sekali. Tidak ada suara lain di sana kecuali hembusan lembut angin dari AC. Michelle tersenyum dan duduk di tempat tidur disamping Lucas. Tanpa kata-kata, mereka mengutarakan semuanya. Tanpa kata-kata, mereka saling mengerti satu sama lain. Tanpa kata-kata, mereka saling meminta maaf. Tanpa kata-kata, mereka bersenda gurau. Tanpa sepatah katapun, pikiran mereka menjadi satu. &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;END&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;TRIVIAS&lt;/span&gt; and &lt;span style="color:#3366ff;"&gt;EXPLANATIONS&lt;/span&gt; :&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;The story-telling was based on chapters. There were 13 chapters total. 7 from PART ONE, and 6 from PART TWO. Even so, PART TWO was longer than PART ONE. All of Michelle's chapters were started with Lucas' thoughts, except one: "January 1, 2010". It was started with Julia's voice.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;The high frequency buzzing happened because of two people trying to read what the other was thinking. When you read someone's thought who's trying to read yours, it creates a feedback. Similar in principle to &lt;a title="Audio feedback" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Audio_feedback"&gt;audio feedback&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Due to the trauma of losing his bestfriend over his mysterious "link", Lucas often hallucinated about Eric's present, and until the end of the story, Eric (the imagination) was still standing there in the hospital ward.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lucas' connection to Mich's mind was somehow stronger than Mich's. That's why he experienced it first (at age 10) then Mich experienced it 3 years later (at age 12). That's also why the buzzing gave Lucas more pain. Mich somehow could feel Lucas' feelings at times. But she didn't realize that.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;The finale chapter was June 06, 2012. This story was finished at June 05, 2007. Accordingly, June 06 was the author's special day.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Café dé Sunshine, Bukit Kubu, and Gleaneagles are real places in Indonesia. The story, however, is obviously fiction.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;The real source and cause of the connection is unknown.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;The actual ending planned by the author was in Polonia Airport (or Newark Airport, undecided yet) where Lucas (followed by his mind instructions of where Michelle was) finally met Michelle for the first time. That more fortunate circumstances didn't make it to the story because it required too many pages.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Thank you for reading! See you in the next story! :P&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22545138-4533712310876587681?l=leavedstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://leavedstory.blogspot.com/feeds/4533712310876587681/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22545138&amp;postID=4533712310876587681' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/4533712310876587681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/4533712310876587681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://leavedstory.blogspot.com/2007/06/link-part-two.html' title='The Link &lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;[PART TWO]&lt;/span&gt;'/><author><name>Soliloquist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10187976455571298101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_uoAFuqGlVvg/SXm21Yss2jI/AAAAAAAAAEE/BjlsPN2WaZs/S220/IMG_0162.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22545138.post-8892363116038672583</id><published>2007-06-02T04:52:00.000-07:00</published><updated>2007-06-05T06:19:32.184-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Romance'/><title type='text'>The Link [PART ONE]</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Mari kuceritakan sebuah kisah yang tidak pernah kau dengar sebelumnya... suatu keajaiban yang sudah terjadi sejak 20 tahun yang lalu, namun baru disadari pada hari ini...”&lt;br /&gt;“... aku sudah menemukan dia, dan tidak ada yang bisa kau lakukan untuk mencegah aku menemuinya.” &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;18 November 2001&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Berastagi, 56 km dari kota Medan&lt;br /&gt;Sumatera Utara, Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucas berlari keluar menyebrangi lautan rumput di bukit hijau yang terhampar luas di hadapannya. Pagi itu, adalah Minggu pagi yang dingin seperti biasanya. Oksigen dan uap air menyerang wajah Lucas, membuatnya menggigil. Namun ia tidak peduli, karena jika ia tidak menghindari kerumunan orang di belakangnya, mereka akan bisa mendengar dia. Atau lebih buruk, tahu kalau Lucas bisa mendengar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo... kamu bisa dengar aku? Namaku Lucas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;&lt;em&gt;“... I can’t be wearing that dress. It’s ghastly. Oh no, Miss Janet is here. She will be forcing me to wear it. I don’t want to. Please. Help me. Please!”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Halo... Halo... Aku tidak bisa mengerti apa yang kamu katakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucas berdiri seorang diri di tengah-tengah Bukit Kubu di pagi hari, di atas rumput basah. Tidak ada seorang pun yang berada dalam radius 50 meter dari dia. Lucas berdiri menatap ke pegunungan dan hutan nan jauh tanpa terfokus. Tangannya yang tadi terkantung-kantung tanpa arti sekarang sedang menekan pelipis kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;“Oh there she is! I hope Brad will be here as well. But what happens when he sees me with these clothes? I can’t. He can’t see me.”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong hentikan ini. Jangan memanggilku lagi. Tolong... hentikan...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kepada siapapun Lucas berbicara, jelas mereka tidak mendengarnya. Karena Lucas masih bisa mendengar suara itu. Suara dia. Tidak mau berhenti. &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;4 Mei 2006&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Medan&lt;br /&gt;Sumatera Utara, Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atap sebuah gedung tua kosong, 16 meter dari tanah, Lucas memandang kebawah. Pintu masuk gedung baru saja terbuka dan seorang laki-laki masuk kedalam. Lucas berbalik dan duduk diatas sebuah balok beton yang lembab. Rambutnya yang lumayan gondrong terkibas angin kencang yang menyejukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;&lt;em&gt;“He’s there? I can’t believe it. Did he see me? Oh. He’s wearing the shirt I picked for him. Oh my God, oh my God...”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian, seorang lelaki kecil berambut seperti tikus muncul di hadapan Lucas. Wajahnya tampan dan rahangnya kokoh. Namanya Eric. Dia teman dari Lucas, mungkin satu-satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, katakanlah padaku.” ungkap Eric tanpa basa basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada sebuah suara di kepalaku. Suara seorang perempuan.” jawab Lucas buru-buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perempuan? Apa kamu tidak hanya membayang—”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu apa yang kualami, Eric. Dan tidak! Aku tidak membayangkan. Aku memberitahumu karena aku tahu kamu tidak akan menganggapku aneh dan menertawakanku bahwa semua ini hanyalah sebuah hasrat akan perempuan yang tidak pernah aku dapatkan. Aku tidak butuh itu! Sudah cukup banyak orang yang mengejekku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei Hei! Aku tidak mengejekmu. Aku cuma penasaran. Kau yakin itu suara orang lain? Bukan suara rekaanmu sendiri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Suara itu terdengar begitu jernih seakan dia ada disampingku... bukan.. seakan dia ada di dalam kepalaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi siapa dia? Kau mengenal suaranya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak tahu. Aku bahkan tidak mengerti apa yang dia bilang. Bahasa Inggris. Ia berbicara bahasa Inggris. Kusadari itu ketika aku berumur 12 tahun. Sebelumnya aku tidak tahu sama sekali bahasa apa itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu. Kau mengatakan bahwa suara ini sudah ada sejak dulu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Pertama kali muncul sejak aku berumur 10 tahun. Aku memberitahu orang tuaku dan mereka menyuruhku melupakannya saja, bahwa itu tidak nyata. tapi bagaimana kau bisa melupakan hal yang sedang terjadi padamu seumur hidupmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berapa sering suaranya muncul? Apa suara itu muncul sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kadang-kadang. Baru saja. Sekarang tidak ada. Tidak dapat kutebak kapan munculnya. Kadang pagi-pagi sebelum aku bangun, kadang muncul ketika aku ada di sekolah, kadang bahkan muncul ketika aku sedang tidur, membuatku terbangun dan terkejut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa katanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah. Aku tidak begitu memperhatikan apa yang dia bilang. Biasanya aku mencoba untuk tidak mendengarnya. Biasanya aku mencoba untuk menganggap itu hanya keributan di sekitar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi itu bukan keributan, Luc. Kau harus mendengar apa yang dia katakan. Mungkin dia hendak memberimu pesan. Mungkin saja dia hantu yang penasaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan bercanda, Ric!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, &lt;em&gt;Sorry&lt;/em&gt;. Tetap saja, kau harus memberitahuku apa yang dikatakannya lain kali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku tidak mengerti Bahasa Inggris. Itu pelajaran yang paling tidak aku suka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cobalah untuk mengingatnya. Nanti aku akan membantumu mengartikannya. Jika kita tahu siapa dia, mungkin kita bisa menghentikannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kamu percaya padaku, Ric?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa itu Ric?” sahut seorang gadis tiba-tiba, membuat Lucas berbalik dan melihat Tania, adik perempuannya melongo melihat Lucas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eric, temanku... ini.” Lucas menunjuk tempat dimana Eric berdiri tadi, yang sekarang tinggal sebuah dinding kosong. “Eric?” tanya Lucas melihat-lihat sekeliling. Eric tidak ada di atap gedung itu. Kemana dia pergi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eric sudah meninggal 2 tahun lalu, Luc. Ayo, turunlah ke bawah. Ayah punya seseorang yang mau bertemu denganmu.” sahut Tania dengan nada cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Aku mau berada disini. Eric percaya padaku. Eric percaya dia ada! Tinggalkan aku sendirian, Tan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;“...Forever suits on you? ‘Forever suits on you’? What was I thinking? Oh no.. this is so embarassing...”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan, Tania mundur dan turun ke lantai bawah. &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;November 21, 2004&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Downtown Los Angeles&lt;br /&gt;USA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“Tidak! Tidak! Ini semua salahku. Jika Eric tidak mempercayaiku... jika aku tidak memberitahunya.. semua ini tidak akan terjadi. Ini salahku.. ini salahku...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Michelle opened her eyes up almost abruptly. Her breath was racing. Sweating all over her body, she got up and sat on her bed. Her eyes were checking her surroundings. It was just a dream. A weird dream it was. She knew that she couldn’t sleep anymore, not with what had just happened.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She went downstairs to get a drink. Glancing at the clock as she was walking out of her bedroom, she saw that it’s 3 in the morning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To her surprise, there was someone in the kitchen. Ah, it’s just her mom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Darling, what’s wrong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I .. I had a nightmare. I can’t sleep.” she told her mom, who was handing her a glass of water. “Thanks.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well.. can’t we all?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michelle shrugged.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mom. I had this weirdest dream.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I thought it was a nightmare.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I don’t know. I was not seeing anything. It’s just... there was some voice I heard. Speaking in a language I didn’t understand. I think it’s like Arab or something.. tagalog or something.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well.. what did it say?” asked her mom curiously.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I don’t know. I told you. It’s a foreign language. How could I tell? But I could tell that he’s hurt or upset. It was very grim and there are a lot of yellings...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It’s a he? Wow. You need to get rest, Mich, especially when you start to dream about an unknown boy.” &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;30 Januari 2009&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Jakarta Utara&lt;br /&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dr. Prawojo, aku sudah merasa lebih baik. Aku tahu. Aku bisa merasakannya di dalam sini. Sepengetahuanku, Eric tidak pernah muncul lagi dan begitu juga suara asing itu. Aku sadar kalau semuanya tidaklah nyata. Semua hanya bayangan semata. Anda juga tahu bukan, sepanjang waktu ini Anda juga mengawasi aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;"...What are you saying? Who are you?..."&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak bisa berpura-pura kalau kamu masih belum sembuh, Luc. Aku senang sekali kamu akhirnya bisa mengatasinya. Dengan demikian, kamu sudah boleh pulang. Kembalilah ke keluargamu. Kembalilah ke hidupmu. Aku akan mengurus semua dokumennya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;&lt;em&gt;"I can't let them know about him... no.. not right now... I must act as if nothing is happening to me.. it's all imagination..."&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, dr. Prawojo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucas menyalami Dokter itu. Senyum sopan melintas di bibirnya, yang dibalas juga dengan sebuah senyum tulus kebapakan dari dokter yang sudah mengawasinya dalam program yang ketat selama 2 setengah tahun belakangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Lucas keluar dari gedung itu, pikirannya hanya ada satu. Ia harus mencari tahu siapa sebenarnya gadis itu. Pikiran siapakah yang selama hidupnya ini dia dengarkan? Iya, karena Lucas telah menyadari selama 2 tahun ini, di dalam sel yang sepi sendirian, mendengarkan semua suara-suara itu. Mereka adalah pikiran dari seseorang. Pikiran dari seorang yang hidup di negara lain. dan entah bagaimana, Lucas bisa mendengarnya, tanpa dia ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang, setelah dia bebas dari kurungan Dr. Prawojo, dia akan bisa menyelesaikan semua teka-teki ini, dan menemukan siapa sebenarnya gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;"... not really happening..."&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;October 22, 2008&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Somewhere in Los Angeles&lt;br /&gt;USA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;“Halo? Halo? Namaku Lucas. Bisakah kamu mendengarku? Aku adalah seorang lelaki berusia 18 tahun di Indonesia. Suaramu selalu masuk ke kepalaku. Aku bisa mendengar apa yang kamu pikirkan. Tapi aku tidak tahu namamu. Bisakah kamu memberitahuku? Halo.. halo.. namaku Lucas. Bisakah kamu mendengarku?” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Michelle freaked out. She didn’t realize she had just been screaming so loudly inside the exam hall. How could she not be? She suddenly heard a voice of a stranger man inside her head, as clear as her own thoughts. Voices she couldn’t understand. Voices which she had forced herself to believe wasn’t real. But they were! They are real!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Stop it! Leave me alone!” cried Michelle out of the blue. The whole class were staring at her.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mich.. what happened? Are you OK?” asked a friend of her, Julia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michelle eyed at her protuberantly as if she was looking at something surprising.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It happened again, Julia, and he was trying to contact me… I… I don’t want… please go away…” Then Michelle ran away. She scurried her way to the park, where all students were still at examination. There were no people there. She was on her own. But even after she’d closed her ears, the voices were still as clear as before.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#336666;"&gt;“Aku tidak menyangka akan terkurung seperti ini. Aku harus keluar dari sini. Setelah itu, aku baru bisa melacak suara-suara ini. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana?” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;“Stop! Stop it please!” she kneeled on the grass, crying. &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;&lt;strong&gt;1 Januari 2010&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Pinggir kota Medan&lt;br /&gt;Sumatera Utara, Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang lelaki jangkung berusia 20 tahun berdiri di tengah-tengah sebuah ruangan gelap tertutup. Satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu adalah dari sebuah monitor flat berukuran 17 inchi, menghadap wajah lelaki itu, sehingga jika ada orang yang melihatnya dari dekat, ia akan bisa melihat sebuah ekspresi lelah pada wajah yang dulunya tegap dan berwibawa. Ia belum bercukur selama beberapa hari, dan rambutnya tidak gondrong lagi, melainkan pendek dan acak-acakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Lucas benar-benar terfokus pada monitor di depannya, tapi ia tidak membaca satu hal pun disana. Malah, dia sekarang memejamkan matanya. Mulutnya tertutup rapat. Pikirannya tenang dan terkontrol. Dia sudah siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Hello... Hello... Can you hear me? Don’t be afraid. If you can hear me, I want you to stay calm and relax your mind. If you can hear this... please... think of the word ‘yes’... &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Suasana di ruangan itu begitu hening. Tidak ada suara selama beberapa jam terakhir. Lucas menunggu dengan sabar. Satu menit... dua menit... tiga menit...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu datanglah suara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Yes... yes... &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucas tersungkur jatuh karena kaget. Belum pernah dia sekaget dan sesenang sekarang. Dia berhasil. Girang bukan main, dia telah berhasil berkomunikasi dengan dia. Tapi dia masih belum selesai. Dia harus tetap tenang... dan melanjutkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;I can hear you... I can hear you... can you hear me now? My name is Lucas... I have been hearing your thoughts for my whole life...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lalu mendadak, tanpa peringatan, pikiran Lucas dibanjiri suara seorang perempuan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;...Oh my God, he can hear me... He can hear me too. Who are you? What are you doing inside my head? Oh no.. Am I going crazy?... &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Stop! You must be calm. Please Arrgh&lt;/span&gt;—— &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;——&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;What? Stop it! What’s happening to me?&lt;/span&gt;— &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;———&lt;span style="color:#339999;"&gt;Arrgh.. I know this can happen.. you should not listen to my thoughts right now&lt;/span&gt;——&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;——&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;Ahh.. My head hurts.. Are you doing this to me? What are you doing?&lt;/span&gt;——&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—&lt;span style="color:#339999;"&gt;We are reading each other’s mind... I must stop... I must stop&lt;/span&gt;——— &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucas tidak bisa tenang dengan rasa sakit menyerang dikepalanya. Ia merasa bagaikan sebuah suara berfrekuensi tinggi dinyalakan di otaknya. Suara perempuan itu terus menerus datang, dan ketika akhirnya Lucas tidak bisa menahan lebih jauh lagi, dia terpuruk. Pingsan. &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6666;"&gt;January 1, 2010 &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Downtown Los Angeles&lt;br /&gt;USA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mich.. Mich.. are you OK?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Julia’s voice came thru her mind, but thankfully, it was from next to her. Michelle gasped for a heavy breath, and then looked at her friend.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“It’s gone. He’s gone. I can’t hear him now.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What happened just now?” asked Julia carefully. They were alone in Mich’s room.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I think I just… I think we just communicated…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Communicated&lt;/em&gt;?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yeah. He asked me to stay calm. He told me he was also listening to my thoughts the whole time, kinda like I am listening to his. His name is Lucas…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lucas? Where is he?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I don’t know…we haven’t got the chance to really &lt;em&gt;talk&lt;/em&gt;. I mean… my head hurt and I heard all this high frequency buzzing… I was afraid that he was doing that to me, somehow…but then it was gone.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What buzzing?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I think it’s because we were trying to read each other’s thoughts. I don’t know…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And at that time… out of nowhere… A voice crawled in to Michelle’s head, so slowly and so delicately.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Email me at lucas1990@yahoo.com … subject “mind me”&lt;/span&gt;…&lt;/em&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color:#c0c0c0;"&gt;... continued to &lt;a href="http://leavedstory.blogspot.com/2007/06/link-part-two.html"&gt;PART TWO&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;---oOOo---&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Lucas, Michelle, and all the characters are mere fiction. Created by Bambang Superwan, 2007©&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22545138-8892363116038672583?l=leavedstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://leavedstory.blogspot.com/feeds/8892363116038672583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22545138&amp;postID=8892363116038672583' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/8892363116038672583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/8892363116038672583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://leavedstory.blogspot.com/2007/06/link-part-one.html' title='The Link &lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;[PART ONE]&lt;/span&gt;'/><author><name>Soliloquist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10187976455571298101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_uoAFuqGlVvg/SXm21Yss2jI/AAAAAAAAAEE/BjlsPN2WaZs/S220/IMG_0162.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22545138.post-7541787289593819205</id><published>2007-04-11T21:18:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T21:21:57.414-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Harry Potter'/><title type='text'>DH - The Inferi land</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;strong&gt;Character:&lt;/strong&gt; Harry Potter, Ron Weasley, Hermione Granger, Remus Lupin, Peter Pettigrew, Vernon Dursley, Petunia Dursley, Dudley Dursley, Arabella Figg.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Harry Potter, names, characters and related indicia&lt;br /&gt;are copyright and trademark Warner Bros., 2000&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;----------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;—Chapter Two—&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:180%;color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;The Inferi Land&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry hanya bisa berdiri diam. Pikirannya berpacu. Pandangannya terfokus ke televisi baru Dudley di ruang makan, yang dengan penuh ketakutan sedang menayangkan berita khusus, memotong acara favorit Aunt Petunia “Celebrity Corner”. Uncle Vernon dan Aunt Petunia menonton TV dengan atmosfer kengerian menyelubungi mereka semua. Dudley mengintip dari belakang bahu ayahnya. Wajahnya menyiratkan ketakutan yang sama besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“... para ahli belum dapat menyimpulkan apa yang menyebabkan kehancuran misterius yang menerpa kota London dan sekitarnya. Walau dapat dilihat langsung dari liputan McKinsley yang sekarang sedang mengudara di atas London. Silahkan, Saudara McKinsley.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat seorang pria pucat bertopi GMTV berbicara keras pada kamera melawan suara helikopter yang berkeliling diatas sisa-sisa kota London di malam yang suram ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terimakasih, Ben. Dapat kita lihat dari atas sini, apa yang telah menjadi sisa kota London. Saya dapat melihat banyak orang panik yang berusaha keluar dari kota. Hampir semua jalan raya dipenuhi mobil. Laju kecelakaan di London tidak pernah setinggi ini. Tampaknya semua orang panik dan takut akan ketidakmampuan pemerintah mengatasi terror yang menurut sebagian orang—tak terlukiskan. Bagaimana orang bisa tenang, melihat rumah-rumah dan gedung-gedung di kota mendadak runtuh, pohon-pohon tercabut dari akarnya, dan banyak penduduk yang meninggal begitu saja, tanpa ada sedikitpun bekas luka. Kota ini sudah menjadi tanah pembantaian..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry bergabung dengan keluarga Dursley, tidak bisa berkata-kata. Semua anggota keluarga Dursley melihat Harry dengan pandangan aneh, namun tidak mengucap sepatah katapun. Mereka berpaling ke televisi lagi, ketika lelaki bernama McKinsley itu berbicara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“... oh ya, pemirsa dimanapun kalian berada, kami baru saja mendapat laporan dari bagian Selatan kota, mereka baru saja melaporkan tentang monster-monster besar yang sedang mengubrak-abrik kota. Ya Tuhan, tampaknya... itu... itu raksasa. Darimana muncul monster mengerikan seperti itu!” Kamera lalu diarahkan ke bagian Selatan kota, dimana dari kejauhan dapat dilihat dengan jelas sekumpulan raksasa yang sedang menghancurkan kota dengan jauh lebih efektif dari pada apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, Vernon. Apa yang harus kita lakukan?” sedu Petunia penuh ketakutan, tangannya menyambar lengan besar Vernon. Namun tampaknya Uncle Vernon tidak mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang sebenarnya direncanakan orang-orang di duniamu?” tuding Vernon tajam pada Harry, yang segera sadar Voldemort telah melancarkan serangannya dengan merajalela, melihat tidak ada lagi Dumbledore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini ulah Voldemort. Aku tak tahu apa sebenarnya yang dia inginkan, tapi aku rasa dia ingin menduduki kementrian sihir. Mengancam dia akan memusnahkan dunia muggle jika Mentri Sihir tidak memberikan jabatannya. Dia juga melakukan ini tahun lalu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi semua ini salah kalian?!” umpat Uncle Vernon. Ludahnya bersemburan. “Kami semua harus menanggung akibatnya karena kementrian bodoh kalian tidak bisa melawan satu orang pe-... penyihir bodoh?” Harry tahu Vernon masih belum bisa mengatakan kata penyihir dengan keras. Namun dia tidak peduli saat ini. Dia juga tidak begitu peduli dengan pendapat pamannya. Dan Petunia juga tampaknya demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus pergi dari sini, Vernon. Bagaimana jika raksasa itu sampai ke Surrey?” kata Petunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kemana kita akan pergi?” tanya Dudley balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uncle Vernon tidak menjawab satupun pertanyaan yang diajukan. Setelah terdiam sebentar, ia membuka mulutnya. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan isi pikirannya, terdengar teriakan dari luar. Sesuatu telah terjadi di luar Privet Drive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat orang itu bergegas keluar dari rumah untuk melihat apa yang terjadi. Para tetangga tampaknya juga sedang melakukan hal yang sama. Harry melihat sekeliling, pandangannya menerawang jauh sampai semua jalan-jalan yang dapat dijangkau matanya. Tongkat sihirnya teracung siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan-teriakan banyak orang masih terdengar samar-samar. Harry memandang ke ujung jalan Privet Drive. Disana ia melihat sekumpulan muggle—yang dikenalnya sebagai pemilik rumah-rumah di Privet Drive—sedang berlari ke arah keluarga Dursley. Lalu sebuah ledakan keras terjadi, dan semakin banyak orang menjerit. Sebuah mobil terlempar ke udara, jatuh terbakar menimpa sebuah rumah petak bertingkat dua. Dan saat itu, Harry bisa melihat dengan jelas apa yang menjadi penyebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ngeri, dia melihat kira-kira ada ratusan inferi yang dengan jelas sudah disihir oleh pelahap maut untuk menyerang dan membunuh orang-orang. Berjalan lambat dengan langkah berat, kumpulan mayat hidup itu mulai memasuki Privet drive dan mendekati keluarga Dursley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya ampun. Apa itu?” jerit Petunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelihatannya seperti Zombie yang di video games.” Kata Dudley dengan nada seperti ingin membuat ibunya merasa lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semuanya, cepat pergi dari sini!” teriak Harry pada orang-orang di belakangnya. Tapi semua anggota Dursley tidak bergerak sedikitpun, entah karena ketakutan setengah mati atau karena mereka belum menyadari betapa bahayanya situasi sekarang. Malah, mereka bertanya balik pada Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa itu, Harry?” tanya Vernon dengan nada lemah, akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka inferi. Mayat yang disihir jadi hidup. Mereka adalah suruhan Voldemort.” Kata Harry tergesa-gesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Vernon lagi, melirik tongkat ditangan Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A.. aku akan mencari orang yang menyihir mayat ini. Dia pasti berada disekitar sini. Lagi pula, inferi tidak bisa membuat mobil terlempar ke atas dan meledak. Pasti itu perbuatan penyihir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi bagaimana jika mereka lebih dari satu orang? Dan mayat-mayat ini.. jumlahnya ratusan..” kata Petunia lebih kepada dirinya sendiri. Harry dapat mendeteksi rasa cemas dari suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry tidak sempat mengatakan apa-apa, ketika seorang wanita tua memanggilnya dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harry! Harry!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry menoleh. Dia melihat Mrs Figg berjalan terpincang-pincang ke arahnya. Beberapa ekor kucing mengikutinya dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mrs. Figg.” Sahut Petunia sambil mengernyitkan keningnya. Dia tidak suka dengan kekotoran Mrs Figg, begitu juga dengan kucingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harry, aku sudah mengirim burung hantu ke kementrian sihir. Mestinya sebentar lagi akan ada Auror yang datang.” Katanya tanpa mempedulikan Petunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Right.” Kata Harry mengangguk, tapi Uncle Vernon menyelanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Burung hantu? Kementrian sihir? Mrs Figg, jangan-jangan, kau juga...” katanya menunjuk Mrs Figg, yang herannya, masih mengacuhkan keluarga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, Harry. Aku harus membawamu pergi dari sini. Ayo, kita ke tempat aman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak.” Kata Harry tiba-tiba. Semuanya berpaling melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harry, apa yang kamu lakukan? Dumbledore menugaskanku untuk menjaga keselamatanmu setiap saat. Aku tidak bisa membiarkan kau disini sekarang, tidak dengan semua inferi ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry melihat Uncle Vernon masih terpana melihat Mrs Figg, dan mulutnya dalam diam mengucapkan kata ‘Dumbledore?’. Harry juga melihat kerumunan inferi semakin dekat dan semakin banyak orang yang berlari menjauhinya, meninggalkan semua harta benda dan rumah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mrs. Figg. Tolong bawa keluarga Dursley pergi dari sini. Aku akan menyusul.” Lalu Harry berlari menuju inferi itu, mengabaikan panggilan “Harry!” dari Mrs Figg. Uncle Vernon bergegas memaksa semua keluarganya memasuki mobil mereka. Tampaknya ia sudah bertekad untuk lebih memilih nyawanya dari pada rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry tidak takut. Ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk melawan para inferi. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, siapakah pelahap maut yang ikut datang bersama inferi ini? Apakah Voldemort datang untuk membunuhnya? Ataukah penyerangan inferi ini hanyalah kebetulan terjadi si Surrey, tempat Anak Lelaki Yang Bertahan Hidup berada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bombarda!” Harry berteriak sambil mengacungkan tongkatnya ke arah para Inferi yang sudah berjarak hanya beberapa meter darinya. Ledakan yang keluar dari tongkat Harry begitu kuat sampai belasan inferi itu terlempar dan terdorong kebelakang, jatuh menimpa mayat-mayat lainnya. Lalu mereka bangun lagi, berjalan lagi dengan tampang mengerikan seakan tidak ada yang mendorong mereka. Hanya saja mayat-mayat itu sekarang mengincar Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muggle-muggle yang masih belum melarikan diri dari sana, melihat Harry dengan penuh takjub. Harry tahu ia telah melakukan sihir di depan muggle, dan dia tidak peduli, karena dia tahu kementrian sihir sekarang tidak mempedulikan hal itu sekarang, lebih sibuk mengatasi kerusuhan yang disebabkan Voldemort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan mayat hidup yang datang bergerombol memadati rumah dan jalan di privet drive kelihatan seperti neraka orang mati. Dudley benar. Ini tampak seperti serangan zombie di malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Circulio Flagrate!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api merah raksasa menyembur keluar dari tongkat Harry, kemudian bergerak seperti ular dan melingkar mengelilingi Harry sampai 3 kali. Harry menghentakkan tongkatnya, dan dia dikelilingi cincin api raksasa yang mengikuti dia kemana pun dia pergi. Malam itu mendadak terasa terang dan panas. Harry mengingat dengan jelas apa yang dilakukan Dumbledore di gua pada waktu itu. Inferi takut akan cahaya. Mereka takut akan api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry melihat inferi itu menjauhi Harry, tidak berani datang terlalu dekat dengan lingkaran api harry. Memanfaatkan hal ini, Harry berlari ke tengah-tengah ratusan Inferi itu. Lingkaran apinya mengikutinya. Lalu Harry melambaikan tongkatnya membentuk lingkaran diatas kepalanya. Ia berteriak. Mantra itu dengan cepat bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkaran Api itu membelah dan menyembur menuju inferius-inferius di dekatnya. Harry melihat banyak inferi yang terbakar, dan mayat-mayat itu seperti tersiksa dan tidak bisa mematikan serangan api Harry. Akhirnya mayat-mayat itu menelungkupkan tubuhnya diatas tanah. Terbakar hidup-hidup—atau mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah dari mana, tiba-tiba sebuah sinar merah menyerang Harry. Harry menghindar tepat waktu.&lt;br /&gt;“Mati kau Potter!” terdengar sebuah suara kasar, namun tidak asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry tersenyum. Rencananya berhasil. Ia telah menarik perhatian pelahap maut yang datang bersama inferi itu, yang kemungkinan besar juga menyihir dan memerintahkan inferi itu. Harry melihat dari celah di antara lingkaran apinya, sosok seorang penyihir bergerak mendekati Harry. Sampai jarak tertentu, Harry akhirnya mengenalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wormtail.” Sahut Harry dengan nada penuh kemarahan. Inilah dia, pengkhianat orang tuanya, penyebab Sirius dipenjarakan selama dua belas tahun, dan penyebab Voldemort bangkit kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bodoh sekali kau, Potter. Kupikir akan sulit mencarimu di antara muggle-muggle bodoh ini. Tapi seharusnya aku tahu nyalimu memang besar. Aku tahu kau tidak akan lari begitu saja dari semua kekacauan ini, dan aku berterima kasih untuk itu.” Sahutnya keji. Suaranya masih berciri khas cicit tikus setelah selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau datang untuk membunuhku?” tanya Harry , tongkatnya teracung siap. “Kupikir Voldemort akan menghabisiku sendirian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pangeran Kegelapan tidak tahu aku ada disini, Harry. Beliau tidak melihatku sebagai aset yang berharga lagi, belakangan ini. Menyuruhku sembunyi di rumah Snape! Aku tahu aku harus menunjukkan kemampuanku padanya, maka aku menyusun rencana ini. Aku mengumpulkan mayat-mayat selama setahun ini, untuk menjadi pasukanku. Dan aku akan membunuhmu, Harry! Dan Pangeran Kegelapan akhirnya akan mengakuiku sebagai abdinya yang paling setia, dan yang paling berguna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silakan mencoba. Jika kau bisa!” Harry menembakkan sinar merah ke arah wormtail tiba-tiba. Lingkaran apinya padam seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wormtail menangkis serangan Harry dan tertawa. Harry tahu dia tidak boleh menganggap remeh Wormtail, bagaimanapun juga, dialah orang yang telah berhasil mengutuk dua belas orang dan membuat ledakan tanpa Sirius sempat mencegahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wormtail mengangkat tangan peraknya dan mengirim kutukan mematikan ke arah Harry. Kutukan itu meleset dan menghantam rumah Dursley sampai ambruk. Harry melempar tubuhnya ke tanah, berguling dan mengarahkan lagi tongkatnya pada Wormtail dan bergumam ‘Levicorpus!’ dalam pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhasil! Wormtail terbalik, tergantung dengan satu kakinya tertahan di tengah udara. Tapi tongkat Harry mendadak terbang dari genggamannya. Ternyata Wormtail telah menyucuti senjata Harry tanpa disadari Harry. Harry berlari untuk mengambil tongkatnya. Sementara itu Wormtail merapalkan mantra dengan melambaikan tongkatnya. Lalu terdengar bunyi POP! Dan Wormtail berubah menjadi seekor tikus yang terjatuh ke tanah. Akhirnya dia terlepas dari kutukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat itu, Harry berlindung di belakang sebuah tembok. Dia tidak akan bisa menang melawan Wormtail tanpa tongkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wormtail muncul tiba-tiba di depan Harry, seakan dia tahu benar dimana Harry bersembunyi. Refleks Harry menggarap pasir dan kerikil dengan tangannya dan melemparkannya ke wajah Wormtail. Wormtail berteriak dan menutup matanya yang kemasukan pasir. Mantra yang diluncurkannya pada Harry meleset. Harry menendang Wormtail dengan kedua kakinya. Tongkat Wormtail terlepas dari tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini untuk ayah dan ibuku!” Sahut Harry sambil meninju wajah Wormtail. Pencarian tongkat pun terlupakan. Harry hanya ingin menyakiti Wormtail separah mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini untuk Sirius!” Harry menumbuk wajah jelek Wormtail sekuat tenaga. Namun pada saat bersamaan, tangan besi Wormtail dikalungkan di leher Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry panik. Dia tidak bisa bernafas. Tangan itu mencengkram begitu kuat sampai Harry menyangka lehernya akan patah dan dia akan mati tanpa merasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selesai sudah, Harry! Kirim salamku pada James dan Sirius!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mendadak, Wormtail terlempar. Tubuh Harry entah bagaimana telah menghasilkan suatu kejutan listrik yang sangat besar. Tangan Wormtail terlepas dan Harry terjatuh dan terengah-engah mengambil nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedetik kemudian, tiga inferi menangkap Harry dari belakang. Mereka menarik Harry yang sudah kehilangan tenaga. Tampaknya mayat-mayat itu akan mencabik-cabik tubuh Harry. Diatas ketidakberdayaannya, Harry melihat akhir hidupnya mendekat. Wormtail mendekatinya dengan tongkat teracung tepat padanya. Harry terpojok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Avada Ke..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Impedimenta!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi Wormtail terlempar. Harry berpaling dan —harapannya tiba-tiba meluap— dia melihat Hermione Granger berlari ke arahnya. Sinar terang muncul dari ujung tongkatnya, membuat wajahnya yang penuh ketakutan terlihat jelas. Lupin dan Ron muncul di belakang Hermione. Ron menggunakan tongkatnya dan mengirim sebuah mantra dari jauh. Harry merasa inferi-inferi itu terlepas darinya. Ron dan Hermione menghampirinya, membantu Harry berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey.” Sapa Harry sambil nyengir pada kedua sahabatnya, yang memandang Harry dengan takut. Tubuh Harry dilumuri keringat, tanah dan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau pikirkan melawan ini semua?” tanya Hermione sebal. “Kau hampir mati, Harry.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Well, kan ada kamu yang menyelamatkan nyawaku, Hermione. Thanks Ron.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ron nyengir dan takjub melihat banyak mayat yang terbakar ditanah. Hermione mulai berbicara lagi tapi Harry tidak mendengarnya. Ia melihat Lupin mendekati Wormtail dengan tongkat teracung tepat ke jantungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo, Peter!” Harry bisa melihat ekspresi wajah Lupin ketika melihat Wormtail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, Remus... temanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bukan temanku, pengkhianat. Kau telah membuat Voldemort kembali, dan kali ini aku akan benar-benar membunuhmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Remus.. maafkan aku. Kau tidak tahu apa yang harus kami lakukan untuk bertahan hidup.. Sebagai pelahap maut..” Tiba-tiba Wormtail bertransformasi menjadi tikus dan mencoba untuk kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awas!” teriak Harry pada Lupin, yang ternyata sudah memperkirakan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wormtail kembali menjadi manusia lagi, dia tersungkur di tanah dan menatap Lupin putus asa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Avada Kedavra!” sahut Lupin sambil memandang mata Wormtail dengan penuh kesedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wormtail tumbang. Tangan besinya menghantam tanah sama kerasnya dengan tubuhnya. Harry, Ron, dan Hermione memandang Lupin dengan kaget. Bersamaan dengan itu, semua inferi di sana ikut jatuh dan kembali tak bernyawa. Sihir di tubuh mereka telah ikut musnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keheningan setelah kematian Wormtail berlangsung cukup lama. Kemudian Lupin berbalik dan berkata singkat pada Harry, “Ayo, Harry. Kita pergi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry menurut. Ron mengikuti Harry dari belakang. Matanya menatap sekilas rumah Dursley yang sudah runtuh sebagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Blimey, Harry. Lihat rumah pamanmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry memandang rumah itu sekilas dan membayangkan apa reaksi Uncle Vernon ketika ia kembali ke rumah hancurnya dengan ratusan mayat di pekarangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tidak mau, Harry tersenyum juga. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;-------------------------------------- &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;to be continued...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22545138-7541787289593819205?l=leavedstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://leavedstory.blogspot.com/feeds/7541787289593819205/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22545138&amp;postID=7541787289593819205' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/7541787289593819205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/7541787289593819205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://leavedstory.blogspot.com/2007/04/dh-inferi-land.html' title='DH - The Inferi land'/><author><name>Soliloquist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10187976455571298101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_uoAFuqGlVvg/SXm21Yss2jI/AAAAAAAAAEE/BjlsPN2WaZs/S220/IMG_0162.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22545138.post-2947821343434983196</id><published>2007-04-11T21:08:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T21:13:46.594-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Harry Potter'/><title type='text'>DH - Fight of The Prince</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;&lt;strong&gt;Rating:&lt;/strong&gt; kayaknya PG-13 (untuk beberapa kekerasan dan siksaan)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Disclaimer:&lt;/strong&gt; Semua punya JKR kecuali ide cerita.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Character:&lt;/strong&gt; Harry Potter, Ron Weasley, Hermione Granger, Neville Longbottom, Lord Voldemort, Bellatrix Lestrange, Severus Snape.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Harry Potter, names, characters and related indicia&lt;br /&gt;are copyright and trademark Warner Bros., 2000&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;----------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Author's note :&lt;/strong&gt; Ini adalah chapter kedua terakhir dalam FF Harry Potter and the Deathly Hallows versi gw. So bakal ada chapter-chapter berikutnya nanti (mungkin Chapter-chapter sebelumnya atau lanjutannya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;----------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;---Chapter kedua dari terakhir---&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:180%;color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;Fight of the Prince&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Hermione terangkat keatas dengan gemulai, seakan dalam gerak lambat Harry melihatnya. Dengan penuh kengerian, Harry teringat akan Katie Bell di Hogsmeade lebih dari setahun lalu. Belum sempat Harry mencerna ketakutannya, tubuh Hermione kemudian terlempar keluar dari pandangan seakan ditelan oleh sinar merah yang dipancarkan dari tongkat sihir Bellatrix.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“HERMIONE!!!” Ron berteriak parau. Dia bangkit dan menyangga tubuhnya dengan kedua kakinya yang terluka. Dia mengacungkan tongkatnya dengan garang dan gegabah ke arah Bellatrix, seperti seekor banteng yang mengamuk. Ron tidak menyadari, tampaknya, bahwa Alecto sudah juga bangkit dan sedang menolehkan tongkatnya pada Ron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ron! Awas!” Neville berlari mendekati Ron. Tongkatnya teracung siap di tangan kirinya. “Oppugno!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekumpulan silir tumbuhan liar menerjang pelahap maut itu sebelum sempat mengutuk Ron, lalu mengikatnya dengan liar jauh lebih kuat daripada Devil’s Snare. Ron tampaknya tidak menyadari Neville baru saja menyelamatkan dirinya. Harry melihat ia berlari menghampiri tubuh Hermione yang sekarang tergeletak diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hermione! Oh, Tidak! Hermione!” Ron mengguncang-guncang bahu Hermione tanpa hasil. “Ennervate! Hermione! Bangunlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry yang sedang berada sepuluh meter dari tubuh Hermione tidak bisa berpaling terlalu lama. Kutukan yang diluncurkannya pada Amycus berhasil terelakkan. Amycus tersenyum licik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cuma ini kah kemampuanmu, Potter? Pangeran Kegelapan selalu mau menghabisimu sendirian, semula aku kira kau lebih ‘spesial’ dari penyihir biasa. Ternyata kau tidak lain hanya seorang penyihir bodoh yang mencoba menyerang markas Pelahap Maut dengan bantuan segerombolan anak sekolahan. Langkah bodoh, Potter. Kau sama saja dengan bunuh diri!” Ia mengerahkan kutukan kematian pada Harry, yang sudah siap dengan serangan Amycus. Ia harus cepat-cepat menyelesaikan Amycus agar bisa mengecek Hermione atau membantu Neville yang sudah mulai bertarung melawan Bellatrix.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry menghilang dari hadapan Amycus bahkan sebelum dia selesai mengucapkan mantra pembunuhnya. Harry muncul diatas tumpukan bangunan tidak jauh di sebelah Amycus yang ternyata tidak menyangka Harry akan ber-Apparate. Harry mempergunakan kesempatan itu sebaik mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Stupefy!” seru Harry. Amycus terlempar dan tumbang tak sadarkan diri. “Kau terlalu banyak bicara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa membuang waktu lagi, Harry berlari menuju Hermione dan Neville, yang jatuh hilang keseimbangan karena menghindari mantra berwarna kuning yang misterius milik Bellatrix.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahaha... Kau pikir kau akan bisa mengalahkanku dengan kekuatan lemah seperti itu Longbottom?” Seru Bellatrix meremehkan ketika dia menghancurkan silir tumbuhan Neville dengan tongkat sihirnya yang dipegang erat dengan kedua tangannya. Neville bangkit lagi dengan nafas tersengal-sengal. Muka bundarnya mengerut penuh kebencian dan kemarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Expelliar...” Mantra Neville ditepis Bellatrix dengan mudah. “Kau tidak akan bisa mengalahkanku, bodoh! Crucio!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arrrgggghhh!! Arrggh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kedua kalinya, Neville mendapat kutukan yang sama dari Bellatrix. Teriakan Neville sepertinya telah menyadarkan Ron akan prioritasnya. Membalikkan tubuhnya, dia segera berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Stupefy!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, Harry juga berteriak “Expelliarmus!” pada Bellatrix bersamaan dengan Ron. Dua sinar yang melaju cepat menuju Bellatrix membuatnya kaget. Ia berhenti menyiksa Neville dan menyahut “Protego!”. Mantra itu berhasil menangkis pembius Ron, namun sesaat kemudian tongkat sihir Bellatrix terlempar melewati kepalanya sendiri. Terperangah, ia berlari meraih kembali tongkat sihirnya. Namun Ron tidak begitu saja membiarkan Bellatrix lolos. Seakan dia juga kehilangan tongkat sihirnya, Ron menerjang Bellatrix dengan kedua tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ron!” Harry terpana menyaksikan perkelahian Muggle itu. Jika keadaan tidak seserius sekarang, Ron akan terlihat lucu sekali. Tapi tampaknya Ron hendak melukai Bellatrix sampai separah mungkin karena telah menyihir Hermione.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakan apa yang kau lakukan pada Hermione! Pelahap Maut busuk!” seru Ron sembari membabakbelurkan Bellatrix yang merintih kesakitan. Harry mengacungkan tongkatnya dengan hati-hati pada Bellatrix, bermaksud untuk mengamankan Bellatrix, tapi Ron tampaknya tidak akan berhenti. Di luar dugaan Harry, Ron terlempar seolah-olah dia menerima sengatan listrik dari tubuh Bellatrix, tepat pada saat Bellatrix meraung “Minggir!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry yang takut Bellatrix akan ber-Apparate, segera mengacungkan tongkatnya. Sinar merah keemasan yang meliuk seperti ular menjalar cepat membentuk rantai dan mengikat Bellatrix tetap di tempatnya. Ikatan anti-Apparate itu tampaknya berhasil mengamankan satu-satunya pelahap maut yang masih sadar di markas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa melepaskan pandangannya pada Bellatrix yang menggelepar-gelepar, Harry berkata pada Ron, “Kau tidak apa-apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ron menggeleng. Ia lalu menghampiri Hermione lagi. Harry membantu Neville untuk berdiri.&lt;br /&gt;“Dia masih bernafas. Atau kukira begitu.” Ron meraba denyut nadi Hermione dengan penuh kecemasan terlukis di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ron, bawalah Hermione ke Spinner’s End. Snape ada di sana mengobati Malfoy. Dia akan tahu apa yang mesti dilakukan untuk menyadarkan Hermione. Aku akan mencari tahu dimana Voldemort sekarang.” Sahut Harry sambil menatap Bellatrix.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah.” Ron merangkul Hermione, bersiap-siap untuk ber-Apparate bersamanya, ketika Harry berteriak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Neville!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neville sudah melepaskan dirinya dari pegangan Harry. Ia menuju Bellatrix, yang menatap balik dengan kadar kebencian besar yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Crucio!” seru Neville mengacungkan tongkatnya tepat pada Bellatrix, yang mulai berteriak kesakitan. Suaranya mengaung membuat bulu kuduk berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Neville!!! Kita butuh dia hidup-hidup!” Harry berteriak pada Neville. Ia tahu benar kerongkongannya sakit bukan main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu, toh dia tidak akan mati.” Kata Neville dengan nada penuh kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Neville, hentikan! Ini kutukan yang ilegal!” kali ini Ron yang berbicara, tampaknya tindakan mendadak Neville telah membuatnya menunda ber-Apparate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarkan aku, Harry!” seru Neville yang terus mengacungkan tongkatnya pada Bellatrix, yang sekarang menggelepar-gelepar di tanah sambil berteriak sampai ke ujung batas suaranya. “Dia pantas menerima ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry tahu dia harus menghentikan Neville yang terbawa emosi, sebelum Bellatrix kehilangan kewarasannya dan keberadaan Voldemort ikut hilang bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAM! Tubuh Neville terangkat dan terbalik seakan ada tangan besi besar menggantungnya pada mata kakinya. Tongkat Neville terjatuh dan suara Bellatrix mengecil menjadi rintihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lepaskan aku, Harry!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Neville. Aku terpaksa. Kau tidak membe..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perempuan ini membuat Mum and Dad menjadi gila! Perempuan ini menghancurkan hidupku! Aku tidak akan berhenti sampai dia kubunuh. Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat ibumu sendiri tidak mengenalmu, Harry. Kau tidak tahu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry terdiam melihat Neville yang hampir menangis sambil tergantung di udara. Harry berkata dalam pikirannya, “Liberacorpus!”, dan Neville jatuh tersungkur. Mukanya menghadap tanah. Ia menumbuk tanah dengan kepalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Neville... Aku tahu apa yang dia lakukan pada orangtuamu. Tapi kita masih butuh dia untuk Voldemort.” Sahut Ron tiba-tiba. Dia mendekati Neville dan membantu dia berdiri. Harry memberikan kembali tongkat Neville padanya, tahu setelah ini, Neville tidak akan bertindak gegabah lagi. Lagipula, Harry yakin Neville tahu betapa pentingnya menyingkirkan Voldemort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimana Voldemort?” tanya Neville kasar pada Bellatrix.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha.. ha.. ha..” Perempuan itu tertawa licik walaupun nafasnya tersengal-sengal. “Kau boleh bertanya kepadaku berapa kalipun kau suka, aku tidak akan memberitahumu. Kalian semua akan mati di tangan Pangeran Kegelapan. Penyihir-penyihir bodoh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika Voldemort tidak ada di markasnya, dimanakah dia? Kemanakah Lupin dan Sirius pergi?” tanya Harry keras, terdengar lebih kepada dirinya sendiri daripada ke orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sirius berkata padaku kalau dia dan Lupin sudah menemukan lokasi Nagini, dan dia akan menghancurkan Horcrux itu. Aku ragu Voldemort berada jauh dari ular itu. Jika mereka menemukan Nagini, maka mereka menemukan Voldemort.” Kata Ron serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, aku tahu itu Ron. Tak kusangka Sirius tidak melibatkanku dalam hal sepenting ini.” Sela Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harry, kau tahu Sirius tidak mau kau mengejar Voldemort sendirian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, dia salah lagi, karena aku pasti akan mengejar Voldemort. Aku tidak mau Sirius meninggalkanku lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haha.. tak kusangka Black bodoh itu bisa selamat dari lembah kematian. Seharusnya aku menggunakan Avada Kedavra saat itu.” Kata Bellatrix tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Neville, ambilkan veritaserum dari kantong Hermione. Kita akan butuh itu.” Sahut Harry dengan tegas. Neville bergegas menghampiri Hermione. Ron menyusulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beberapa kejadian terjadi begitu cepat, bekas luka Harry seperti mau terbelah karena sakitnya. Harry berlutut ditanah. Tersungkur dengan kedua tangan menyentuh keningnya. Pandangannya menjadi kabur, tapi dia bisa melihat sesosok penyihir dengan kekuatan hitam kuat muncul mendadak tidak jauh dari tempat Neville dan Ron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“RON!!” teriak Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Voldemort menghempaskan Neville dan Ron dengan satu belaian tongkatnya. Mereka berdua terlempar menumbuk dinding rumah beton dan pingsan. Mata Harry melihat kedua temannya dengan ngeri. Namun, dia juga dapat melihat kalau Voldemort sedang terluka. Darah mengalir dari dada dan kedua kakinya. Dan dia tetap sama berbahayanya. Dimana Sirius? Dimana Lupin? Harry tidak melihat Nagini. Voldemort tampaknya kembali ke markas seorang diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Voldemort dengan cepat menyapu ruangan. Dia melihat markas pelahap maut yang sudah hancur, kedua Carrow sudah kalah. Satu terlilit tanaman ganas, satu pingsan tersihir. Dia melihat Bellatrix yang terikat dan berkata “Tuan, kau datang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia melihat Harry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Voldemort menembakkan sinar merah kuat ke arah Harry tanpa basa basi. Harry meraih tongkat Bellatrix dan berseru “Protego!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra pelindung Harry menahan Harry dari akibat terburuk yang dapat ditimbulkan kutukan Voldemort. Walaupun dengan mantra pelndung, Harry terdorong ke belakang dan ia sempat berjungkir balik sebelum wajahnya menyentuh tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Voldemort tergopoh-gopoh mendekati Bellatrix dan melepaskan ikatan emas yang tadi diciptakan Harry. Bellatrix terbebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mengecewakanku lagi, Bella. Markas Pelahap Maut...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuan, mereka muncul tanpa kami sadari... Amycus, dia..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka cuma anak 17 tahun! Biar kuperlihatkan padamu bagaimana membereskan mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry tahu Voldemort akan membunuh Ron atau Neville dulu. Ia bangkit dan menyahut “Stupefy!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra Harry meleset hanya beberapa senti dari Voldemort. Namun itu cukup untuk membuat Voldemort berpaling pada Harry. Tongkat Voldemort kelihatan seperti memanjang dan bersinar hijau terang. Lalu suatu kumpulan sinar seperti cambuk hidup menyerang Harry. Bersamaan dengan itu, Voldemort menghilang dan muncul di atas Harry sama seperti ketika ia melawan Dumbledore dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry melambaikan tongkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Protego!” Mantra itu tidak bisa menolongnya. Tubuh Harry bagaikan diiris puluhan pisau tajam. Cambuk itu menyayat tubuh Harry dengan tiada ampun. Harry dapat merasakan darahnya memancar keluar dari setiap inchi tubuhnya. Tapi dia tahu bahaya yang sebenarnya ada diatasnya, ketika Voldemort muncul dengan mendadak lima meter diatasnya. Harry tidak bisa melakukan apapun. Tidak ada Fawkes atau Dumbledore yang dapat menolongnya sekarang. Ia akan mati seperti ini, setelah semua perjuangan Dumbledore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar teriakan di ujung sana. Harry tahu suara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Impedimenta!” Voldemort terdorong mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry berpaling dan melihat Hermione berdiri dengan nafas berat. Tongkat Hermione teracung, namun ia kehilangan kekuatan dan jatuh kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Voldemort kembali datang beraksi. Harry yang sudah lemah mengangkat tubuhnya dan tongkat sihir milik Bellatrix. Menggunakannya, ia berteriak “Sectumsempra!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Voldemort menangkis sayatan pisau kasat-mata Harry. Lalu sebuah sinar merah mendorong jatuh Voldemort. Harry berbalik untuk melihat siapa yang membantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minggir Potter!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Snape berlari ke arahnya. Voldemort berdiri dan siap melawan Snape. Snape menghilang dan muncul dengan sangat cepat di sekeliling Voldemort. Setiap kali dia muncul, sebuah sinar menyerang Voldemort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Voldemort menangkis beberapa sinar itu dan kemudian menghilang. Snape berdiri tenang melihat ke sekeliling. Suasana bergeming. Bellatrix hanya bisa berdiri melihat semuanya tanpa tongkat sihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dari langit yang gelap, mendadak muncul lima bayangan hitam yang menyerupai asap. Berbentuk seperti jubah terbang, kelima bayangan itu datang mengepung Snape dari segala arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah bayaran seorang pengkhianat, Snape!” terdengar suara Voldemort entah dari mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Snape tidak terdiam. Ia mengangkat tongkatnya vertikal ke langit dan berseru dengan suara tanpa ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Expecto Patronum!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor elang raksasa keluar dan menyapu semua bayangan hitam itu. Semuanya begitu menyilaukan. Harry tidak bisa melihat dimana Snape, apalagi Voldemort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Harry mendengar Voldemort berkata, “Ayo, Bella.” Harry berpaling cepat ke arah Bellatrix berdiri, tidak jauh dari tempat Neville tadi terlempar. Neville dan Ron tidak ada di sana lagi. Neville sedang mencegah Bellatrix ber-Apparate, namun Voldemort muncul di depan Neville dan berseru, “Avada Kedavra!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ron melemparkan diri mendorong Neville. Kejadiannya sangat cepat. Harry melihat tubuh Ron terlempar seperti Cedric Diggory. Harry tidak dapat mempercayai matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“RON!!! RON!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry berlari mengejar Voldemort, tapi Voldemort telah ber-Apparate bersama Bellatrix.&lt;br /&gt;Mata Hermione terpaku pada tubuh Ron yang terhampar ditanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ron?” sahutnya pelan dan penuh ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neville mengangkat tubuhnya berdiri. Dia melihat Ron dengan penuh rasa bersalah. Harry melemparkan tubuhnya ke sisi Ron. Sesaat kemudian, Hermione melakukan hal yang sama. Wajah Ron menyiratkan ketakutan yang mendalam. Tapi matanya sudah kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry tidak mau mempercayai semuanya. Ron tidak boleh mati. Ron tidak boleh mati.&lt;br /&gt;Tapi Ron tidak bergerak lagi. Dia berbaring dengan mata terbuka. Hermione memeluk tubuh Ron dan tidak berhenti mengucap namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh Ron. Ron... Jangan tinggalkan aku. Ron...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry berlutut di samping Ron. Tertunduk. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;---o()O()o---&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;to be continued...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22545138-2947821343434983196?l=leavedstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://leavedstory.blogspot.com/feeds/2947821343434983196/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22545138&amp;postID=2947821343434983196' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/2947821343434983196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/2947821343434983196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://leavedstory.blogspot.com/2007/04/dh-fight-of-prince.html' title='DH - Fight of The Prince'/><author><name>Soliloquist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10187976455571298101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_uoAFuqGlVvg/SXm21Yss2jI/AAAAAAAAAEE/BjlsPN2WaZs/S220/IMG_0162.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22545138.post-2496411770160465737</id><published>2007-03-22T01:45:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T21:15:18.718-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Harry Potter'/><title type='text'>Harry Potter and The Thing... You Know... The Thing</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Title: &lt;strong&gt;Harry Potter and The Thing... You Know... The Thing&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rating: PG -13, for a strange thing you should find out later &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Genre: Adventure, Comedy, I don't know...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Language: English&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Timeline: Ten months after Book 6&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Universe: This is definitely an Alternate Universe.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Disclaimer: All Harry Potter characters belong to JK Rowling and Warner Bros (although I twisted them a lil bit)Title credits goes to myself.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;------------------------------------------------------------------- &lt;/div&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;p align="justify"&gt;It had been about ten months, seven days, four hours, twenty five minutes, thirty three seconds, and twenty six milliseconds since Dumbledore’s death. Everything had changed. But yet, Lord Voldemort was still at large. The killings had stopped, somehow. Nobody had the slightest idea of why. Harry sat alone on the rusty chair in Hog’s Head, persistently kept drinking the seventh goblet of Fire Whisky (with some ice, actually). His head was spinning around. Harry had never been so hopeless in his entire life. His quest to destroy Voldemort’s Horcruxes had been a dead end. Literally. His two best friends, Ron and Hermione, had left him alone, with reasons Harry would never understand. Ron said that he would rather join the Weird Sister than helping Harry conquering Voldemort, which he did. Ron wasn’t even a “sister”. What had happened to him? And Hermione was a different case, too. He met Viktor Krum that day, who eagerly asked her to marry him as soon as he learned that Hermione’s dad leaving her with a large amount of gold, I mean, dollars. They got married right away, leaving both Harry and Ron in a mind-numbing shock. &lt;p align="justify"&gt;Harry felt so awful that he couldn’t resist it anymore. He needed to let it out. With the top of his lung, he sang, &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;My loneliness is killing me (And I..)&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;I must confess I still believe…&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;“Still believe…!!!” shouted the barman in front of him. Harry woke up. He sat again and looked at his goblet, avoiding the gaze from the barman who seemed to find Harry extremely interesting. &lt;p align="justify"&gt;If Harry was to journey alone, he didn’t mind. It’s his wish from the beginning. And he also knew that those two had given up their hope in finding the Horcruxes and Voldemort, so he wouldn’t blame them. But Harry wished to have more help from the other members of the Order, or ex-member for what it’s worth. Tonks, Arthur, Mad-Eye, and even Lupin had been as much help as Ron and Hermione. Harry remembered the countless times when he approached them, asking for hints about the Horcruxes, R.A.B, or the whereabouts of Snape or Voldemort. All they said was the same dull thing. &lt;p align="justify"&gt;“Find the Thing.” &lt;p align="justify"&gt;Find the Thing? Well… Thanks a lot. It was a VERY clear hint! Totally not vague at all! &lt;p align="justify"&gt;Harry took another sip from his goblet. Then a snakelike fire came out of his nostril, and a mysterious chemical gas came thru his butt. Harry fell into his hands, trying to sleep. He didn’t know what to do from there. It’s over. Voldemort had won. &lt;p align="justify"&gt;Out of nowhere, a man with a veil wrapped all over his head appeared from behind. He then sat next to Harry and ordered something to drink. Harry didn’t care who that man was, but yet he looked up and catch a glimpse of that man’s face. Merlin’s Beard! It’s Dumbledore! &lt;p align="justify"&gt;“Professor?” said Harry in a low voice. &lt;p align="justify"&gt;That man turned his head to face Harry. He had the old crooked nose and the half-moon spectacles on his face. It’s no wrong. He’s Dumbledore! &lt;p align="justify"&gt;“Ow.. Harry! Blimey Harry! I… I… what are you doing here?” Dumbledore seemed a little shy, his expression was as if he’d been caught doing something wrong. &lt;p align="justify"&gt;“What? What about you? I mean, shouldn’t you be like….dead?” replied Harry in such an astonishing voice. &lt;p align="justify"&gt;“Well.. that one was a fake. I mean, the death. Snapey did curse me with Avada, but I could block that spell easily, Harry. Don’t underestimate my intelligence.” &lt;p align="justify"&gt;“What? I don’t. I .. but....Snapey?” Harry cast a look that was… well.. indescribable. “But what about the body? On the ground?” &lt;p align="justify"&gt;“That was someone else’s corpse. I polijuiced it.” Said Dumbledore, grinning. &lt;p align="justify"&gt;“What?? And the locket?” asked Harry. “The fake locket I took from you? Was that a fake as well?” &lt;p align="justify"&gt;“What? Yeah. It was. This locket here.. is the real one.” Harry saw a locket that was hung around his neck as a necklace. “Turned out it wasn’t a horcrux after all. I found a note within it. This locket was concealed as a future gift from Lord Voldemort to someone he loved.” &lt;p align="justify"&gt;As Harry said nothing, stunned, Dumbledore went on, “Look, I found a love letter inside it.” &lt;p align="justify"&gt;Dumbledore opened the letter and read it out loud. &lt;p align="justify"&gt;“Dear my love. I know it’ll be long before I can convince you my true love. But I save this locket as a gift for you, so you can really understand how much you mean to me. I love you. Lord Voldemort.” &lt;p align="justify"&gt;Harry looked at Dumbledore with an opened mouth. But then he struggled to continue asking. &lt;p align="justify"&gt;“But what? Why did you have to die? Why didn’t you help me? I thought we’re in this together!” demanded Harry. &lt;p align="justify"&gt;“We were. But I’ve retired, Harry. I’m an old man. I can’t fight no more. It’ll be your job to finish him.” &lt;p align="justify"&gt;On this, Harry gave him a sad look. &lt;p align="justify"&gt;“I can’t, Professor! No one would help me. I don’t know what to do. Please, tell me what to do.” begged Harry hopelessly. &lt;p align="justify"&gt;“Harry, listen to me. I’m going to tell you the most dangerous secret of Lord Voldemort. This will help you to destroy Voldemort in the end.” &lt;p align="justify"&gt;“What? What?” asked Harry the most eagerly. This was what he had hoped for a long time. A helping hand from Albus Dumbledore. &lt;p align="justify"&gt;“You should find the thing, you know, the thing.” answered Dumbledore in a very serious tone. &lt;p align="justify"&gt;“WHAT THING?!” Harry began to lose it. &lt;p align="justify"&gt;“That thing, you know.. that thing…” insisted Dumbledore. &lt;p align="justify"&gt;“But I don’t know! What thing?!” cried Harry. He was even more hopeless than before. &lt;p align="justify"&gt;“If you don’t know, I can’t help you.” said Dumbledore flatly. &lt;p align="justify"&gt;“Well. Then I guess you can’t help me after all.” said Harry as he turned his back on Dumbledore. He started to walk out the door. “I give up. I don’t wanna do this anymore.” &lt;p align="justify"&gt;As Harry reached the door, he heard a lament came from nowhere. A Phoenix’s Lament. It was eerily played, and Harry thought that he caught a familiar music out of it. It’s like he knew, like someone was singing the lament inside him… &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;I can’t live…. if living is without you…&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;I can’t live…. I can’t live anymore….&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;I can’t live…. if living is without you…&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;I can’t give… I can’t give anymore…&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;Despite the strong Mariah Carey’s song, Harry went on. He left Hog’s Head. He left Dumbledore. He left everything.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;*** &lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;It was night. Harry stood alone in front of his parent’s tomb in Godric's Hollow. The graveyard’s empty. The wind was strong. It blew Harry’s beard which started to look like Osama bin Laden’s. &lt;p align="justify"&gt;“Hello Harry.” &lt;p align="justify"&gt;Harry turned around abruptly. Voldemort was standing alone in a black cape. His eyes were gleaming with pleasure Harry could never understand. &lt;p align="justify"&gt;“Voldemort.” said Harry calmly. “You must be careful. There are people out there hunting your horcruxes down.” said Harry sarcastically. &lt;p align="justify"&gt;“Horcruxes? Do you mean this?” and then he drew six objects from his pocket. There were a Barney’s doll, a green shirt, a Dragon Ball comic, a N 93i Nokia cell phone, and two copies of Don Brown’s Da Vinci Code. Harry looked at the two novels and confused. &lt;p align="justify"&gt;“Oh, that’s my favourite, you know…” said Voldemort after realizing what Harry was looking at. “I love Robert Langdon.” &lt;p align="justify"&gt;“What about the diary? The Gaunt Ring? The snake?” demanded Harry. &lt;p align="justify"&gt;“Oh, those were decoys.” said Voldemort grinningly. &lt;p align="justify"&gt;“Are you here to kill me?” asked Harry indifferently. &lt;p align="justify"&gt;“Kill you? Of course not.” said Voldemort in a shock. &lt;p align="justify"&gt;“What? Torture me?” &lt;p align="justify"&gt;“No.” &lt;p align="justify"&gt;“Kick me?” &lt;p align="justify"&gt;“Nope.” &lt;p align="justify"&gt;“Bite me?” said Harry terrifyingly. Now he’s scared. &lt;p align="justify"&gt;“I’m not going to do anything to you. I just wanna talk to you.” explained Voldemort. &lt;p align="justify"&gt;“Well, let’s talk.” Harry turned his back on him. &lt;p align="justify"&gt;“I.. I .. er I’m sorry I had to kill Lily Potter, Harry. I kinda had to. The prophecy stated so..” &lt;p align="justify"&gt;“I know what the prophecy said. So you can just finish your job.” interrupted Harry. &lt;p align="justify"&gt;“It’s not the prophecy. What you heard in Dumbledore’s office was a fake.” &lt;p align="justify"&gt;“What?” snapped Harry astounded. &lt;p align="justify"&gt;“Yeah… Er.. Trelawney actually said, &lt;em&gt;‘The Dark Lord shall mark him as his soulmate, but he will have power the Dark Lord knows not... and either must die at the hand of the other for neither can live while the other refuses...’&lt;/em&gt;” &lt;p align="justify"&gt;Harry was incredibly stunned. He never would have guessed what the real prophecy was. &lt;p align="justify"&gt;“Does this mean…” &lt;p align="justify"&gt;“Yes, Harry. You are my soul mate. I have been loving you for ages, watching you grow up. Today, the time has come. See?” He dropped down the six Horcruxes and destroyed them all in a flick of a wand. “I would give you my life. This is how much I love you.” &lt;p align="justify"&gt;And to Harry’s surprise, Voldemort began to sing. &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;First I was afraid, I was petrified…&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;I kept thinking I could never live without you by my side…&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;But then I spent so many nights…thinking how you did me wrong&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;I grew strongI learned how to carry on&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;Harry couldn’t help it. He couldn’t resist anymore. Instinctively, he followed. &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;So now you’re back…&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;From outer space…&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;I just walked in to find you herewith that sad look upon your face&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Weren’t you the one who tried to hurt me with goodbye&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Did you think I’d crumble?&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Did you think I’d lay down and die…?&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;And Voldemort replied Harry’s melodious tune. &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Oh no I…&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;I will survive…&lt;/em&gt; &lt;p align="justify"&gt;But then Voldemort stopped suddenly as he saw Harry’s face. Harry was laughing so loud. His finger was pointed at Voldemort, who stood still, enormously confused. &lt;p align="justify"&gt;“Oh man… Oh man.. I’m just messing with you man..!!” cried Harry, still laughing. &lt;p align="justify"&gt;Voldemort cast him a sad and disappointed look. &lt;p align="justify"&gt;“Why? I even prepared a gift for you, Harry.” &lt;p align="justify"&gt;Harry didn’t hear, for he couldn’t stop laughing. His tears were running down his cloak then. &lt;p align="justify"&gt;“I can’t be with you, man! Sorry &lt;em&gt;dude&lt;/em&gt;, but I love a woman. I love Ginny.” &lt;p align="justify"&gt;And so the words hit Voldemort strongly and painfully. He grabbed his left chest. His face reflected pain and sorrow. Voldemort collapsed. He shook uncontrollably and then he’s still. Who would’ve thought Voldemort die for a heart attack? &lt;p align="justify"&gt;Harry watched him still for a while. Poor Vol-Vol. The real prophecy was right, after all. Either must die at the hand of the other for neither can live while the other refuses. It was Harry who killed Voldemort. It was the thing. It was love. &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;THE END&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22545138-2496411770160465737?l=leavedstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://leavedstory.blogspot.com/feeds/2496411770160465737/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22545138&amp;postID=2496411770160465737' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/2496411770160465737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/2496411770160465737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://leavedstory.blogspot.com/2007/03/title-harry-potter-and-thing.html' title='Harry Potter and The Thing... You Know... The Thing'/><author><name>Soliloquist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10187976455571298101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_uoAFuqGlVvg/SXm21Yss2jI/AAAAAAAAAEE/BjlsPN2WaZs/S220/IMG_0162.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22545138.post-114579106545981245</id><published>2006-04-23T04:10:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T21:17:57.668-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Romance'/><title type='text'>Third Story : On The Sixth</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#33ff33;"&gt;On The Sixth&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#66ff99;"&gt;&lt;strong&gt;Pukul 06:06 p.m.&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#66ff99;"&gt;Suara itu begitu kerasnya sampai membuatku berpaling ketakutan. Aku segera melayang di atasnya, ingin melihat siapa kali ini yang bernasib buruk. Tapi panas sekali disana, aspal di depanku tampak berair dimataku, membuatku semakin gerah. Jalan ini biasanya bersih dan damai, tidak ribut. Tapi sekarang pecahan kaca tersebar dimana-mana, dan bahkan sebuah mobil sedan yang penyok dan terparkir ceroboh di trotoar tidak bisa mengalihkan pandanganku pada seorang gadis yang tergeletak diam di tengah jalan. Darah menetes di pelupuk matanya yang tertutup. Ah, dia rupanya yang bernasib buruk.&lt;br /&gt;Aku terbang menjauh. Aku benci karena aku bisa melihat segalanya. Dunia ini sudah terlalu kecil, bahkan untuk seekor lebah.&lt;br /&gt;Enam detik sebelumnya...&lt;br /&gt;Ada seorang gadis muda dua puluh tahunan berpakaian biru muda dan jeans gelap sedang bergegas menelusuri trotoar dengan semangatnya. Jika ada orang yang baru saja melihatnya, tidak sulit baginya untuk tahu kalau gadis itu sedang terburu-buru. Langkahnya yang cepat mungkin hanya bisa diimbangi oleh seruannya pada dirinya sendiri, atau lebih tepatnya, pada telepon genggamnya.&lt;br /&gt;“Ya ampun, honey, angkat donk teleponnya...”&lt;br /&gt;Namun hanya dengungan nada lemah yang terdengar membalas ke telinganya, sebelum akhirnya sebuah rekaman suara menyambutnya, “Hai, ini Jo. Tinggalkan pesan setelah beep dan aku akan meneleponmu kembali.”&lt;br /&gt;“Jo, erm.. dengar, aku sudah banyak berpikir. Aku benar-benar minta maaf karena sikapku tadi siang. Aku mau kamu tahu kalau aku akan menemanimu mulai dari sekarang, tak peduli apapun yang terjadi. Aku sedang dalam perjalanan kesana. Busnya sudah menunggu di seberang jalan ini. Jangan menyerah ya... dan Jo, aku sayang ka..”&lt;br /&gt;Sebuah sedan menabrak dengan suara keras yang hanya bisa ditutupi suara lengkingan rem mobil itu sendiri. Jalan yang sepi itu tidak lagi tampak indah. Aprille terlempar ke tengah jalan bahkan sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya terakhirnya.&lt;br /&gt;Enam menit sebelumnya...&lt;br /&gt;Gristle Park tidak pernah terasa begitu menyedihkan. Musim semi telah tiba, daun bermekaran dimana-mana, angin sejuk menggelitik telinga dan kicau burung bersenandung merdu. Tetap saja, Gristle Park tidak pernah terasa begitu menyedihkan.&lt;br /&gt;Aprille duduk termenung di bawah sebuah pohon tua. Tangannya menggenggam sebuah apel merah yang ranum. Ia tidak berniat sedikitpun untuk memakannya. Tapi ia memandangi apel itu dengan penuh ingin tahu. Lalu, tanpa peringatan apa-apa, dia melempar apel itu vertikal ke atas. Dia menangkapnya lalu melemparnya kembali.&lt;br /&gt;“Sif, apa yang kau lakukan?” Aprille berbalik dengan kaget. Apelnya jatuh menggelinding ke entah mana.&lt;br /&gt;“Sam.” Sahut Aprille mengenali lelaki yang tiba-tiba muncul itu. Entah kenapa dia merasa begitu kecewa melihat Sam. Tapi Aprille sengaja menyembunyikan kekecewaannya dan berkata, “Oh, aku hanya sedang mencari udara segar... dan berpikir.”&lt;br /&gt;Sam memandang Aprille dengan seksama. Sudah terlalu lama dia mengenal Aprille dan Jo sampai dia bisa tahu kalau ada sesuatu yang sedang mengganggu Aprille sekarang.&lt;br /&gt;“Sif, kau baik-baik saja?” Aprille melirik Sam dengan cepat, seakan Sam telah berbuat sesuatu yang salah. Tapi dia tidak akan bisa membohongi Sam, karena Sam lalu berkata, “Ini soal Jo, kan?”&lt;br /&gt;Aprille diam saja, tidak mengangguk, tidak menggeleng.&lt;br /&gt;“Dengar Sif, Aku sudah kenal Jo sejak dia kecil. Dia tidak pernah bahagia seumur hidupnya. Tapi waktu dia pindah ke kota ini dan bertemu denganmu, dia menjadi orang yang berbeda. Dia menjadi... bahagia.” Aprille memandang Sam seperti baru pertama kali dia bisa melihat dengan jelas. “Aku tahu dia mencintaimu, dia selalu mencintaimu. Dan apapun yang dikatakannya padamu yang mungkin melukaimu, aku yakin di dalam hatinya dia tidak bermaksud begitu, dan dia tidak pernah ragu akan cintamu.”&lt;br /&gt;Perkataan Sam sepertinya telah membuka suatu jendela masa lalu Aprille. Dia bisa melihat masa-masa indah yang dia dan Jo lewati bersama. Dan seperti disambar petir dia mendadak menyadari sesuatu yang sudah dia lupakan, sesuatu yang begitu sederhana.&lt;br /&gt;“Kamu benar Sam. Ya ampun Sam, mengapa aku bisa begitu bodoh? Apa yang kunantikan dengan duduk disini? Dari semua tempat yang bisa kukunjungi, aku datang ke taman ini dengan apel di tanganku... Tentu saja aku cinta padanya. Oh, tidak. Aku tak percaya aku meninggalkan dia di sana sekarang.. sendirian...”&lt;br /&gt;Dan Aprille Schiffer berlari meninggalkan Sam yang terbengong, meninggalkan keraguannya, dan berlari mengejar cintanya. Mendadak saja, Gristle Park tidak lagi terasa begitu menyedihkan, sesuatu yang seharusnya sudah sejak dulu dia sadari. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#66ff99;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#66ff99;"&gt;*** &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#66ff99;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#66ff99;"&gt;Dua puluh enam kilometer dari tempat itu, di kamar paling ujung dari rumah sakit paling megah di kota itu, berbaring seorang lelaki dua puluh tahunan yang sedang menatap sebuah cincin berlian di dekapan kedua tangan lemahnya. Pikirannya terlukis di permukaan batu itu, karena dia berani sumpah kalau dia bisa melihat wajah Aprille menjawab ya setiap kali dia berpikir akan rencananya melamar gadis itu malam ini.&lt;br /&gt;Jo menyimpan kembali cincin itu dalam sakunya. Ia juga sudah banyak berpikir. Ia mencintai Aprille dengan segenap hati, selalu dan selamanya. Dan dia juga tahu Aprille merasakan yang sama padanya. Oleh karenanya, Jo merasa begitu malu pada dirinya telah meragukan cinta Aprille.&lt;br /&gt;Kepalanya sakit. Jo tahu dia harus istirahat sekarang. Tadi dia kebanyakan berpikir. Dia hampir saja memaksa otaknya untuk menghancurkan diri sendiri. Tidur. Dia butuh tidur.&lt;br /&gt;Jo memeluk bantal warna biru kesukaan Aprille, yang setiap malam juga menemaninya untuk setia berada disamping Jo. &lt;em&gt;Ah, andai waktu lebih cepat berlalu, dan aku akan bisa segera bertemu lagi dengan Sif. Aku sudah rindu padanya.&lt;/em&gt; Jo berpikir dengan pelan. Dia masih merasa sakit yang menusuk di kepalanya. Tapi dia juga punya Aprille yang berkelebat dalam benaknya.&lt;br /&gt;Rasa sakit itu datang lagi. Jo tahu dia harus tetap berpegangan dengan Aprille. Jangan lepaskan tangannya.&lt;br /&gt;Rasa sakit itu datang lagi. Begitu hebatnya sampai rasanya kepala Jo sudah membara. &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#66ff99;"&gt;&lt;em&gt;Aku ingat Aprille. Waktu dia tersenyum. Waktu dia tertawa. Waktu dia bernyanyi.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Rasa sakit itu menyerang lagi. &lt;em&gt;Aprille. Aku ingat Aprille...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Enam hari sebelumnya...&lt;br /&gt;Ketika Aprille masuk ke kamar Jo, banyak hal yang menyerangnya sekaligus sehingga dia tidak bisa mencerna semuanya. Apakah itu bayangan beberapa hari lalu ketika Jo ambruk di hadapannya dan dibawa ke rumah sakit ini dalam keadaan yang mengkhawatirkan, atau apakah itu bayangan Dokter Phillip yang menyarankan operasi Cyrosurgery saat dia menyuarakan kecemasannya akan keadaan Jo, atau apakah itu hanya amukan kesedihan Aprille setiap kali ia harus melihat lelaki yang dicintainya berbaring lemah? Disela semuanya itu, Aprille langsung bisa melihat raut muka Jo di tempat tidur. Jo menoleh padanya.&lt;br /&gt;“Hai..” sahut Aprille riang, namun segera diakhiri dengan nada penuh kebingungan. “Apa yang terjadi? Mereka bilang tidak akan mengeluarkan kamu dari ruang operasi paling tidak tiga jam lagi? Kamu baik-baik saja?”&lt;br /&gt;Jo tidak menjawab Aprille. Dia menoleh ke arah jendela, dimana terpampang kesibukan kota yang sudah beberapa hari ini ditinggalkannya.&lt;br /&gt;“Jo?” Ulang Aprille, kian mendesak. Aprille mendeteksi sesuatu di ekspresi Jo yang dia tahu Jo tidak bisa mengeluarkannya. Atau tidak tega.&lt;br /&gt;“Mereka memberiku tujuh hari. Sif, tujuh hari.” Seperti ada yang merogoh jantung Aprille dan menghentakkannya kasar kebawah, Aprille tidak bisa berkata apa-apa. Dia bergegas mendekati Jo dan memeluknya. Tidak dia sadar air matanya mengalir jatuh ke bantal kesukaannya.&lt;br /&gt;“Oh, tidak.”&lt;br /&gt;“Dokter Phillip bilang operasi pendinginan itu tidak berhasil. Mereka hanya bisa menangkat sebagian.”&lt;br /&gt;“Jo, jangan berkata lagi.” Sahut Aprille pilu. “Kamu akan bisa melewati ini. Kita akan.. kamu pasti akan sembuh.”&lt;br /&gt;“Tidak, Sif. Sudah lama ini kuketahui. Dan kini saatnya sudah tiba. Tolong jangan menangis. Aku tak mau kamu menangis. Kamu lebih cantik kalo sedang ketawa.” Tapi Aprille tidak punya sedikit keinginan pun untuk tertawa. Dia tidak tahu harus berkata apa. Maka dia hanya diam dan mendekap Jo seerat mungkin, seakan yakin kalau begitu Jo tidak akan meninggalkannya.&lt;br /&gt;Aprille merasakan tangan Jo membelainya beberapa waktu kemudian.&lt;br /&gt;“Sif, aku sudah banyak berpikir. Kurasa kamu lebih baik tidak disini. Aku.. Aku tak mau melihatmu menyia-nyiakan waktumu bersamaku, kamu masih punya hidup di luar sana. Aku rasa...”&lt;br /&gt;Aprille tidak percaya apa yang baru saja didengarnya, “Apa maksudmu? Mana bisa aku meninggalkan kamu?”&lt;br /&gt;“Itulah maksudku, dan kamu bisa, Sif. Aku tidak mau kamu seharian disini dan meninggalkan perkerjaanmu. Aku tak mau kamu tidak tidur dan sakit karena harus merawatku. Aku tak mau kamu tidak bisa menikmati kehidupan karena harus bersamaku.”&lt;br /&gt;“Aku tidak ‘harus’ bersamamu. Jo... aku memang mau bersamamu. Bagaimana mungkin kamu bisa bilang begitu?” umpat Aprille, yang benar-benar terkejut. “Jo, ini benar-benar konyol, hanya karena seorang dokter bodoh meramalkan hidupmu tinggal tujuh hari, bukan berarti aku akan meninggalkanmu...”&lt;br /&gt;“Justru itu. Semuanya telah berubah. Aku tidak akan ada lagi untukmu. Minggu depan, aku mungkin sudah mati! Dan aku tak mau kamu ada disana.. kamu seharusnya bahagia...” Aprille menggeleng tak percaya apa yang didengarnya, tapi dia tidak pernah melihat wajah Jo yang begitu sedih dan marah seperti itu. “Kupikir jika operasi ini berhasil, aku akan... padahal aku sudah merencanakannya.. tapi semuanya tidak berarti lagi.. tolonglah, Sif.. pergilah.”&lt;br /&gt;“Tapi aku sayang padamu, Jo... dan kamu juga begitu...”&lt;br /&gt;“Bukankah itu yang membuat semua ini menjadi lebih sulit?”&lt;br /&gt;Jo berpaling. Ia bisa mendengar isak Aprille yang semakin lama semakin menjauh. Aprille sudah pergi. Selesai sudah semuanya. Jo meraih sakunya dan mengeluarkan sebuah cincin berlapis berlian. Ia menatap cincin itu lama sekali sebelum akhirnya dia menutup matanya yang basah.&lt;br /&gt;Enam bulan sebelumnya...&lt;br /&gt;“Jo, apa kamu sudah baca buku yang kupinjamkan itu?”&lt;br /&gt;Waktu itu sedang awal musim dingin. Semua orang lebih suka berdiam di rumah mereka dan nonton TV, tapi Jo dan Aprille sudah berjanji tidak boleh berdiam di rumah sekalipun badai salju menerjang. Mereka harus pergi ke Gristle Park, berdua merayakan Anniversary hubungan mereka yang keenam, dimana mereka bertemu untuk pertama kalinya.&lt;br /&gt;“Oh, sudah. Tentang apa sih itu? Tiga bab pertama pikiranku selalu bilang ‘Ini kan &lt;em&gt;The Hobbit’&lt;/em&gt;, dan dua bab selanjutnya kepalaku bilang ‘Bukan, ini sih bukunya &lt;em&gt;Robert Ludlum’&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;“Haha, siapa yang sangka kamu tidak mengerti judul bukunya waktu kamu baca ‘&lt;em&gt;Men are from Mars, Women are from Venus’&lt;/em&gt;.” Sela Aprille santai, mendorong Jo yang sejak tadi tersenyum-senyum. “Hey, tidak sangka yah kita sudah bertahan enam tahun?”&lt;br /&gt;“Iya, kamu sudah jadi tua tuh.” Gurau Jo.&lt;br /&gt;“Hah? Beraninya kamu taruh jinx di anniversary kita...”&lt;br /&gt;“Tenang aja deh, Sif. Hari ini tidak akan kita lupakan.. kecuali kalau kita mati kedinginan.”&lt;br /&gt;Aprille tertawa.&lt;br /&gt;“Kepalamu masih sakit?” tanyanya tiba-tiba, dengan muka cemas seperti biasanya.&lt;br /&gt;“Oh, tidak lagi. Thanx. Kurasa itu hanya migrain.” Jawab Jo. Lalu dia menggenggam tangan Aprille dan menuntunnya sampai dibawah sebuah pohon oak tua. “Aku mau bilang sesuatu sama kamu, Sif.”&lt;br /&gt;Baru saja Aprille menerbitkan wajah serius-hendak-mendengar-nya, telepon genggam Jo berdering keras, bunyinya lebih menembus tulang dari pada dinginnya udara.&lt;br /&gt;“Oh, Dr Phillip. Mungkin dia mau kasih aspirin.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#66ff99;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#66ff99;"&gt;*** &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#66ff99;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#66ff99;"&gt;“Hei, jadi apa kata Dr. Phillip?” tanya Aprille beberapa jam kemudian. Mereka sudah kembali di rumah Jo. Jo baru saja menemui Dr. Philip, yang ternyata ingin bertemu langsung dengan Jo.&lt;br /&gt;“Katanya hasil pemeriksaannya sudah keluar.” Seru Jo lemah. “Dan tampaknya tidak bagus.” Jo memandang Aprille dengan penuh arti.&lt;br /&gt;“Apa maksudmu?” Aprille melirik Jo dengan hati-hati, mencoba memecahkan teka-teki yang terhampar di wajah Jo.&lt;br /&gt;“Katanya... katanya.. aku punya peliharaan tumor di otakku. Terus tumbuh.” Aprille mendekap mulutnya, shok.&lt;br /&gt;“Ini gila. Kamu tidak percaya dia kan? Maksudku.. ayo kita cari pendapat kedua. Apa yang dia sarankan?”&lt;br /&gt;“Menurut dia, kalau ini tumor yang ganas, aku mungkin tidak punya kesempatan. Dan kalau ini sesuatu yang ganas, maka aku hanya punya hitungan bulan... bukan tahun.”&lt;br /&gt;Mereka berpandangan, lama sekali.&lt;br /&gt;“Maaf aku sudah merusak Anniversary kita.” Kata Jo akhirnya.&lt;br /&gt;“Tidak kok. Ngomong-ngomong apa sih yang mau kamu bilang tadi di taman?” tanya Aprille hati-hati.&lt;br /&gt;“Oh, itu tidak penting lagi..” Jo tampak berpikir, tapi Aprille segera bertindak.&lt;br /&gt;“Jo, aku cinta padamu.” Lalu dia tersenyum manis sekali.&lt;br /&gt;“Aku juga, Sif.”&lt;br /&gt;Enam tahun sebelumnya...&lt;br /&gt;Aprille Schiffer paling suka belajar fisika sendirian di sebuah taman di dekat rumahnya. Dia tidak pernah mengundang teman-temannya kesana, karena dia suka kesendirian. Gristle Park menjadi semacam Fortress of Solitude miliknya. Disana, dia bebas melamunkan apa saja yang dia suka. Kadang, dia suka berpikir kalau dia bisa mendapat ide brillian macam si Newton sehingga suatu saat dia bisa menciptakan suatu rumus yang menggemparkan dunia.&lt;br /&gt;Aprille Schiffer juga dikenal sebagai kutu buku di kelasnya, penggemar pelajaran Fisika yang digosipkan lebih menyukai fisika daripada cowok. Padahal dia sudah berumur 17 tahun. Sebenarnya, Aprille tidaklah demikian. Hanya saja, dia memang suka dengan fisika, dan itu selalu memberinya kesan kutu buku yang dalam.&lt;br /&gt;Hari ini dia melempar-lemparkan apel dibawah sebuah pohon oak yang tua, mencoba memahami gravitasi seperti si Newton. Sialnya, dia ternyata bukan satu-satunya orang di taman itu. Seorang cowok sejak tadi meliriknya, ingin tahu apa yang sedang dia lakukan. Sampai suatu saat, ketika cowok itu tidak tahan lagi, dia menyapa gadis itu..&lt;br /&gt;“Kamu ngapain sih lempar-lempar apel ke pohon?”&lt;br /&gt;Aprille terlonjak kaget karena tidak menyadari dia sedang diawasi. Ia menoleh dan matanya memandang seorang lelaki jangkung yang berwajah seperti seekor singa.&lt;br /&gt;“Hah?” seru Aprille. Apelnya terlempar keras dan memantul mengenai kepalanya sendiri.&lt;br /&gt;“Kamu mesti hati-hati sebelum mati karena sakit kepala.” Guraunya tajam.&lt;br /&gt;“Siapa kamu?” Balas Aprille sedikit kesal.&lt;br /&gt;“Mengapa kamu selalu duduk di bawah pohon ini?” tanya balik si lelaki itu.&lt;br /&gt;“Hey, jawab dulu donk.” Umpat Aprille, “Aku memang selalu kesini, kok. Kamu siapa? Aku tidak pernah lihat kamu sebelumnya.”&lt;br /&gt;“Oh, Aku baru di kota ini. Rumahku dekat taman ini, dan aku suka suasana damai disini. Kalau besok aku kesini, apakah kamu datang lagi?” tanya lelaki itu dengan cepat.&lt;br /&gt;“Mungkin. Emank kenapa?” balas Aprille masih cuek.&lt;br /&gt;“Aku belum punya teman disini, apakah kamu mau jadi temanku?” tanya cowok itu tanpa basa basi.&lt;br /&gt;“Kenapa kamu mau berteman denganku?”&lt;br /&gt;“Karena kamu punya apel.” Katanya dengan polos.&lt;br /&gt;Keduanya tertawa bersamaan. Aprille melihat cowok itu duduk di rumput di dekatnya. Ekspresinya begitu tenang.&lt;br /&gt;“Kenapa kamu belum juga memberitahu namamu?” tanya Aprille heran. Dia tidak pernah melihat seorang cowok yang begitu aneh.&lt;br /&gt;“Oh, aku lupa. Maaf. Kamu bisa panggil aku Jo.” Lalu cowok itu mengulurkan tangannya dan menyalami Aprille.&lt;br /&gt;“Aku Sif.” Sahut Aprille.&lt;br /&gt;“Nama macam apa Sif itu?” umpat cowok itu menyebalkan.&lt;br /&gt;“Nama macam apa Jo itu?” balas Aprille tersenyum, dan dia juga bisa melihat senyum terlukis dengan lembut di wajah cowok itu.&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kita ulangi lagi?”&lt;br /&gt;Lalu cowok itu mengulurkan tangannya dan menyalami Aprille.&lt;br /&gt;“Hi, Namaku Jonathan Fayes. Tidak ada yang panggil aku Jo.”&lt;br /&gt;“Hi juga, aku Aprille Schiffer. Tidak ada yang panggil aku Sif.”&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;——o0OÔO0o—— &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ffff;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;All Characters described are merely fiction.&lt;br /&gt;Aprille Schiffer© and Jonathan Fayes© created by Bam, 2006&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#33ffff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;strong&gt;Komentar Penulis :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ini mungkin adalah cerpen paling sulit yang pernah kutulis. Aku sudah berencana menyusun sebuah karya tentang cinta yang begitu pahit sejak beberapa minggu silam. Ide-ide untuk cerita ini berdatangan secara terpisah, namun pantas untuk ditunggu. Aku menyelesaikan cerpen ini dalam waktu 4 jam, dan menyempurnakannya selama 2 jam kemudian. Keunikan cerpen ini terletak pada kronologik ceritanya, bagaimana waktu bisa menipu. Hidup berubah, dan cinta bukanlah sebuah pawai kemenangan.&lt;br /&gt;Aku ingat saat-saat ketika aku mencari nama yang cocok untuk si lelaki -Jo. Aku berpikir lama sekali sebelum akhirnya mendapatkan nama yang paling cocok untuk karakter tersebut. Juga, karakter Sam awalnya bersifat antagonis, namun ceritanya akan terlalu panjang jika aku harus memasukkan satu tokoh penting lainnya kedalam cerita ini. Sama untuk kisah ini, sungguh aneh bagaimana suatu hal bisa berubah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;strong&gt;Bam.&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;strong&gt;Trivia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Sif adalah kependekan dari Schiffer.&lt;br /&gt;- Kata Gristle berarti tulang rawan.&lt;br /&gt;- Cyrosurgery adalah metode pembedahan tumor di hati dengan nitrogen cair pada suhu -200oC dimana pada suhu itu sel-sel tumor menjadi mati.&lt;br /&gt;- Setting dan latar kisah ini adalah NewYork bulan April 2011 pada awal cerita, yang membawa Sif kembali ke November 2004 pada akhir cerita.&lt;br /&gt;- Narator pada bagian prolog kisah ini adalah seekor lebah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22545138-114579106545981245?l=leavedstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://leavedstory.blogspot.com/feeds/114579106545981245/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22545138&amp;postID=114579106545981245' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/114579106545981245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/114579106545981245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://leavedstory.blogspot.com/2006/04/third-story-on-sixth.html' title='Third Story : On The Sixth'/><author><name>Soliloquist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10187976455571298101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_uoAFuqGlVvg/SXm21Yss2jI/AAAAAAAAAEE/BjlsPN2WaZs/S220/IMG_0162.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22545138.post-114068865925251632</id><published>2006-02-17T02:41:00.000-08:00</published><updated>2007-04-11T21:17:57.668-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Romance'/><title type='text'>▫▪▫ Story 0 ▪▫▪</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;color:#ffff00;"&gt;This is a story before the others.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#99ffff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#99ffff;"&gt;&lt;strong&gt;Story 0&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#99ffff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#99ffff;"&gt;&lt;strong&gt;An Unfamiliar Glow&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh pagi yang indah. Hari yang indah. Semua yang eksis di dunia tampaknya sedang merayakannya. Kicauan burung, udara sejuk yang meniup telinga, sampai barisan semut yang menari penuh semangat. Aku sangat tidak ingin merusak hari ini, namun kepulanganku ke kota ini hanyalah sebuah kunjungan, dan harus berakhir. Aku pun benci mengakhiri kunjungan ini, tempat dimana masa laluku bisa menyentuhku lagi, walau aku tahu aku tidak mempunyai kenangan yang benar-benar istimewa, aku selalu berpikiran sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, di hari yang biasa ini, aku bertolak ke pelabuhan, pintu keluar kota ini. Jevy yang mengantarku ke sana, karena aku tidak mempunyai seorang kakak, ayah, ataupun seorang ibu. Jevy tinggal di sebelah. Rumahnya besar dan megah, tapi dia tidak pernah sombong. Ia malah yang menawarkan jaguarnya untuk mengantarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jevy menaruh koperku di bagasi dan mempersilakan aku masuk. Jaguar sungguh mobil yang bagus, walaupun aku tidak begitu suka dengan ide kendaraan yang membuang gas pollutan. Pemanasan global di bumi ini sudah cukup parah.&lt;br /&gt;“Bagaimana liburanmu, Hailie?” tanyanya waktu kami mulai memasuki jalan tol.&lt;br /&gt;“Lumayan,” kataku “Menyenangkan bisa melihat kembali kehidupan kita yang lalu.” Aku memandang santai pemandangan ramai yang terus berkelebat dari kaca jendela.&lt;br /&gt;“Aku akan mengambil jalan di kiri, lebih sepi dan jarang digunakan. Kita tak mau terjebak macet.” Kata Jevi. Aku mengangguk setuju, tidak memandang Jevy yang sedang sibuk berkendara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masuk ke jalan lebar yang lebih sepi. Tidak ada mobil lain yang tampak, dan ini bukan lagi jalan layang. Jevi mempercepat laju mobilnya. Aku hanya menangkap gambar pohon-pohon sekilas sebelum mereka bergerak mundur melewatiku. Kemudian sesuatu terjadi dengan cepat sekali, membuatku menoleh terkejut ke arah Jevi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sebelum aku sadar apa yang terjadi, terdengar suara rem keras dan sesuatu menabrak mobil kami di sayap kanan belakang. Jevi berseru marah dan memutar stir untuk mengendalikan mobilnya yang sudah mulai oleng. Tapi bukannya membaik, mendadak aku merasa sesuatu yang berat memukul kami dari belakang. Jaguar Jevi terbalik. Sesuatu meledak dan suara letupan keras memenuhi kepalaku. Selama kira-kira sedetik, mobil kami terseret dalam keadaan terbalik. Api menyembur dan membakar kakiku yang tak bisa digerakkan. Panas dan sakit menguasaiku. Lalu terdengar ledakan lagi, dan kali ini lebih keras. Aku merasa seperti terlempar dengan keras. Tubuhku menyentuh sesuatu yang panas dan kasar. Kaki dan kepalaku sakit bukan kepalang, namun semuanya menjadi gelap dan hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar suara-suara teriakan, suara kasar seorang lelaki. Lalu tubuhku bagai ditarik oleh sesuatu. Ketika aku membuka mata, pemandangan didepanku mengerikan sekali. Sekitar empat meter dari tempatku berbaring, dua mobil sedang diselimuti api, keadaannya gosong, terbalik, terpecah-pecah sampai rasanya tak bisa dikenali lagi. Tapi aku bisa melihat Jaguar Jevi yang sedang dilalap api. Isi kepalaku tiba-tiba terasa hilang. Aku melihat sekeliling untuk mencari Jevi, tapi tak ada orang yang aku kenal. Beberapa lelaki empat puluh tahunan keluar dari mobil mereka dan sedang terlihat sibuk bertelepon di ponsel mereka. Seorang lelaki gelap yang pakaiannya gosong berlari ke arahku.&lt;br /&gt;“Nona, kau bisa jalan?” tanyanya sambil berjongkok memeriksa keadaanku.&lt;br /&gt;Lalu aku sadar kesakitan yang melanda tubuhku. Aku tak bisa merasakan kakiku, tangan dan lenganku berdarah-darah dan perutku rasanya seakan disodok keras-keras dengan pemukul gong. Aku menggeleng. Lelaki itu mencoba mengangkat tubuhku, tapi aku meringis kesakitan. Dengan tanganku yang kebas, aku bisa merasakan luka yang cukup parah di dahiku. Aku tak bisa berkata apa-apa. Lelaki itu mengangkatku, berjalan sambil berteriak pada sekitarnya “Dimana ambulansnya!?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam kemudian. Aku sampai di rumah sakit. Banyak orang berpakaian biru atau putih mendorongku yang sedang berbaring lemas di atas tandu berjalan.&lt;br /&gt;“Yang lainnya tidak ditemukan. Gubernur dan anaknya juga.” Terdengar suara lelaki tadi. “Dia satu-satunya yang selamat.”&lt;br /&gt;“Langsung bawa ke unit gawat darurat.” Perintah seorang wanita.&lt;br /&gt;Aku merasa bergerak ke ruang ICU. Setelah banyak mendengar suara yang samar-samar di ambulans, kepalaku akhirnya berhasil menyimpulkan beberapa hal. Mobil yang tadi menabrak kami adalah mobil pemerintah yang hilang kendali. Begitu menabrak, sesuatu dari mobil itu meledak dan membalikkan jaguar Jevi. Lalu mobil itu meledak sekali lagi, dan membuat mobil kami terlempar keras dan ikut dilalap api. Pada saat itulah aku mungkin terlempar keluar mobil. Jevi dan yang lainnya tampaknya tak ada yang selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa semakin lemah, rupanya aku sudah dibius. Pandanganku semakin kabur. Aku tak bisa melihat orang-orang yang berlalu lalang di depanku, pikiranku tidak bisa merambat lagi, merasa hari biasa tadi tidaklah begitu biasa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hari kemudian. Aku dipindahkan ke ruang High Dependency Unit, begitu aku selesai dioperasi. Disini, kerabat-kerabatku mulai datang berkunjung. Aunt May datang setiap hari. Ia hanya meninggalkanku sewaktu malam, karena waktu besuk sudah berakhir setiap pukul sepuluh. Aunt May bersyukur sekali aku selamat. Dia terus-terus menangis dan berterima kasih. Dia bilang dia tidak bisa bayangkan kehilangan diriku, padahal usiaku belum sampai muka dua. Dia sudah lebih tenang sewaktu aku bilang dia sudah seperti ibu bagiku. Dan bagiku, dia adalah ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Aunt May banyak bercerita. Dia sangat sedih waktu memaksakan dirinya memberitahuku Jevi sudah meninggal. Aku lumayan terkejut, walaupun sudah menduga demikian. Jevi orang yang baik. Tuhan memang kadang punya rencana yang lain. Tapi Aunt May bilang aku sekarang terkenal, karena selain Jevi, yang meninggal dalam kejadian kemarin adalah Gubernur kota tetangga kami beserta anaknya. Karena aku satu-satunya yang selamat, banyak wartawan datang untuk meliput cerita ini, berusaha mendapatkan fotoku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berlalu dengan lambat dan menyakitkan. Berbagai kejadian bertubi-tubi terjadi di sekitarku, tapi tak ada yang penting dan membuatku terkejut, setidaknya sampai malam harinya. Aku baru saja dibius, dan kondisiku lemah. Aku mendengar ada seseorang yang mau menjengukku. Seorang teman. Aku tak bisa memikirkan siapa, semua sahabatku sekarang sudah sedang ada di luar negeri. Ketika dia memasuki kamarku, aku mengenali gaya bicaranya yang malu-malu. Pete. Dia laki-laki yang aku kenal beberapa tahun yang lalu, sewaktu aku masih sekolah disini. Orangnya sangat penutup dan pemalu. Jangkung. Murah senyum, baik dan ramah. Aku jarang bergaul dengan dia, tapi kami berteman baik. Sewaktu lulus, kami tidak pernah berhubungan lagi. Terakhir aku dengar, dia sedang keluar kota. Aku tak bisa membayangkan Pete datang menjengukku. Dia seperti suatu bagian kecil masa laluku. Tapi disitulah dia, Pete berdiri di depan pintu masuk kamarku. Berbicara gugup dengan Aunt May. Aku mencoba menangkap pandangannya. Mukanya kelihatan pucat, dan dia lebih kurus dari terakhir aku melihatnya. Waktu dia memandangku, dia tersenyum seakan bermaksud menenangkanku. Beberapa menit kemudian, dia melambai padaku malu-malu, dan segera pergi tanpa sepatah katapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu malam kemudian. Keadaanku semakin membaik. Popularitasku semakin gencar mengejarku, sama sekali tidak kusangka sebelumnya. Beberapa teman sekolahku datang menjengukku. Beberapa darinya bahkan tidak kukenal. Tapi aku lumayan senang mereka datang, dan lumayan malu mereka melihatku saat keadaanku seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tengah hari ketiga aku di kamar ini, Pete datang lagi. Kali ini wajahnya lebih rileks dan tidak sepucat sebelumnya. Aku merasa kecewa dengan kunjungan terakhir Pete yang begitu singkat, jadi waktu aku melihat wajahnya sekali lagi, aku merasa bahagia. Suatu perasaan yang asing mendadak saja memenuhi diriku. Aku tak pernah mendapat hal yang seperti ini. Pete duduk, menanyakan bagaimana keadaanku. Tampaknya ia ingin meminta maaf untuk kunjungannya yang terakhir. Tapi dia bertingkah seperti tidak bisa berbicara. Itulah ciri khas Pete. Kalau sudah sampai soal perasaan, dia bisa menjadi yang paling jago, sekaligus yang paling bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk pelan, tersenyum. Aku tahu apa yang mau ia katakan. Tiba-tiba saja aku rasanya bisa memahami dia. Waktu pertama Pete mendengar kabarku, mungkin dia shock. Dia selalu baik padaku. Tentu dia tidak mau menggangguku pada malam pertama aku disini, lagi pula aku sedang dibius. Aku tak cukup kuat untuk berbicara. Tapi sekarang sudah lain, kami berbincang-bincang seakan sekarang adalah acara reuni yang terundur. Aku menceritakan lagi kecelakaannya pada Pete. Kami tertawa. Kami mengingat kembali masa terakhir kami bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat berterimakasih karena Pete sudah datang. Beberapa hari yang lalu, aku bahkan tidak ingat lagi dengan orang ini. Sekarang aku senang dia ada bersamaku. Banyak kenangan lama kembali lagi padaku. Membuatku sadar kalau sesuatu yang kecil terjadi di masalalu, kadang tidak selamanya terlupakan. Kenangan yang biasa saja di masalalu, kadang menjadi yang terindah buat kita. Aku masih ingat kalau dulu, aku pernah merasa Pete suka padaku. Aku begitu cuek dan tidak peduli. Satu hal kecil.&lt;br /&gt;Satu hal kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kalang kabut. Perasaanku tak terkendali. Kepalaku penuh istilah-istilah latin yang tidak aku mengerti. Udara disini pengap sekali, seperti biasa kalau lima puluh orang lebih dikumpulkan dalam satu ruangan yang AC-nya rusak. Susah sekali untuk konsentrasi. Padahal tinggal setengah jam lagi ujian Biologi akan dimulai. Entah apa yang kulakukan semalam sampai tidak sempat menghafal semua catatan ini. Tiga bab. Ilmu taksonomi, cara perkembangbiakan kelajengking, struktur anatomi jantung Pisces, dan sistem organ pada manusia yang terdiri dari sistem pencernaan, sistem ekskresi, sistem respirasi, sistem gerak dan sistem transportasi darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pastilah tampak kacau sekali. Temanku Elisha yang duduk tepat disampingku sudah pindah kira-kira setengah jam yang lalu. Ia sudah sadar keadaanku yang berbahaya. Ia tentu juga sadar kemarahanku yang sudah menggelegak dipermukaan bisa tersembur ke siapa saja yang cukup tolol untuk bernafas terlalu keras di dekatku, atau tertawa mendengar lelucon orang lain. Banteng yang terluka ini tampaknya sudah jelas bagi seisi kelas. Tulisan ‘Jangan ganggu aku’ bagai tercoret begitu saja di jidatku, membuat semua orang yang sudah percaya akan lulus Biologi, buru-buru menyingkir sebelum aku meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang membaca ulang baris ketiga defenisi dari tekanan osmosis dan sedang sebal tak mengerti juga mengapa aku tidak bisa menyerap kalimat itu kedalam otakku, ketika seorang lelaki kurus berambut hitam terbelah ke samping datang dan duduk disampingku. Aku menoleh tak percaya padanya. Siapa pula yang belum membaca ancamanku, atau terlalu tolol untuk mengerti. Ternyata Pete. Dengan muka cerah seakan tak ada hal lain yang lebih dicintainya daripada duduk di sampingku, dia berpaling padaku.&lt;br /&gt;“Sudah bisa belum?” tanyanya riang.&lt;br /&gt;Selama kira-kira sedetik, aku berniat menimpuk kepalanya yang bodoh itu dengan buku biologiku, tapi aku tidak bisa melakukannya. Malah, tanpa mengerti apa yang kulakukan, aku menatapnya dan tersenyum lalu berkata,&lt;br /&gt;“Oh, belum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pete tersenyum sekilas padaku, lalu meraih catatan yang tadi sekuat tenaga kuremas, seakan berharap isinya melayang masuk ke kepalaku. Aku tidak melakukan apa-apa selain membiarkannya. Aku tak tahu mengapa aku melakukan itu. Pete selalu dan selamanya adalah seorang cowok kurus yang sekelas denganku, tiada lebih. Dia tidak pernah membuatku marah, dan anehnya, tidak bisa. Aku tidak merasa punya rasa suka pada lelaki ini. Walaupun banyak orang yang bilang kalau Pete diam-diam naksir padaku. Aku tetap tak peduli. Bagiku, Pete hanyalah seorang teman. Dan aku tidak mengharap lebih. Tapi rupanya Pete tidak berpikir demikian. Karena dia kemudian membantuku untuk menghafal. Banyak hal yang tidak kuketahui dia terangkan kurang dari setengah jam. Dan walaupun pada awalnya aku sebal dengan interupsinya, aku menjadi lebih tenang karena ada baiknya Pete duduk di sampingku. Aku merasa paling tidak ujian Biologi kali ini aku akan lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ujian berlangsung, aku dilanda stress, dan kalau itu mungkin, stroke. Aku tak bisa menjawab kira-kira empat per lima dari semua soalnya. Sungguh satu setengah jam yang menyedihkan. Pada belasan menit terakhir, aku sudah pasrah. Sebagian dari diriku tak mengerti mengapa aku tidak bisa menjawab soal-soal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku melihat Pete, berdiri di luar kelas menungguku. Kaget, aku hampir saja merobek lembar jawabanku. Untuk apa pula dia berdiri disana? Aku tak bisa berpikir lebih jauh lagi. Pete memandang ke dalam mataku dari kejauhan dan tersenyum, lalu dia mengacungkan kedua jempolnya. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dilakukannya. Apakah dia mengharapkan aku bisa menjawab semua pertanyaan ini setelah dia membantuku tadi? Kalau iya, dia salah besar. Ataukah dia cuma ingin mengolokku, tahu kalau aku pasti gagal di ujian kali ini... Berbagai pikiran menyelimutiku. Pada akhirnya, aku mengisi acak jawaban untuk soal-soal yang tersisa, lalu bergegas keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pete langsung menyambutku. Aku rasanya sudah ingin memarahinya. Ingin melampiaskan segala kekesalan hari ini pada mukanya yang ceria dan malu-malu.&lt;br /&gt;“Bagaimana, Hailie?” tanyanya riang, seperti biasa. Sekali lagi, aku mendadak tak ingat rencanaku untuk memukulnya. Aku hanya menjawab lesu, berharap dia pergi dariku secepat mungkin.&lt;br /&gt;“Gak bagus.” Aku menggeleng lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sesuatu yang aneh terjadi, aku ingat aku sedang berjalan di sampingnya, bergerak menjauh dari kelasku. Pete mengikutiku. Dan rasanya semua beban yang tadi memenuhi kepalaku mendadak hilang. Aku menatapnya heran, seolah yakin Pete punya penjelasannya. Tapi dia hanya memandangku dan tersenyum, lalu berbicara soal cuaca. Pada saat itu, aku tiba-tiba tidak ingin berpikir lagi. Aku lalu berjalan pulang bersama Pete, bicara soal hal-hal yang lain yang tak penting. Tersenyum, aku tak bisa melupakan perasaan ringan ini. Bersama Pete, yang selalu dan selamanya adalah seorang cowok kurus yang sekelas denganku, tiada lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu minggu kemudian. Aku sudah operasi untuk yang kedua kalinya, yang membuatku terbangun malam-malam hari berikutnya sambil mengerang kesakitan. Aku sadar bagian yang tersulit belum lewat. Orang-orang yang menjengukku tidak bertambah sedikit, namun wajah Pete tak terlihat lagi dari mataku yang tersiram air mata kesakitan, membuatku sedikit merasa terlupakan. Aneh, aku tak tahu mengapa aku merasa begitu. Tapi aku lalu berpikir-pikir sendiri di kamar itu sewaktu aku menghabiskan hariku yang panjang. Mungkin tidak adil bagiku untuk mengharapkan Pete datang mengunjungiku lagi. Dia ’kan punya hidup. Dan dia juga tidak begitu akrab denganku dulu, waktu di sekolah, ataupun sesudahnya. Aku merasa sedikit muak pada diriku yang egois ini. Walaupun begitu, aku tak bisa tidak mengaku kalau sebagian kecil dari diriku mengharap bisa bertemu Pete lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan siangku semakin lama semakin bervariasi, namun apapun yang masuk ke mulutku tampaknya berubah hambar. Sore ini rasa sakit kakiku tak terbayangkan. Ingin rasanya aku berteriak dan menangis keras-keras. Ingin rasanya aku membagi kesakitan ini dengan orang lain, supaya mereka setidaknya mengerti apa yang kurasakan. Tapi aku tak bisa apa-apa, hanya bertahan tanpa tahu sudah berapa lama aku berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ketika Em, sohib baikku pulang, aku melihat wajah Pete bergerak mendekat menuju tempat tidurku. Dia tersenyum dan menyapaku. Aku tak bisa berkata apa-apa, dan tanpa senyum, aku memandang matanya lama sekali. Tampaknya dia sedikit salah tingkah karena kulihat terus, karena dia buru-buru memalingkan mukanya sebentar sebelum mengobrol denganku. Seperti setiap kali teman baikku menjengukku, rasa sakit yang kurasakan semakin berkurang. Emosi tak terjelaskan menjalari tubuhku. Seberkas cahaya asing yang tak tampak sebelumnya, sekarang begitu pekat. Menyiramiku dengan kehangatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat senang hari itu. Ketika semua temanku akhirnya pamit pulang, Pete kembali sekali lagi dan meninggalkan sepucuk amplop di hadapanku.&lt;br /&gt;“Aku lupa memberikan ini padamu.” Katanya sedikit malu, lalu pergi setelah meninggalkan surat itu.&lt;br /&gt;Aku membukanya dan menemukan sehelai kartu jingga ramah bertuliskan “Hailie Hope” di atas kalimat lain yang tak akan pernah aku lupakan. Aku tak bisa berhenti membacanya, tanpa banyak tahu mengapa mataku kembali basah. Tapi aku tahu satu hal, sudah cukup lama sejak air mata bahagia terakhir mengalir turun ke pipiku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#99ffff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#99ffff;"&gt;——oОo——&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All Characters described are merely fiction. Hailie Hope© created by Bam, 2004&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#99ffff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ccccff;"&gt;Komentar Penulis :&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ccccff;"&gt;Cerpen ini aku tulis tahun 2005, aku lebih suka menggambarkannya sebagai suatu bab dari jurnal hidupku. Walau cerita ini bukanlah kisah nyata, beberapa hal yang kualami memberikanku inspirasi. Pete, aku suka tokoh yang aneh-pemalu-tapi-mengesankan ini. Mirip seseorang yang dulu aku kenal. Hailie Hope, mungkin adalah karakter favoritku. aku menciptakan dia sekitar lebih dari setahun lalu, dan sampai sekarang aku masih berharap bisa bertemu seseorang yang seperti dia. Cerita ini berlatar di tahun 2018-2019. Yah, karena hidup adalah masalah bagaimana kita menjalani waktu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color:#ccccff;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="color:#ccccff;"&gt;Bam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22545138-114068865925251632?l=leavedstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://leavedstory.blogspot.com/feeds/114068865925251632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22545138&amp;postID=114068865925251632' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/114068865925251632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/114068865925251632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://leavedstory.blogspot.com/2006/02/story-0.html' title='▫▪▫ Story 0 ▪▫▪'/><author><name>Soliloquist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10187976455571298101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_uoAFuqGlVvg/SXm21Yss2jI/AAAAAAAAAEE/BjlsPN2WaZs/S220/IMG_0162.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-22545138.post-114008700453862578</id><published>2006-02-16T02:41:00.000-08:00</published><updated>2007-04-11T21:18:14.296-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Other'/><title type='text'>My First Story.</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;strong&gt;Welcome to el_leaved's story-blog! This is the premier post. Enjoy!&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:130%;"&gt;Story 1&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Di atas Metro Mini.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak ingat lagi apa yang kurasakan saat ini, kupikir aku akan duduk di deretan paling belakang. Aku gerah. Panas. Tak pernah aku merasa sepanas ini di sore hari di Jakarta. Sejak dulu aku pikir Jakarta tidak lebih panas dari kota lain, tapi ternyata aku salah. Aku juga berkeringat, capek, dan ngantuk. Hanya berharap aku lebih cepat sampai ke rumah dan metro mini tua rongsok ini segera bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk di barisan kedua belakang, di pinggir dekat jendela terbuka. Ah, setidaknya aku bisa mendapat sedikit angin sejuk sampai si supir memutuskan untuk mengakhiri penantian penumpang di terminal tersayangnya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metro belum lagi bergerak. Aku mulai bertambah ngantuk. Ada orang kasar di luar yang berseru-seru kata Grogol dengan logat Batak yang kental. Ada juga suara lain di kepalaku yang juga terasa kasar. Ia memaki-maki diriku. Nah, padahal aku tadi sudah janji untuk tidak, tidak akan berpikir tentang ini lagi selama aku di perjalanan. Berpikir tentang dia, tentang betapa tidak adilnya hidup ini bagiku, tentang apa yang menungguku di depan dan kapan saatnya tiba aku akan bertemu dengan gadis idamanku, yang benar-benar mengerti dan peduli padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, bukankah itu harapan setiap orang yang kesepian? Setiap remaja tanggung yang belum pernah mengecap bagaimana rasanya cinta di dunia nyata? Apa yang aku pikirkan, akulah orang itu, akulah remaja tanggung yang belum pernah mengecap bagaimana rasanya cinta di dunia nyata. Kan sudah kuperingatkan untuk tidak berpikir tentang ini? Aku tahu aku akan kembali bersikap serba pesimis lagi, kalau sudah mengenai cewek. Aku lumayan banyak mengenal cewek, namun dari semua yang pernah aku taksir, tidak ada yang pernah naksir balik. Lama-lama aku bisa mati bosan karena hidup yang penuh kerutinan menyedihkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang cewek masuk ke dalam metro mini. Sepatunya mengeluarkan bunyi setiap kali dia melangkah, seakan memastikan dia mendapat perhatian semua penumpang saat dia berjalan naik mendekatiku. Dia seorang cewek cantik yang tidak kukenal. Dandanannya mengagumkan dan aku bisa mencium harum parfum yang dipakainya. Khas padang rumput di musim semi. Dia mengambil tempat duduk di belakangku, baris paling jauh, sehingga semua orang tidak bisa lagi melihatnya. Aku juga sulit mengecek dia lebih jauh tanpa menoleh memandangnya langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kemudian ada seorang bapak masuk dan duduk di samping cewek cantik itu, akhirnya metro bergerak juga. Kelegaan membanjiriku, disusul rasa kantuk yang makin jadi. Mencoba tidak memikirkan cewek cantik barusan, aku merebahkan kepalaku di kaca jendela disebelahku. Bukannya bertambah nyaman, gerakan metro yang mulai ngebut itu membuat kepalaku terantuk berkali-kali, ditambah seruan kondektur yang semakin menjadi-jadi, rasanya sulit bagiku untuk bisa tidur dengan nyaman. Tapi di sela semua itu, aku bisa mendengar bisikan seorang lelaki yang asalnya tepat dibelakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“... patuh dan tak bersuara, semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu terluka.” Mataku yang terpejam dalam sekejap terbuka. Aku dengar apa yang aku dengar. Dan hanya ada dua orang di belakangku, dan hanya ada satu lelaki disana. Meskipun demikian aku tidak yakin apa yang terjadi adalah apa yang aku sangka, sampai aku mendengar desah gadis cantik itu yang jelas-jelas bernada takut. Ya ampun, kurasa dia sedang dirampok... aku tidak berani menoleh ke belakang, tidak mau membuat mereka tahu kalau aku mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pura-pura masih merebahkan kepalaku, aku mendengarkan dengan tajam, mencari celah diantara suara mesin yang berderum dan suara kondektur yang bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pelan-pelan keluarkan dompet loe, kita tidak mau ada yang terluka.” Suara bapak itu terdengar hanya berupa bisikan, sedikit gugup tapi pelan dan jelas, seakan ingin memastikan wanita itu tidak berbuat macam-macam. Aku tidak mendengar si gadis bersuara. Tapi pasti dia sedang ketakutan sekali, disamping menyesal karena sudah naik di metro yang salah dan tempat duduk yang salah pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada suara selama beberapa saat. Sepertinya si gadis sedang mengeluarkan isi dompetnya pada orang asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya ini?” aku mencoba menekankan telingaku lebih ke belakang, mencoba meraih gelombang suara yang dengan marah dibisikkan lelaki itu. “Mana Handphone loe?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si gadis sepertinya tidak bisa berbuat apa-apa selain memberinya apa yang dia mau. Aku bisa merasakan degupan jantungku yang sangat kuat sehingga takut mereka dapat mendengarnya. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Tampaknya tidak ada orang lain yang menyadari kejadian ini selain aku. Bagaimana jika aku teriak RAMPOK, apakah semua orang akan peduli dan cepat beraksi ataukah justru akan membuat si gadis terluka karena si perampok terkejut? Tapi aku tidak mau hanya berdiam diri saja, mendengar dan menyaksikan si gadis yang ketakutan. Mendadak semua rasa kantuk dan beban pikiranku menguap tanpa bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan aku merogoh sakuku dan mengeluarkan sebuah cermin kecil yang tertempel di belakang handphoneku. Aku mencoba menggunakannya untuk melihat apa yang sedang terjadi di belakangku. Agak susah karena selalu terhalang sandaran kursi dan aku takut untuk bergerak terlalu banyak. Tapi akhirnya aku melihat sebilah pisau kecil yang dipegang lelaki itu dengan tangannya yang sedikit gemetaran. Dia tidak tampak begitu cocok dan yakin jadi perampok, tapi tetap saja pisau itu teracung dengan maksud mengancam ke pinggang si gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeser cerminku supaya bisa menangkap wajah si gadis, tapi mukanya dihadang oleh sandaran kursi di sampingku. Jadinya aku melihat muka orang yang duduk disampingnya. Dia lelaki berumur empat puluh tahunan yang lusuh, kumis dan jenggutnya tidak lebat tapi cukup banyak untuk menghitamkan sebagian wajahnya. Ekspresinya tampak gugup dan berkeringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba lelaki itu menoleh dan matanya tepat menatap cerminku dan terpantul ke mataku. Selama setengah detik kami berpandangan dan kemudian aku menarik cepat cermin itu sehingga kontak mata kami terputus. Degup jantungku semakin melaju kencang. Aku berusaha menoleh ke pemandangan luar dan berharap bapak itu tidak menangkap pandanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu harus bagaimana, apakah akan teriak atau hanya diam saja. Tapi sudah beberapa detik berlalu dan tidak ada yang terjadi. Padahal aku tadi yakin sekali kalau kami sudah berpandangan sejenak, cukup untuk merusak rencana rampoknya yang diam-diam. Dia seharusnya sudah berbuat sesuatu, ataukah dia merencanakan sesuatu untuk dilakukan pada diriku? Dan apakah dia akan melukai si gadis itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bahkan tidak sempat untuk berpikir harus bagaimana, ketika tiba-tiba suara rem terdengar setelah ketukan tangan seseorang di belakangku. Si perampok mau turun dan lari, aku yakin itu. Dia sudah tahu kalau aku sudah tahu apa yang dia lakukan, dan dia mungkin berpikir aku terlalu pengecut untuk memberi tahu orang lain, seperti si gadis yang ketakutan itu, dan dia tidak mau mengambil resiko. Jika aku mau teriak, sekaranglah saatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa terkejutnya aku ternyata si gadis lah yang memberi isyarat berhenti. Dia tampak takut sekali sampai berlari menuju pintu keluar bus. Menabrak beberapa orang di depannya dan menyirami mereka dengan bau parfum yang harum, dia mendadak berteriak JAMBRET!!! dan menunjuk si lelaki yang tadi duduk di sampingnya. Semua orang menoleh kaget pada bapak itu. Bahkan si sopir menghentikan metronya. Aku ikut menoleh dengan bingung dan melihat si lelaki yang duduk ketakutan dan mandi keringat. Mulutnya terbuka setengah lebar seakan menerima nasibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar tak mengerti. Semua ini tidak masuk akal. Mengapa si perampok begitu bodoh melepaskan korbannya dan meninggalkan dirinya tersudut seperti ini? Dan mengapa lelaki itu tidak bereaksi melihat aku tadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum aku sempat memikirkan kemungkinannya, si kondektur yang tadi berdiri kaget di dekat pintu tiba-tiba menyerbu maju hendak mengebuk bapak itu. Tapi tampaknya bapak itu tidak tahu apa yang dia lakukan ketika dia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bohong! Jangan biarkan perempuan itu lari! Tangkap dia!”&lt;br /&gt;BUK! BUK! Pukulan di muka menyusul perkataannya. Si kondektur yang main hakim sendiri rasanya tidak mendengar apa yang dia katakan. Tapi aku rasanya mulai curiga pada perempuan yang sudah tidak tampak batang hidungnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas-pukulan, tiga-sepakan, dan dua-belas-menit-penjelasan kemudian, semua orang akhirnya selesai mendengar bapak itu bercerita bagaimana gadis itu dan sekumpulan ‘teman’nya merampok rumahnya, menyandera istri anaknya, memaksanya mengeluarkan isi tabungannya di bank, dan menyuruhnya berpura-pura menjadi perampok di metro mini supaya si gadis bisa lolos dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku turun di terminal Grogol untuk melanjutkan naik metro mini yang akan mengantarku sampai depan rumahku. Satu perjalanan baru lagi. Hanya saja, kali ini aku tidak akan memulainya dengan memikirkan tentang gadis idamanku yang tidak kunjung tiba di dalam hidupku. Tidak kali ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;--―o0OOO0o―-- &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Komentar penulis :&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffff99;"&gt;Cerpen ini sangat unik. Aku ingat menulisnya pada tengah malam saat tiba-tiba ide tentang double robbery muncul di kepalaku. Disisi lain, aku suka karena cerita ini diceritakan dari sudut pandang orang pertama yang sebenarnya adalah rekaman tertulis dari pikiran-pikirannya dalam satu kejadian ini. Cerpen ini juga suatu metafora yang bagus tentang kehidupan, diibaratkan hidup itu adalah satu perjalanan metro mini, kesialan kadang terjadi, mengambil keputusan kadang tidaklah selalu benar, dan obsesi kadang haruslah dilepaskan, yang sesungguhnya merupakan inti cerita ini, bagaimana si tokoh utama yang selalu menantikan gadis idamannya, lalu mendapat kesan negatif dari seorang perampok wanita sehingga kemudian mengubah prinsipnya terhadap wanita. Hidup itupun unik dan tidak dapat disangka, jadi nikmatilah!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;Bam.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/22545138-114008700453862578?l=leavedstory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://leavedstory.blogspot.com/feeds/114008700453862578/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=22545138&amp;postID=114008700453862578' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/114008700453862578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/22545138/posts/default/114008700453862578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://leavedstory.blogspot.com/2006/02/my-first-story.html' title='My First Story.'/><author><name>Soliloquist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10187976455571298101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_uoAFuqGlVvg/SXm21Yss2jI/AAAAAAAAAEE/BjlsPN2WaZs/S220/IMG_0162.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
